Seruan Aksi 16 Oktober | Hari Aksi Internasional untuk Kedaulatan Pangan Rakyat dan Melawan Korporasi Transnasional

Poster oleh viacampesina.org diterjemahkan oleh SPI

Akhiri Jebakan Utang! Kedaulatan Pangan dengan Kedaulatan Keuangan, SEKARANG!

Setiap tahun pada 16 Oktober, La Via Campesina memperingati Hari Aksi Internasional untuk Kedaulatan Pangan Rakyat dan Melawan Korporasi Transnasional. Tahun ini, ketika kami menyerukan kepada organisasi anggota dan para sekutu kami untuk melakukan mobilisasi, kami secara khusus meminta perhatian terhadap peran merusak yang dimainkan oleh lembaga-lembaga keuangan global, termasuk Bank Dunia (WB) dan Dana Moneter Internasional/International Monetary Fund (IMF), dalam melemahkan demokrasi dan kedaulatan pangan di wilayah-wilayah kita, serta mendorong terbentuknya struktur neo-kolonial yang menundukkan kita.

Selama beberapa dekade, program penyesuaian struktural (Structural Adjustment Programmes/SAPs) dan langkah-langkah penghematan yang diberlakukan oleh Bank Dunia dan IMF telah menjebak negara-negara di seluruh dunia dalam siklus utang yang terus berulang. Sebuah laporan terbaru dari Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) mengungkapkan bahwa setengah dari populasi dunia (sekitar 3,3 miliar orang) hidup di negara-negara yang menghabiskan lebih banyak untuk pembayaran bunga utang daripada untuk kesehatan atau pendidikan. Menurut laporan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) Badan Khusus PBB yang menangani isu perdagangan dan pembangunan, yang diterbitkan pada tahun 2023, sekitar 3,3 miliar orang hidup di negara-negara yang membelanjakan lebih banyak untuk pembayaran bunga utang daripada untuk kesehatan atau pendidikan. Data tersebut mengacu pada laporan A World of Debt: A Growing Burden to Global Prosperity yang diterbitkan oleh UN Global Crisis Response Group dan UNCTAD pada 12 Juli 2023. Angka tersebut kembali ditegaskan dalam laporan UNCTAD tahun 2024, A World of Debt 2024, dengan menggunakan data yang diperbarui untuk periode 2020–2022.Utang keuangan telah berubah menjadi mekanisme privat untuk perampasan dan cara untuk mengelola kemiskinan rakyat, yang secara langsung berdampak pada rumah tangga dan kerja-kerja komunitas.

Setiap paket yang disebut sebagai “paket penyelamatan” atau “bantuan” yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga ini kepada negara-negara kemudian datang dengan berbagai persyaratan. Program-program tersebut biasanya mensyaratkan liberalisasi perdagangan dan investasi, privatisasi, serta deregulasi. Sebagai imbalan atas pinjaman untuk menjaga perekonomian
nasional tetap berjalan (dan mempertahankan akses terhadap pasar modal global), Bank Dunia dan IMF menuntut pemotongan drastis terhadap dukungan publik untuk barang dan jasa penting.

Program-program mereka juga berupaya membongkar perlindungan bagi petani, produsen pangan skala kecil, masyarakat adat, masyarakat perdesaan, buruh, dan lingkungan, sekaligus memberlakukan reformasi berorientasi pasar secara luas terhadap kebijakan domestik dan regulasi pasar. Reformasi tersebut mencakup model reforma agraria berbasis pasar yang memindahkan sumber daya milik bersama (termasuk benih, tanah, air, dan wilayah) ke tangan korporasi, dan menempatkannya untuk melayani keuntungan serta pasar bebas. Negara-negara di Afrika, Asia, Amerika Latin, Karibia, Pasifik, dan Eropa telah dipaksa untuk menyerahkan otonomi yang signifikan dalam pembuatan kebijakan kepada lembaga-lembaga keuangan internasional, termasuk IMF, Bank Dunia, dan Asian Development Bank (ADB).

Di luar krisis utang luar negeri dan hilangnya otonomi keuangan yang dihadapi negara-negara kita, model ekonomi neoliberal yang dipromosikan oleh lembaga-lembaga tersebut juga telah memaksa negara untuk menarik diri dari tugas utamanya dalam melayani rakyat. Di seluruh dunia, penarikan diri negara dari layanan publik dan program kesejahteraan sosial yang penting telah menyebabkan rumah tangga petani juga terbebani oleh tingkat utang rumah tangga yang tinggi. Harga hasil produksi yang stagnan, kurangnya dukungan pendapatan, penurunan upah, serta kenaikan drastis biaya produksi dan biaya hidup telah membuat keluarga kelas pekerja dan masyarakat perdesaan semakin rentan. Masyarakat tidak mampu menolak pekerjaan yang sangat tidak pasti, upah kemiskinan, atau kondisi kerja yang buruk karena kebutuhan mendesak untuk membayar cicilan bulanan menghilangkan kemampuan mereka untuk melakukan pemogokan, protes, atau perlawanan. Banyak yang terpaksa meminjam dari pemberi pinjaman swasta dan lembaga keuangan mikro yang mengenakan suku bunga sangat tinggi, hanya untuk bertahan hidup hingga akhir bulan dan memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, obat-obatan, sewa, dan layanan publik. Ketika peminjam tidak mampu membayar kembali, mereka sering menghadapi intimidasi, bahkan melakukan bunuh diri. Anggota LVC di beberapa negara telah mendokumentasikan kasus-kasus memprihatinkan mengenai keluarga petani, khususnya perempuan dan anak muda yang mengalami intimidasi dari agen penagihan pinjaman.

Terdapat hubungan langsung antara keuangan, hilangnya otonomi, dan kekerasan berbasis gender dalam rumah tangga. Utang rumah tangga mengikat perempuan dan orang-orang dengan keberagaman gender dalam situasi subordinasi dan membuat mereka tidak mungkin keluar dari siklus kekerasan, karena seorang perempuan yang terlilit utang tidak memiliki sarana material minimum untuk meninggalkan rumah tangga yang penuh kekerasan dan terpaksa bergantung pada jaringan keluarga atau pasangan untuk terus memenuhi pembayaran utang.

Program penyesuaian struktural dan kebijakan neoliberal yang dipromosikan oleh Bank Dunia dan IMF juga telah membuka jalan bagi finansialisasi sistem pangan, perampasan tanah dan wilayah, serta konsentrasi korporasi. Meningkatnya keterlibatan entitas keuangan seperti bank komersial, dana kekayaan negara, dana investasi swasta, dan perusahaan manajemen aset dalam sistem pangan telah memungkinkan korporasi memperkuat kekuatan pasar mereka melalui merger dan akuisisi. Akibatnya, saat ini sektor benih global, pestisida, mesin pertanian, farmasi hewan, dan genetika babi memenuhi definisi oligopoli, dengan empat perusahaan mengendalikan lebih dari 40% dari masing-masing pasar tersebut.

Di La Via Campesina, kita tegas: sistem ini tidak bisa terus berlanjut. Kita harus membangun perlawanan dari akar rumput terhadap ancaman keuangan global.

MOBILISASI RAKYAT!
Tahun ini, saat kita memperingati Hari Aksi Internasional pada 16 Oktober, Bank Dunia dan IMF akan mengadakan pertemuan tahunan di Thailand. La Via Campesina menyerukan kepada seluruh organisasi anggota di seluruh dunia, termasuk yang berada di Thailand, untuk melakukan mobilisasi dan menyuarakan penolakan terhadap kebijakan neoliberal lembaga-lembaga tersebut. Kami mengajak untuk menggaungkan tuntutan berikut, demi membangun kedaulatan pangan melalui kedaulatan finansial.

  • Hapuskan Utang: 60% negara berpenghasilan rendah dan 30% negara berpenghasilan menengah menghadapi krisis utang, yang membatasi kemampuan negara tersebut untuk berinvestasi dalam kedaulatan pangan dan layanan sosial, serta memperburuk kelaparan dan ketimpangan. Penghapusan utang menjadi kunci untuk memutus siklus ini.
  • Lakukan Audit Publik atas Utang Luar Negeri: Di banyak negara, petani dan buruh tidak mengetahui mengapa utang luar negeri dibuat, bagaimana penggunaannya, dan siapa yang diuntungkan. Organisasi anggota harus menuntut audit publik atas utang luar negeri negaranya dan mendorong pertanggungjawaban atas kebijakan yang merugikan rakyat.
  • Hapus Subsidi Korporasi, Alihkan ke Agroekologi: Arahkan kembali pendanaan pangan, pertanian, dan iklim—baik nasional maupun multilateral—dari sistem pangan industri dan korporasi menuju kedaulatan pangan dan agroekologi. Hentikan subsidi besar yang diterima agribisnis dan alihkan untuk membangun kedaulatan pangan.
  • Tingkatkan Penerimaan Negara melalui Pajak Korporasi dan Pajak Kekayaan: Pendapatan publik dapat ditingkatkan melalui pajak progresif, termasuk pajak yang layak atas keuntungan korporasi serta pajak kekayaan bagi kelompok super kaya.
  • Demokratisasi Bank Sentral: Bank sentral harus lebih transparan dan akuntabel, serta wajib membela kepentingan rakyat, bukan melayani kepentingan modal besar.
  • Tempatkan Rakyat dan Planet sebagai Pusat Kebijakan Ekonomi: Reformasi ekonomi tidak boleh hanya diukur dari neraca anggaran dan indikator pasar, tetapi juga dari dampaknya terhadap kelaparan, kehidupan pedesaan, ketahanan ekologi, ketimpangan, dan kontrol rakyat atas sistem pangan.

Kami menyerukan kepada seluruh organisasi anggota, sekutu, dan pendukung untuk menyuarakan tuntutan ini dalam berbagai aksi, serta membongkar dan mengecam bagaimana lembaga keuangan internasional telah merusak kedaulatan pangan dan layanan publik di wilayah masing-masing.

  • Selenggarakan aksi massa, seminar publik, dan konferensi pers.
  • Sampaikan kesaksian tentang dampak kebijakan neoliberal, tidak hanya terhadap petani dan masyarakat pedesaan, tetapi juga terhadap akses masyarakat pada pangan sehat dan bergizi yang diproduksi secara agroekologi.
  • Tambahkan kegiatan Anda ke peta global: https://padlet.com/lvcweb/global-action-days-against-the-wb-imf-and-wto-10sept26-16oct-6h1fjx7aabet98v8
  • Kirimkan video testimoni ke email communications@viacampesina.org menggunakan tagar #16Oct26 #FeedThePeopleNotTheDebts.
  • Unduh materi komunikasi: https://comms.viacampesina.org/s/LFmwm3kPRAz9fsK dan adaptasi poster resmi ke dalam bahasa lokal: https://www.canva.com/design/DAHWPoRiEYs/eZbC37lMCRLZH-c_aqJx9A/edit?utm_content=DAHWPoRiEYs&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton

Untuk Kedaulatan Pangan Rakyat Kita, Melawan Kebijakan IMF dan Bank Dunia!
Penuhi Pangan Rakyat, Putus Rantai Utang!

ARTIKEL TERKAIT
Catatan Aakhir Tahun SPI 2024: Reforma Agraria dan Kedaulata...
DPW SPI Yogyakarta Gelar Pendidikan Pengurus dan Konsolidasi...
SPI Sleman Hidupkan Kembali Pengetahuan Lokal Lewat Pendidik...
Melawan Blokade: Solidaritas Petani, Agroekologi, dan Kedaul...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU