Pusat perbenihan SPI kembangkan benih lokal

Dalam melakukan proses produksi tanaman, pembenihan memainkan peranan penting. Karena dengan dihasilkannya benih-benih yang unggul bisa menjamin keberhasilan panen tersebut. Pembenihan bisa dilakukan dengan dua cara yaitu secara generatif (dari biji) dan vegetatif (non-biji). Namun sejak diberlakukannya revolusi hijau masa orde baru, proses pembibitan alamiah oleh masyarakat lokal menghilang.

Hal tersebut dikarenakan pada masa orde baru yang lebih dikenal dengan revolusi hijau petani diberikan benih secara cuma-cuma. Benih yang digunakan petani merupakan benih buatan perusahaan  multinasional, yang membuat ketergantungan terhadap perusahaan multinasional yang semakin lama tidak disadari petani semakin meningkat harganya. Selain itu hasil dari benih tersebut akan menjadi pangan konsumsi manusia. Bahaya yang tersimpan di dalam benih buatan perusahaan tentu saja tidak langsung tampak, tetapi baru akan tampak setelah puluhan tahun berlalu.

Hal tersebut terbukti dari beberapa benih impor yang didatangkan pemerintah Indonesia dari luar negeri mengandung mikroorganisme berbahaya virus jahat yang ada dalam tanaman itu masuk ke wilayah Indonesia. Beberapa virus dan bakteri yang ada dalam tumbuhan itu belum ada obatnya di Indonesia. Meski telah diberi fungisida (pembasmi jamur), benih-benih itu tetap terkontaminasi. Organisme menempel di bagian dalam sekam atau kulit padi serta kulit jagung sehingga tak bisa dibebashamakan.

Karena sampai saat ini pemerintah masih cenderung mengeluarkan kebijakan jangka pendek seperti impor benih dan subsidi benih. Untuk tahun 2009, pemerintah mengalokasikan impor benih yakni 25.000 ton benih padi nonhibrida (untuk areal 1 juta hektar) dan 5.552 ton padi hibrida (untuk 370.000 hektar).

Pemerintah Indonesia tidak pernah memandang petani yang memiliki kemampuan dan kreativitas. Ketika subsidi benih diluncurkan, hal tersebut menunjukkan pemerintah tidak percaya kepada petani dalam mengembangkan benih lokal yang lebih berkualitas, hal tersebut dapat dilihat dengan memberikan benih impor yang tidak diperlukan.

Padahal masih ada petani yang melestarikan benih padi varietas lokal dan berkreasi menyilangkan varietas lokal. Salah satunya pembenihan yang dilakukan petani anggota SPI di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Bogor mereka mendirikan bank benih, yang merupakan tempat untuk memproduksi benih-benih lokal untuk kepentingan petani sekitar.  Benih yang dibudidayakan oleh masyarakat lokal lebih aman dari segi kesehatan, karena benih yang berasal dari luar Indonesia belum tentu cocok kondisi lingkungan Indonesia dari keasaman, tanah, serta PH.

ARTIKEL TERKAIT
SPI Sambut Baik Hasil Rapat Terbatas Presiden Jokowi tentang...
Aksi SPI di Mabes POLRI: segera adili polisi pelaku penembak...
Kekuasaan untuk pembaruan agraria dan kedaulatan pangan
Menggagas Alternatif Dunia tanpa Bank Dunia
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU