Jejak Pendidikan Agroekologi SPI di Balangan, Kalimantan Selatan: Menguatkan Pengetahuan Pertanian Berbasis Masyarakat Adat

Puluhan peserta mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Agroekologi dan Kawasan Daulat Pangan (KDP) II yang diselenggarakan Serikat Petani Indonesia (SPI). Kegiatan berlangsung di Balangan, Kalimantan Selatan, pada 23–30 November 2025. Pelatihan ini menjadi ruang belajar bersama terkait agroekologi, termasuk pertukaran pengalaman dan praktik pertanian yang telah lama dijalankan masyarakat adat Dayak Pitap.

Bagi sebagian peserta, istilah agroekologi mungkin baru, namun praktiknya tidak asing sama sekali. Di wilayah adat Dayak Pitap, bertani bukan sekadar kerja mengolah tanah, tetapi bagian dari cara hidup. Menanam padi bukan untuk dijual, melainkan menjaga keberlanjutan pangan dua sampai tiga tahun ke depan.

Agroekologi dan Kedaulatan Pangan yang Berakar pada Tradisi

Ketua SPI DPW Kalimantan Selatan, Dwi Putra, menyebut antusiasme peserta yang sebagian besar merupakan pemuda bagian dari masyarakat adat sebagai kekuatan besar dalam proses pendidikan ini. “Konsep Agroekologi dan Kedaulatan Pangan sebenarnya sudah sesuai dengan apa yang diajarkan leluhur para petani di sini sejak dahulu, walau versi bahasa ilmiahnya baru dikenal. Dayak Pitap dan Meratus menanam padi bukan untuk dijual (komersialisasi), tapi untuk menjaga keberlanjutan hidup. Para petani menyimpan padi untuk 2–3 tahun, itulah daulat pangan versi para petani di sini,” ungkapnya.

Namun tak ada pelajaran tanpa tantangan. Akses antarwilayah yang jauh menjadi hambatan dalam hal ini. Karena itu, Dwi berharap pendidikan ini tidak berhenti sebagai acara seremonial. “Harapan kami kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Agroekologi dan KDP ini bisa terus berlanjut serta kepesertaan pemuda tani dan petani perempuan terus bertambah setiap tahunnya, bahkan jika memungkinkan dapat terus disosialisasikan ke wilayah Kabupaten lain dimana komunitas masyarakat adat dayak Meratus (pegunungan) ini tersebar sampai di 11 Kabupaten di Kalimantan Selatan,” pungkasnya.

Kusnan selaku Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Agroekologi dan Perbenihan Pusat, menempatkan agenda pendidikan ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat praktik pertanian agroekologi, terkhusus untuk masyarakat adat yang selama ini berada di garis depan menjaga hutan.

“Aspek paling krusial adalah pemahaman sistem pertanian berkelanjutan, dari mulai ekologis, ekonomi, dan sosial budaya. Jadi ini tentang benih lokal, kemandirian ekonomi, pengetahuan tradisional, hingga ketahanan iklim,” ujarnya.

Melalui pendidikan ini para peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktiknya. Peserta belajar memproduksi pupuk kompos, meningkatkan diversifikasi tanaman, membangun bank benih rakyat, dan memperkuat organisasi agar mampu menghadapi ancaman perampasan tanah dan dominasi benih komersial. “Dengan agroekologi ini, petani memegang kontrol penuh atas produksinya, maulai dari benih sampai dengan panen,” tegas Kusnan.

Qomarun Najmi dari Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi SPI, melihat pendidikan ini sebagai ruang konsolidasi yang penting. “Penekanan kami bukan hanya pada praktik agroekologi, tapi juga penguatan kelembagaan SPI, pengembangan KPI, serta jaringan pasar dan konsumen,” jelasnya.

Menurut Qomar, masyarakat adat Dayak Pitap sudah menerapkan prinsip agroekologi dan bisa menjadi bukti keberhasilan agroekologi, sistem bercocok tanam rotasi, penggunaan benih lokal, multicrop, agroforestry, serta solidaritas antar-petani dalam menjaga siklus hara. Inilah yang harus dilestarikan. “Pembelajaran selama pendidikan harus dipraktikkan, sehingga bisa memperkuat agroekologi sebagai gerakan, juga sebagai ilmu, pengetahuan serta keterampilan praktis,” ujarnya.

Cerita dan Harapan Generasi Muda

Dari proses pendidikan ini, muncul suara-suara muda yang membawa harapan baru. Rahinda, peserta dari Desa Iyam, datang demngan keinginan sederhana untuk belajar agar bisa berguna. “Saya ingin menambah pengetahuan, lewat kegiatan ini saya bisa meningkatkan hasil tani dan membantu masyarakat. Di kampung kami akses ilmu masih terbatas, jadi setelah ikut pelatihan ini harapannya saya bisa berbagi pengetahuan ke petani lain,” ujarnya.

Rahinda juga melihat pelatihan ini sebagai peluang untuk meningkatkan kapasitas pertanian di desanya. Ia berharap ilmu yang didapat tidak hanya berhenti pada peserta, tetapi kembali kepada masyarakat. “Harapannya, saya bisa membantu memajukan pertanian rakyat dan belajar mengolah limbah agar lebih berguna. Banyak petani dan masyarakat desa yang antusias pada kegiatan ini, karena kita ingin juga merasakan manfaatnya. Kalau kegiatan seperti ini bisa berjalan dengan baik dan berkelanjutan, saya yakin akan sangat membantu masyarakat,” pungkasnya.

Elsa, peserta lain dari desa yang sama, membawa cerita serupa namun dengan tantangan berbeda, yaitu kekeringan dan perubahan iklim membuat pola tanam tak lagi dapat diprediksi. “Wilayah saya sering mengalami musim kemarau yang panjang sehingga sulit untuk mendapatkan air, selain itu perubahan iklim juga mempengaruhi pola tanam dan hasil panen kami,” ujarnya.

Elsa berharap, pelatihan ini dapat membantu meningkatkan produksi pangan di desanya. “Kami berharap ilmu ini bisa membantu meningkatkan produksi pangan, terima kasih kepada semua yang sudah mengajari kami di pendidikan ini,” ucapnya.

Pendidikan dan Pelatihan Agroekologi dan Kawasan Daulat Pangan Kalimantan Selatan ini bukan hanya agenda belajar. Kegiatan ini menjadi ruang dimana ilmu dan tradisi bertemu, dimana pemuda dan pemudi mengambil peran nyata dalam memastikan masa depan pangan. Di ladang, di kampung, di rumah-rumah yang dikelilingi hutan Meratus, ilmu ini tidak berhenti sebagai catatan pelatihan. Ia tumbuh, menjadi praktik, menjadi gerakan.

ARTIKEL TERKAIT
SIARAN PERS DAN AKSI TOLAK IMPOR BERAS SPI DAN PARTAI BURUH:...
Diskusi Terpimpin SPI: "Stop Impor Beras, Pemerintah Gagal W...
Dialektika antara Aktivis Cendekia Kritis, Gerakan Agraria, ...
Hadiri RDPU Komisi IV DPR RI, SPI Tegaskan Alih Fungsi Lahan...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU