
BOGOR. Serikat Petani Indonesia (SPI) memperingati Hari Tani Nasional (HTN) ke-66 dengan menggelar kegiatan secara hybrid yang dipusatkan di Pusdiklat Nasional SPI, Cijujung, Bogor, serta diikuti oleh anggota dari berbagai daerah melalui Zoom pada Kamis (24/9/2026). Kegiatan ini juga berlangsung serentak di sejumlah wilayah seperti Indramayu, Pandeglang, dan Sukabumi.
Peringatan HTN tahun ini memiliki makna khusus bagi SPI. Selain sebagai momentum refleksi perjuangan petani, kegiatan ini juga menjadi bentuk syukur atas disahkannya Undang-Undang Pengaturan Reforma Agraria yang selama ini diperjuangkan.
Ketua Umum SPI, Henry Saragih, menegaskan bahwa tanggal 24 September merupakan momentum penting bagi SPI, tidak hanya dalam memperingati sejarah perjuangan agraria, tetapi juga dalam memperkuat agenda perjuangan organisasi, termasuk terkait koperasi, perkebunan, dan reforma agraria.
“Anggota SPI adalah kekuatan perjuangan. Perjuangan kita hari ini tidak menggunakan senjata, tetapi menggunakan kata-kata, organisasi, dan kekuatan massa,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa UU Pengaturan Reforma Agraria mengatur berbagai aspek penting, mulai dari objek, subjek, kelembagaan, hingga target reforma agraria. Salah satu poin yang menjadi perhatian adalah ketentuan minimal 20% dari tanah HGU yang diperpanjang atau diperbarui sebagai objek reforma agraria. “SPI sebelumnya memperjuangkan porsi yang lebih besar. Namun, ketentuan minimal 20% ini tetap harus kita kawal dan perjuangkan ke depan agar dapat diperluas melalui perjuangan politik,” jelasnya.
Ia juga menyoroti target penurunan ketimpangan melalui indeks gini hingga 0,30 sebagaimana tertuang dalam undang-undang tersebut. “Ini menjadi bagian dari perjuangan kita bersama untuk menurunkan ketimpangan penguasaan tanah di Indonesia,” tambahnya.

Sekretaris Umum SPI, Wahyudi Rakib, menyampaikan bahwa peringatan HTN ke-66 merupakan puncak dari rangkaian kegiatan SPI sepanjang September. “SPI memperingati Hari Tani Nasional ke-66 dengan berbagai tematik perjuangan, mulai dari diskusi publik reforma agraria, aksi mengawal RUU Pengaturan Reforma Agraria, seminar nasional agroekologi, konferensi nasional perkebunan rakyat, hingga hari ini kita merayakan pengesahan UU Pengaturan Reforma Agraria,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Majelis Nasional Petani SPI, Harris Sinaga, menekankan bahwa peringatan tahun ini memiliki nuansa yang berbeda karena dilaksanakan dalam bentuk syukur atas disahkannya UU Pengaturan Reforma Agraria.
“Kita patut bersyukur atas disahkannya UU Pengaturan Reforma Agraria, tetapi perjuangan belum selesai. Tantangan ke depan adalah bagaimana memastikan implementasi undang-undang ini dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa SPI perlu terus memperkuat strategi gerakan politik serta organisasi untuk mengawal pelaksanaan undang-undang tersebut. “Ketika ‘senjata’ perjuangan telah disahkan, maka organisasi harus semakin kuat. Kita sudah memiliki alat legal untuk memperjuangkan reforma agraria, dan itu harus kita gunakan sebaik-baiknya,” tegasnya.
Pandangan serupa disampaikan oleh Sarwadi, Ketua DPW SPI Jambi, yang menilai bahwa pengesahan UU Pengaturan Reforma Agraria merupakan tonggak penting dalam perjalanan panjang perjuangan petani. “Sebagai pelaku perjuangan reforma agraria sejak tahun 90an, saya melihat ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Kita telah melewati perjalanan panjang selama hampir 28 tahun. Awalnya saya tidak yakin bahwa alat legal ini bisa disahkan, tetapi hari ini kita melihat pintu gerbang perjuangan kita telah terbuka,” ujarnya.

Menurut Sarwadi, peringatan HTN kali ini tidak hanya menjadi ruang perayaan, tetapi juga momentum konsolidasi untuk memastikan reforma agraria benar-benar dijalankan. “Reforma agraria hanya bisa berjalan jika ada organisasi tani yang kuat untuk mendorong, mengawasi, dan memastikan pelaksanaannya. Kita tidak boleh berhenti pada pengesahan undang-undang ini,” tegasnya.
Melalui peringatan Hari Tani Nasional ke-66 ini, SPI menegaskan kembali komitmennya untuk terus memperjuangkan reforma agraria sejati demi terwujudnya keadilan, kemakmuran, serta kehidupan yang sejahtera bagi petani dan seluruh rakyat Indonesia.
Peringatan Hari Tani Nasional ke-66 oleh SPI tidak hanya dipusatkan di Pusdiklat Nasional SPI, Bogor, tetapi juga dilaksanakan serentak di berbagai wilayah di Indonesia. Momentum ini menjadi ruang konsolidasi nasional untuk memperkuat perjuangan reforma agraria di tingkat basis.
Di sejumlah daerah seperti Asahan (Sumatera Utara) dan Kalimantan Barat, kegiatan diisi dengan aksi massa. Sementara di Indramayu, Sukabumi, Banten, dan Karawang, peringatan HTN dimanfaatkan untuk konsolidasi organisasi serta penyusunan langkah lanjutan dalam mengawal implementasi UU Pengaturan Reforma Agraria.