
TUBAN. Serikat Petani Indonesia (SPI) menunjukkan langkah nyata dalam menjaga kedaulatan pangan nasional di tengah ancaman kemarau panjang dan cuaca ekstrem akibat fenomena El Niño. Upaya tersebut terlihat di Kawasan Daulat Pangan (KDP) Tuban, tepatnya di Desa Senori, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, di mana para petani anggota SPI menerapkan pertanian agroekologi untuk menyiasati dampak krisis iklim.
Pada musim tanam kali ini, petani di KDP Tuban berhasil mengelola dan menanam padi di lahan seluas 260 hektar. Proses penanaman dilakukan secara bertahap selama 11 hari, sejak 27 Juli hingga 6 Agustus lalu. Dalam praktiknya, petani menggunakan beragam jenis benih, di antaranya padi SPI 21, galur SPI 25–28, serta varietas Inpari 32 yang telah dikenal adaptif.
Di tengah kondisi iklim yang tidak menentu, petani tidak hanya bergantung pada satu komoditas. Para petani juga mengoptimalkan lahan dengan membudidayakan tanaman hortikultura seperti jagung, blewah, dan melon. Diversifikasi ini menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas ekonomi petani sekaligus memperkuat kedaulatan pangan lokal di tengah risiko gagal panen akibat kekeringan.
Tantangan yang dihadapi petani Tuban selama El Niño tidaklah ringan. Krisis ketersediaan air menjadi persoalan utama, ditandai dengan menurunnya debit sumber air, mulai dari embung hingga sumur dalam. Lahan pertanian, terutama di wilayah tadah hujan, mengalami kekeringan ekstrem hingga tanah retak-retak. Di sisi lain, petani juga dihadapkan pada lonjakan biaya operasional akibat penggunaan pompa air secara intensif, yang menyebabkan biaya bahan bakar meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat.
Tidak hanya itu, kondisi cuaca panas dan kering turut memicu ledakan organisme pengganggu tanaman seperti ulat grayak, thrips, tungau, dan penggerek batang. Pergeseran musim yang tidak menentu juga membuat petani kesulitan menentukan waktu tanam yang tepat, sehingga meningkatkan risiko kegagalan panen.
Namun, di tengah tekanan tersebut, petani SPI Tuban mampu bertahan melalui agroekologi. Pendekatan ini menitikberatkan pada penyesuaian pola tanam, efisiensi pemanfaatan air, serta pemulihan kesuburan tanah secara alami. “Kunci keberhasilan panen dan ketahanan lahan petani di tengah El Niño terletak pada penerapan agroekologi. Para petani SPI konsisten meninggalkan ketergantungan pada bahan kimia sintetis dan beralih mengembalikan kesuburan alami tanah,” terang Kusnan, Kepala Departemen Agroekologi dan KDP serta Badan Perbenihan Nasional SPI.

Salah satu langkah utama yang diterapkan adalah penggunaan pupuk dasar berupa kompos organik sebanyak dua ton per hektar. Pemberian kompos ini terbukti efektif dalam memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan tanah menahan air, serta menyediakan nutrisi yang seimbang bagi tanaman. Dengan kondisi tanah yang lebih sehat, lahan menjadi lebih tahan terhadap kekeringan akibat terik El Niño.
Agroekologi juga menjadi jalan untuk memulihkan ekosistem pertanian secara menyeluruh. “Penerapan agroekologi ini tidak hanya bertujuan untuk mengejar hasil produksi yang maksimal, tetapi juga untuk merawat dan memulihkan ekosistem tanah dalam jangka panjang. Ini adalah bukti bahwa kedaulatan pangan sejati dapat diwujudkan melalui kemandirian petani dan metode pertanian yang selaras dengan alam,” lanjut Kusnan.
Menurutnya, model pengelolaan lahan berbasis agroekologi yang diterapkan di Tuban sangat memungkinkan untuk direplikasi di berbagai wilayah lain di Indonesia. Namun, terdapat sejumlah prasyarat penting agar praktik ini dapat berjalan optimal.

Pertama, diperlukan kesadaran kolektif petani untuk bertransisi dari pertanian berbasis kimia menuju agroekologi, salah satunya melalui pendidikan agroekologi yang teru digalakkan SPI. Kedua, pentingnya kedaulatan benih dan ketersediaan bahan organik lokal yang adaptif terhadap kondisi iklim setempat. Ketiga, adanya pendampingan teknis yang berkelanjutan, mengingat agroekologi merupakan proses bertahap yang membutuhkan konsistensi dan ketekunan.
Langkah yang dilakukan petani SPI di Tuban menjadi bukti konkret bahwa di tengah krisis iklim sekalipun, petani tetap mampu berproduksi secara mandiri dan berkelanjutan. Agroekologi tidak hanya menjadi solusi menghadapi El Niño, tetapi juga fondasi penting dalam memperkuat kedaulatan pangan nasional di masa depan.