Aksi puluhan ribu petani Haiti tolak Monsanto

HINCHE-HAITI. Puluhan ribu petani Haiti melakukan aksi menolak kehadiran Monsanto di Haiti (04/06). Aksi sepanjang tujuh kilometer ini diikuti oleh beberapa organisasi dan gerakan sosial pedesaan di Haiti yang menuntut perkembangan pertanian di Haiti berdasarkan kedaulatan pangan dan bibit, serta menolak pertanian yang berbasiskan industri.

Penolakan terhadap Monsanto ini didasarkan kepada kebijakan mereka yang telah mengklaim mengirimkan sekitar 60 ton bibit jagung genetik dan sayuran ke Haiti, dan 400 ton lagi akan dibagikan selama tahun 2010 ini kepada 10 ribu petani di Haiti. Selanjutnya melalui proyek Winner yang bernilai 127 juta Dollar AS, USAID (Lembaga Amerika Serikat untuk Pembangunan Internasional) juga akan mendistribusikan benih ke Haiti. Berdasarkan keterangan pihak Monsanto, keputusan untuk melakukan donasi ke Haiti ini diputuskan pada saat Forum Ekonomi Dunia, di Davos-Swiss yang lalu. Namun yang tidak jelas disini adalah mengenai keterlibatan masyarakat Haiti sendiri dalam forum tersebut.

Koordinator Papaye Peasant Movement (MPP), Chavannes Jean-Baptiste menyebutkan bahwa akibat gempa yang melanda Haiti, lebih dari 800 ribu pengungsi yang umumnya dari daerah perkotaan pindah ke daerah pedesaan. “Saat ini terjadi kekurangan benih di Haiti, karena banyak keluarga petani di pedesaan yang menggunakan bibit jagung mereka untuk membantu memberI makan para pengungsi tersebut” ungkap pria yang juga anggota komite internasional La Via Campesina (Organisasi Petani Internasional) ini.

Jean Baptiste juga mengungkapkan bahwa saat ini banyak masyarakat Haiti yang percaya bahwa bantuan benih dari Monsanto merupakan strategi global Amerika Serikat untuk melakukan imperialisme politik dan ekonomi di Haiti.

“Pemerintah Haiti saat ini terkesan menggunakan dalih gempa bumi untuk menjual negara ini kepada para perusahaan transnasional yang hanya memikirkan keuntungan semata, bagi kami ini adalah bencana yang lebih besar daripada gempa bumi itu sendiri” ungkapnya.

Paulo Almeida, seorang anggota MST (Organisasi petani terbesar di Brazil-anggota La Via Campesina) yang telah berada di Haiti sejak 2009 lalu menyebutkan bahwa Monsanto sebelumnya juga berusaha “memaksakan” para petani di Brazil untuk menanam kacang kedelai Roundup Ready secara illegal.

“Mereka (Monsanto) ingin menerapkan teknologi revolusi hijau yang sangat tidak mungkin diterapkan di Haiti ini. Mustahil kita bisa bertahan hidup hanya dengan mengandalkan pertanian Monokultur” ungkap Paulo.

Bibit jagung yang didonasikan oleh Monsanto sendiri disinyalir mengandung fungisida Maxim XO, dan bibit tomat calypso milik mereka juga mengadung thiram, sejenis bahan kimia. Pemerintah Amerika Serikat sendiri mewajibkan para petani atau pekerja pertaniannya untuk memakai pakaian pelindung khusus apabila ingin menggunakan bibit-bibit tersebut. Namun Monsanto sama sekali tidak mensosialisasikan bahaya dari bahan kimia ini ke masyarakat Haiti, ataupun juga tidak menawarkan pakaian pelindung khusus tersebut.

Doudou Pierre Festil, anggota The Peasant Movement of the Congress of Papaye menyebutkan bahwa masuknya Monsanto ke Haiti akan menghilangkan peran petani di Haiti. “Jika bibit produksi Monsanto masuk kemari (Haiti), bibit milik petani akan musnah. Bibit milik Monsanto juga akan menyebabkan masalah kesehatan dan lingkungan. Oleh karena itu merupakan kewajiban kita, para petani Haiti untuk berjuang menolak proyek ini diterapkan di Haiti” ungkap Doudou yang juga koordinator Jaringan Nasional Haiti untuk Ketahanan dan Kedaulatan Pangan.

“Jika Amerika Serikat memang ingin membantu masyarakat Haiti, mereka seharusnya membantu dengan membangun kedaulatan pangan dan pertanian yang berkelanjutan berdasarkan bibit dan benih lokal dan memberikan akses kepada lahan pertanian” ungkap Dena Hoff, seorang petani organik asal Montana yang juga anggota Komite Internasional La Via Campesina.

Untungnya, para petani Haiti memiliki sejarah panjang dalam hal perlawanan dan perjuangan. Haiti merupakan koloni pertama di belahan barat yang sukses melawan perbudakan sehingga mampu merdeka pada tahun 1804.

“Kami akan mempertahankan pertanian oleh para petani kecil, kami terus memperjuangkan kedaulatan pangan, dan kami akan menjaga dan mempertahankan keasrian lingkungan Haiti hingga tetes darah terakhir kami. Kami akan berkomitmen untuk bersatu melawan pihak-pihak yang anti petani kecil seperti kami. Kami akan berusaha membangun sebuah negara yang memperjuangkan hak asasi petaninya, negara yang mendorong warganya untuk melindungi lingkungannya baik itu tanah ataupun hutan” teriak para petani yang melakukan aksi tersebut.

Sebagai simbolisasi menolak Monsanto, Jean Baptiste yang berorasi di panggung Plaza Péralte Charlemagne (diambil dari nama seorang pemimpin kelahiran Hinche-Haiti yang berjuang melawan penjajahan Amerika Serikat di Haiti pada 1915-1934) membakar bibit-bibit dari Monsanto, sementara peserta aksi yang lain membagikan bibit jagung asli Haiti ke puluhan ribu peserta aksi yang histeris.

“Kita harus berjuang untuk bibit lokal kita, Kita harus  mempertahankan kedaulatan pangan negeri kita ini” teriak Jean Baptiste.

ARTIKEL TERKAIT
Dua Petani SPI Ditahan Paksa
Selamat Hari Tani Nasional
Musyawah Cabang DPC SPI Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggar...
Rangkaian Peringatan Hari Tani Nasional Serikat Petani Indonesia (SPI) Rangkaian Peringatan Hari Tani Nasional Serikat Petani Indon...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU