Diskusi Dwi Mingguan DPP SPI: Dinamika Perjuangan Deklarasi PBB tentang HAP dan Masyarakat yang Bekerja di Pedesaan

JAKARTA. Departemen Pendidikan Pemuda Budaya dan Kesenian, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia (SPI) kembali melaksanakan diskusi rutin pemuda di sekretariat DPP SPI di Jakarta (14/05). Pada diskusi kali ini DPP SPI mengangkat tema “Dinamika Perjuangan Deklarasi PBB tentang Hak Asasi Petani dan Masyarakat yang Bekerja di Pedesaan”. Hadir Tim Pakar Hak Asasi Petani (HAP) SPI, Henry Thomas Simarmat sebagai narasumber.

Dalam diskusi tersebut Henry Simarmata menyampaikan kepada para peserta yang semuanya pemuda bahwa pembahasan deklarasi HAP di PBB bermula saat krisis pangan dunia tahun 2008. Saat itu PBB melakukan penelitian tentang pangan. Pada tahun 2010 ditemukan jumlah penduduk dunia masih 6 miliar sedangkan volume ketersediaan pangan 7 miliar. Semua bertanya-tanya kenapa masih terjadi kelaparan?. Akhirnya diketahui petani dan masyarakat di pedesaan banyak mengalami pelanggaran hak, dan menjadi sumber permasalahan. Fakta tersebut menyatukan negara-negara di benua Asia, Afrika, Amerika dan Eropa untuk bersama-sama menegakkan hak asasi petani dan masyarakat yang bekerja di pedesaan sebagai jalan untuk mengatasi krisis pangan, perubahan iklim maupun fenomena migrasi di dunia.

“Deklarasi ini mengakui semua masalah-masalah petani yang terjadi di nasional juga internasional. Yang paling penting juga adalah deklarasi ini tidak hanya ditujukan untuk pemenuhan hak petani, tetapi ada kekhususan terhadap pemenuhan hak-hak kaum muda sebagai korban pengangguran, perubahan iklim maupun fenomena migrasi. Dalam pasal 17 disebutkan negara harus memprioritaskan pemuda dalam alokasi lahan publik, perikanan dan hutan,” sebutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Departemen Pendidikan Pemuda Budaya dan Kesenian DPP SPI Ali Fahmi menyampaikan, diskusi ini merupakan bagian dari diskusi rutin dwi mingguan yang diselenggarakan SPI dalam rangka membangun dan menguatkan kembali peran pemuda membangunan pertanian di Indonesia. Diskusi ini sendiri dihadiri oleh pemuda dari organisasi-organisasi mahasiswa dan universitas se-Jabodetabek serta para pemuda tani. Diskusi berlangsung sekitar dua jam dengan sangat interaktif.

“SPI menyadari peran dan keterlibatan pemuda sangat besar untuk pertanian kita, terutama di tengah ancaman krisis regenarasi petani. Hanya saja saat ini para pemuda berbondong-bondong meninggalkan desa dan berkompetisi di kota, itu pun sebagai buruh, karena mereka melihat petani hidup miskin, setiap hari mengalami penggusuran, kehilangan tanah dan akses, dikriminalisasi dan akhirnya pemuda menjadi khawatir. Melalui instrumen HAP ini kita berupaya mengembalikan pertanian sebagai harapan kaum muda di masa depan,” tutupnya.

Diskusi ini pun diakhiri dengan buka puasa dan sholat maghrib bersama diantara para peserta diskusi.