
Koperasi Petani Indonesia (KPI) mengikuti pameran produk pertanian dalam rangkaian International Conference in Autonomous Social Sciences and Alternative Development (ICASAD) 2026, di IPB University 21-22 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkenalkan produk-produk petani, serta memperluas kampanye kedaulatan pangan dan reforma agraria di tingkat internasional.

KPI menghadirkan beragam produk hasil tani dari berbagai wilayah. Produk-produk tersebut antara lain gula aren dan beras hitam dari Banten, kopi dari Bengkulu dan Lampung, beras agroekologi dari Indramayu, serta nanas dari Jambi. Selain itu, ditampilkan pula berbagai produk olahan rumah tangga seperti wedang uwuh, slondok singkong, dan rengginang singkong dari Yogyakarta yang diproduksi di Kawasan Daulat Pangan (KDP).



Kepala Badan Urusan Koperasi, Kawasan Daulat Pangan, dan Kampung Reforma Agraria SPI, Henderman, menyampaikan bahwa keikutsertaan SPI dalam pameran ini merupakan bagian dari upaya memperluas kampanye perjuangan petani. Menurutnya, momentum konferensi internasional seperti ICASAD menjadi ruang penting untuk menyampaikan persoalan mendasar yang dihadapi petani.
“SPI menyambut baik kegiatan konferensi internasional ini, karena menjadi media bagi kami untuk menyampaikan kampanye kedaulatan pangan dan reforma agraria. Di saat yang sama, kami juga menampilkan produk-produk petani, mulai dari beras agroekologi, kopi, gula merah, hingga produk olahan rumah tangga dan bahan mentah seperti green bean kopi serta buah nanas,” jelas Henderman.
Henderman menegaskan bahwa pameran ini juga membawa pesan penting tentang krisis pangan yang berakar dari ketimpangan penguasaan alat produksi. “Harapannya, masyarakat luas dapat melihat bahwa ketika petani tidak diberikan akses terhadap alat produksi untuk mengelola lahannya secara benar, maka pangan akan terancam. Itu yang sebenarnya kami kampanyekan dalam momentum ini,” tambahnya.

Lebih lanjut, Henderman mendorong agar dunia akademik tidak terjebak menjadi “menara gading” yang jauh dari realitas petani. Ia menekankan pentingnya keberpihakan kampus terhadap rakyat, khususnya dalam mendukung kedaulatan petani atas sumber-sumber produksi seperti tanah dan benih.
Menurutnya, kolaborasi antara petani, akademisi, dan berbagai sektor rakyat akan semakin kuat jika didasarkan pada upaya pemberdayaan petani agar berdaulat. “Ketika petani didorong untuk berdaya dan berdaulat atas alat produksinya, maka kolaborasi ke depan akan jauh lebih baik,” lanjut Henderman.
Tema pameran yang dibawa KPI“Koperasi Petani Indonesia untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan” sendiri bukan sekadar slogan, melainkan bagian dari praktik nyata yang terus dibangun oleh SPI. Koperasi dipandang sebagai alat perjuangan ekonomi petani, sekaligus instrumen untuk mendorong reforma agraria dan penguatan kawasan daulat pangan.
“Di kampung-kampung reforma agraria yang kami dorong, praktik pertanian yang dikembangkan adalah agroekologi, pertanian yang selaras dengan alam. Ini adalah jalan yang kami yakini untuk mewujudkan kedaulatan pangan,” pungkas Henderman.

Pada momentum ini, SPI juga membagikan buku UNDROP kepada para pengunjung tenant sebagai bagian dari upaya edukasi dan penyebarluasan pemahaman tentang Deklarasi PBB tentang Hak Asasi Petani dan Orang yang Bekerja di Pedesaan. Lebih dari ruang promosi produk, pameran ini juga mempertegas peran koperasi sebagai alat perjuangan ekonomi petani sekaligus memperkuat kesadaran akan hak-hak petani dalam mewujudkan kedaulatan pangan .