Aksi MST di 8 negara Bagian untuk Pembaruan Agraria dan Melawan Krisis Ekonomi

Dalam beberapa minggu ke depan direncanakan akan dilakukan mobilisasi di seluruh Brazil sebagai peringatan atas terbunuhnya 19 orang buruh tak bertanah 13 tahun yang lalu dalam peristiwa yang dikenal sebagai Pembantaian Eldorado de Carajás.

Hari Perjuangan Nasional yang diadakan sebagai peringatan terhadap tewasnta 19 orang buruh tak bertanah 13 tahun yang lalu dalam pembantaian Eldorado de Carajás (PA) telah menggerakan petani-petani dari 8 negara bagian dan District Federal sejak awal bulan. Mobilisasi ni untuk mendesak pelaksanaan pembaruan agrarian dan melawan agribisnis. Hari Rabu ini (10/4) dilaksanakanlah sejumlah okupasi lahan, dan aksi di Rio Grande do Sul, Pernambuco, Mato Grosso, Pará, Bahia dan Distrik Federal. Sejak minggu lalu telah ada pula sejumah aksi di São Paulo, Minas Gerais dan Roraima.

“Krisis ekonomi telah menunjukkan bahwa agribisnis tidak mampu untuk meningkatkan kesejahteraan hidup para buruh di pedesaan. Kami mendukung pelaksanaan pembaruan agraria dan program agro-industri di pemukiman-pemukiman untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pembangunan di pedesaan,” kata salah seorang anggota koordinasi MST Marina dos Santos.

Sejak November 2008 hingga Februari 2009 terdapat sekitar 747,515 orang kehilangan pekerjaan di negeri ini. Seluruh sector agribisnis kehilangan 268,888 pekerjaan (di sektor pertanian terdapat sekitar 145,631 kehilangan lapangan kerja, di sector pengolahan makanan dan minuman terdapat 123,257 kehilangan pekerjaan), yaitu 35% dari total pekerjaan di pertanian (data dari Dieese). Data ini menunjukkan bahsa banyak dari pekerjaan-pekerjaan agribisnis dihapuskan, walaupun terdapat kebijakan kredit pedesaan dari pemerintah federal.

Tahun lalu, BNDES (Brazilian Developmen Bank) telah memberikan pinjaman lebih dari 17,2 miliar reais kepada perusahaan-perusahaan agribisnis. Bank Brazil telah menginvestasikan lebih dari 10 miliar $R hanya untuk 20 perusahaan agribisnis. Sementara itu PRONAF (Program Nasioal Keluarga Petani) diramalkan hanya mengeluarkan 7,2 miliar $R untuk tahun 2008/2009, bagi 1,2 juta keluarga petani kecil.

“Pemerintah federal membiaya pinjamannya melalui pengangguran di agribisnis. Kami membutuhkan kebijakan kredit pedesaan baru, dengan penciptaan batasan khusus untuk para pemukim (settlers) dan pengurangan kerumitan birokrasi kredit bagi petani kecil. Kami percaya bahwa semua perusahaan agribisnis yang mengambil sumber daya publik dan telah memecat karyawannya seharusnya diusir keluar dari areal mereka dan bahwa semua keluarga buruh-buruh perkebunan yang kehilangan pekerjaan mereka karena krisis seharusnya ditempatkan di wilayah tersebut,” menurut Marina.

Di Rio Grande do Sul, sebanyak 200 keluarga mengokupasi pertanian São João D’Armada, di munisipal Canguçu. Pertanian ini berada pada areal seluas 1,130 are dan dianggap tidak produktif oleh INCRA (Institut Kolonisasi dan Pembaruan Agraria Nasional) pada 2007, namun tidak pernah digusur. Di São Luiz Gonzaga, sebanyak 300 buruh pedesaan memulai aksi menuju latifundia (pertanian besar) dari sebuah kamp di jalan tol BR 285. Sebuah Perjanjian Penyesuaian (TAC) ditandatangni oleh INCRA untuk menetapkan areal tersebut menjadi areal pemukiman bagi 2000 keluarga buruh pedesaan pada akhir tahun, namun hanya 700 diantaranya yang benar-benar menempati tanah tersebut.

Di Pernambuco, pertanian Cristina yang terletak di Vitória de Santo Antão, daerah metropolis Recife, diokupasi oleh sekitar 100 keluarga. Area seluas 500 hektar ini tidak produktif dan menjadi milik dewan munisipal. Ini merupakan okupasi ketiga yang dilakukan pada Hari Perjuangan Nasional untuk mewujudkan pembaruan agrarian di Negara ini.

Kemarin (14/4), sekitar 100 keluarha mengokupasi pertanian di Pernambuco, 1000 hektar di munisipal of Inajá, di dalam negara bagian. Hari senin (13/4), keluarga tak bertanah mengokupasi Engenho General in São Lourenço da Mata, dimana mereka masih berkemah.

Di Mato Grosso, sebanyak 300 buruh memulai march untuk land reform, pekerjaan dan perlindungan alam. Mereka dating dari Jangada dan akan berjalan sejau 100 kilometer menuju Trevo do Lagarto di Varzea Grande, dimana mereka tiba pada hari Minggu (19/40. Pada hari Jumat (17/4) di Cuiabá, buruh tak bertanah akan meluncurkan “Pembatasan Kepemilikan Tanah: dalam Pembelaan terhadap Pembaruan Agraria dan Kedaulatan Pangan,” yang didorong oleh Majelis Populer. Di negara bagian ini ada sekitar 4 ribu keluarga di pemukiman, namun di banyak pemukiman-pemukiman ini bisa secara nyata dilihat penelantaran yang dilakukan pemerintah. Sekitar 3000 keluarga masih hidup dalam kondisi buruk beratapkan terpal hitam, tidur di sisi-sisi jalan di negara bagian Mato Grosso.

Di Pará, perjalanan dimulai dari camp pemuda di  Eldorado dos Carajás untuk mengenang peristiwa pembunuhan petani pada bulan April 1996 lalu. Lebih dari 500 pemuda dari seluruh wilayah Negara bagian mendiskusikan peran pemuda dalam masyarakat, mereka juga tergabung kedalam workshop , melakukan pertemuan dengan INCRA  dan membuat drama pembunuhan missal para petani tak bertanah. Di Belém, para pekerja di bagian utara dan timur laut  Belem terkonsentrasi di  Praça da Leitura, dimana sebuah monument yang bernama “Column of Infamy” berada. Monumen tersebut dibangun sebagai sebuah persembahan bagi para korban dari pembunahan massal yang dilakukan kepada para petani tak bertanah. Lebih dari  400 orang akan menghadiri kegiatan march dan aksi massa untuk melawan kriminalisasi gerakan social.

Di tingkat distrik federal, 300 keluarga anggota MST dan gerakan pekerja pedesaan (MATRA) menduduki lahan pertanian Engenho di Planaltina (DF). Para pekerja mengeluhkan bahwa  pemilik lahan telah melanggar undang –undnag perlindungan lingkungan atas penggunaan pestisida pada perluasan lahan tanaman kedelai yang terletak di wilayah yang dilindungi oleh UU tersebut. Para pekerja telah menyusun rencana diskusi untuk membicarakan isu yang akan dibicarakan dalam pertemuan dengan  perwakilan nasional INCRA, pejabat daerah dan IBAMA (badan perlindungan lingkungan nasional) pada tanggal 16 April nanti.

Rabu lalu, 200 orang memblokir  jalan BR-020 yang juga terletak di wilayah  Planaltina. DF, para petani tak bertanah mensyaratkan penempatan 1,800 keluarga yang ada di camp, pemberian bantuan teknis kepada  1,200 families yang sudah ditempatkan, investasi pendidikan, rehabilitasu pemukiman, dan restrukturisasi  pejabat wilayah INCRA, SR 28.

Di Bahia, 400 keluarga menduduki lahan pertanian di Camamu (Negara bagian selatan), untuk mengutuk sistem pertanian monokultur berskala luas di wilayah tersebut. Tiga tahun lalu, MST mengaplikasikan sebuah survey oleh INCRA, namun hingga saat ini belum ada hasilnya .
Sekitar 2 ribu petani menduduki kantor secretariat pertanian di Bahia sejak Senin  (13/04), Salvador, untuk mendesak pemerintah dalam memenuhi janjinya. Pada tahun 2007 lalu  pemerintah berjanji  untuk membangun 5000 rumah dan membangun jalan sepanjang 1200 km diwilayah pemukiman. Di Eunápolis, 800 keluarga masih menduduki   4,700 hektar tanah yang secara illegal digunakan oleh Veracel Cellulose untuk ditanami eucalyptus.  Hari Jum’at (17/04), perwakilan dari parlemen akan memperingati  25 tahun kelahiran MST.

Di Roraima, 70 keluarga dari MST, Jumat lalu (10/04), menduduki lahan pertanian Autarraia di kota  Bonfim, untuk meminta pembuatan proyek pemukiman dilahan tersebut dan mendesak  INCRA dalam pembanguan pemukiman lainnya di wilayah Negara bagian tersebut. Di Roraima, selama tiga tahun, INCRA tidak membangun pemukiman baru ataupun melakukan sesuatu terhadap pemukiman yang sudah ada. Hingga saat ini tidak ada  jalan, rumah, energi, bantuan modal, bantuan alat produksi dan tunjangan terpisah lainnya diwilayah yang sudah sudah dibebaskan oleh IBAMA tersebut.

Di Minas Gerais, sekitar  900 keluarga bergabung untuk menduduki Danda, di Belo Horizonte pada Kamis (09/04). Aksi ini dilakukan bersama dengan Forum of Neighborhood Housing, Popular Brigades dan  MST. 900 keluarga petani tersebut mengokupasi  10% tanah melebihi  40 hektar yang seharusnya dimiliki oleh Construtora Modelo. Para petani tersebut menyampaikan bahwa tanah terlantar tersebut terletak di kawasan Céu Azul, dan telah berhutang pajak IPTU (Land and Urban Territory Tax)  sejumlah  R$18 jutan.

Di Sao Paulo, sekitar 120 keluarga petani tak bertanah menduduki Fazenda Nossa Senhora Aparecida, di wilayah  Agudos (dekat dengan lahan okupasi di Bauru) pada 06 april lalu.  Para petani tak bertanah meminta alokasi lahan yang termasuk kedalam objek pembaruan agraria seluas 700 hektar  seharusnya diberikan untuk rakyat.

ARTIKEL TERKAIT
Misi Politik Kedaulatan Pangan Indonesia
Parman: “Saya selalu sosialisasikan SPI dimana pun saya be...
Konsolidasi Menghempang FTA Uni Eropa-Indonesia
Hentikan Korporatisasi Pertanian,  Tanah dan Pangan untuk Rakyat Hentikan Korporatisasi Pertanian, Tanah dan Pangan untuk Ra...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU