
Dewan Pengurus Cabang (DPC) Serikat Petani Indonesia (SPI) Kabupaten Pinrang menggelar musyawarah cabang (muscab) dengan tema SPI sebagai Alat Perjuangan Petani dalam Mewujudkan Kesejahteraan Petani.” Muscab tersebut dilaksanakan di Desa Samaenre, Kecamatan Mattiro Sompe, Pinrang, Sulawesi Selatan, pada Senin (11/05/2026).
Musyawarah ini menjadi ruang konsolidasi bagi para petani dari berbagai desa di Pinrang untuk membahas persoalan yang dihadapi sekaligus merumuskan langkah perjuangan ke depan. Hadir dalam kegiatan ini perwakilan petani dari Desa Samaenre, Patobong, Siwolongpolong, Massulo Walie (Kecamatan Mattiro Sompe), Desa Marannu (Kecamatan Mattirobulu), serta Desa Benteng Paremba (Kecamatan Lembang).
Ketua Panitia Musyawarah, Alex, menegaskan pentingnya organisasi sebagai wadah bersama bagi petani. Menurutnya, petani membutuhkan ruang untuk saling belajar, berbagi pengalaman, serta menyuarakan persoalan secara kolektif. “Sudah seharusnya petani memiliki wadah perjuangan, tempat belajar bersama, dan ruang untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi, agar bisa diperjuangkan secara kolektif,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi harga hasil produksi pertanian yang masih rentan dipermainkan, serta minimnya perlindungan dari pemerintah terhadap harga tersebut. Dalam situasi ini, organisasi menjadi penting untuk memperkuat posisi tawar petani. “Kondisi harga hasil produksi petani masih rentan dipermainkan, sementara perlindungan dari pemerintah masih kurang. Dengan adanya organisasi, kita bisa memperjuangkan harga yang layak secara kolektif dan terorganisir,” tambahnya.
Dalam musyawarah tersebut, Muh. As’ad terpilih sebagai Ketua DPC SPI Pinrang. Dalam pidatonya, ia menegaskan komitmennya untuk menjalankan program-program yang mendukung kemandirian dan kesejahteraan petani.
“SPI Pinrang ke depan akan mendorong program pembuatan pupuk organik, pengembangan pertanian organik jangka panjang, serta pengelolaan lahan organik. Langkah ini diharapkan dapat menekan biaya produksi sekaligus menghasilkan produk yang lebih sehat untuk dikonsumsi,” tegas Muh. As’ad.
“SPI Pinrang ke depan akan mengimplementasikan pertanian agroekologi, baik dari sisi pembuatan pupuk yang akan dibuat secara mandiri berbasis agroekologi, serta pengelolaan lahan juga dengan cara agroekologi. Langkah ini diharapkan dapat menekan biaya produksi sekaligus menghasilkan produk pertanian yang lebih sehat dan pastinya selaras dengan alam,” tegas Muh. As’ad.

Melalui musyawarah ini, SPI Pinrang menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat organisasi sebagai alat perjuangan petani. Dengan semangat kolektif, SPI Pinrang diharapkan mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi petani, sekaligus memperkuat posisi tawar petani dalam memperjuangkan hak-hak serta meningkatkan kesejahteraan petani secara menyeluruh.