Parman: “Saya selalu sosialisasikan SPI dimana pun saya berada”

LAMPUNG. Suparman Singodiharjo nama pria ini. Teman-temannya biasa memanggil Parman. Pria kelahiran Blitar, 14 Juli 1949 ini, adalah seorang pejuang tani yang giat memperjuangkan nasib petani. Parman berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya adalah buruh serabutan sedangkan ibunya bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik rokok.

Di usianya yang ke-17, Parman sudah meninggalkan kampung halamannya menuju daratan Sumatera, tepatnya di daerah Lampung. Tujuan Parman adalah bertani karena di tanah kelahirannya dia tidak memiliki lahan sama sekali. Namun dia hanya mampu bertahan selama dua tahun karena pada saat itu sedang  gencarnya operasi pembasmian PKI (Partai Komunis Indonesia). Akhirnya Parman pun kembali ke tanah Blitar-Jawa Timur.

Pada 1969, Parman mencoba kembali peruntungannya ke Lampung. Namun kali ini dia mengajak orang tuanya untuk ikut bertani di Lampung. Karena tidak mempunyai lahan, Parman pun menjadi buruh tani dan petani penggarap selama dua tahun. Dengan kerja kerasnya, dia mampu menyisihkan sedikit penghasilannya sehingga mampu membeli sebidang tanah.

“Waktu itu saya berfikir harus punya tanah, dengan tanah maka kebutuhan dapur akan terpenuhi, saya juga berprinsip bahwa petani itu jangan sampai membeli pangan, petani harus tercukupi pangannya dari hasil produksi lahan miliknya” ungkap pria dengan enam orang anak ini.

“Alhamdulillah, saat ini saya sudah punya lahan seluas dua hektare. 0.75 hektare saya tanami padi, sisanya saya jadikan ladang” tambahnya.

Sejak muda, kakek dari lima orang cucu ini sudah cukup aktif berorganisasi. “dulu saya sudah aktif di organisasi Marhaen dan Muhammadiyah, saya juga sempat aktif di KPPI (Kesatuann Aksi Pelajar Pemuda Indonesia)” imbuhnya.

Parman mulai bergabung dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk melakukan pendampingan-pendampingan terhadap petani. Parman juga sempat aktif dalam Poktan (kelompok tani) buatan Pemerintah dan mendapatkan sertifikat petani pemandu.

Selanjutnya Parman yang telah menjadi anggota SPL (Serikat Petani Lampung) juga memilki andil penting dalam mendirikan Serikat Petani Indonesia (SPI)-dulu Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI)- pada 1998.

Parman yang pernah menjabat sebagai Ketua Serikat Petani Lampung ini memiliki prinsip bahwa di dunia ini tidak ada hal yang tak mungkin.

“Kuncinya ada tiga, yaitu kemauan yang tinggi, usaha yang maksimal, dan doa; tanpa ketiga hal ini jangan harap kita mampu menggapai impian kita” kata Parman dengan bersemangat.

Anggota Majelis Nasional Petani (MNP) SPI untuk wilayah Lampung ini mengatakan bahwa dia terus mensosialisasikan SPI dimana pun dia berada.

“Pada setiap pertemuan dengan petani baik itu formal ataupun tidak, saya selalu mensosialisasikan SPI” Ujarnya.

Menurut Parman konsep perjuangan SPI inilah yang paling ideal untuk mencapai kedaulatan bagi masyarakat tani di Indonesia.

“SPI yakin dan percaya bahwa salah satu syarat utama tercapainya kedaulatan pangan adalah penguasaan lahan oleh petani, bukan oleh korporatisasi bisnis yang sedang merajalela saat ini; food estate itu salah satu contoh keberpihakan Pemerintah kepada perusahaan-perusahaan besar untuk menguasai lahan pertanian” jelas Parman.

ARTIKEL TERKAIT
Harga Pangan Naik, Segera Bentuk Badan Pangan Nasional
Setelah 72 Tahun Indonesia Merdeka, Hidup di Perdesaan Tidak...
Pidato Ketua Umum SPI di forum sidang umum PBB
20 Tahun SPI: Ucapan Selamat dari Rektor IPB dan Para Akadem...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU