Kembali Gaungkan Spirit Bandung pada Peringatan 71 Tahun KAA, SPI Serukan Persatuan Gerakan Rakyat Melawan Neokolonialisme dan Imperialisme

Serikat Petani Indonesia (SPI) menggelar webinar internasional bertajuk “Menghidupkan Kembali Semangat Bandung untuk Memperkuat Solidaritas Global Selatan di Tengah Dinamika Global Kontemporer dalam Perspektif Geopolitik dan Geoekonomi” secara daring pada 6 Mei 2026. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA), dengan menegaskan kembali relevansi semangat Bandung dalam memperkuat perjuangan bersama negara-negara Global Selatan di tengah krisis global yang semakin kompleks.

Webinar ini diawali dengan pengantar dari Ketua Umum SPI, Henry Saragih, yang menekankan bahwa Konferensi Asia Afrika lahir dari situasi ketimpangan global yang masih terasa hingga hari ini. Ia mengingatkan bahwa semangat Bandung tidak hanya soal sejarah, tetapi juga arah perjuangan ke depan. “Sekarang ini kita masih harus melawan kekuatan dominasi ekonomi neoliberal. Karenanya, kita harus melihat kembali semangat Bandung agar bisa melanjutkan perjuangan bersama di tingkat internasional,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa implementasi Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak Asasi Petani menjadi bagian penting dari upaya memerdekakan kaum tani secara utuh.

Pengantar juga disampaikan oleh Shalmali Guttal yang menyoroti krisis global yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim hingga konflik geopolitik yang berdampak langsung pada sistem pangan dunia. Ia secara tegas mengkritik sistem multilateral global yang dinilai gagal melindungi rakyat. “Hak dari para petani, masyarakat adat, dan orang pedesaan dihancurkan secara sistematis karena sistem yang ada justru melawan hak asasi manusia,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa dominasi korporasi ekstraktif pangan telah melemahkan implementasi Deklarasi PBB terkait Hak Asasi Petani dan Orang yang Bekerja di Pedesaan (UNDROP).

“Tanpa adanya andil dan kuasa dari para pemegang hak UNDROP itu sendiri, tidak akan ada kemenangan untuk kita,” pungkas Shalmali.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum SPI, Zainal Arifin Fuat, menegaskan bahwa semangat Bandung adalah semangat perlawanan terhadap neokolonialisme imperialisme yang masih berlangsung dalam bentuk baru. Ia menyoroti meningkatnya konflik global dan ketimpangan ekonomi yang berdampak pada krisis pangan dunia. “Mempertahankan tanah dan pangan adalah wujud dari mempertahankan kehidupan itu sendiri dan berjuang melawan kolonialisme,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya mendorong implementasi UNDROP sebagai alat perjuangan bersama.

Zainal juga menyoroti blobalisasi konflik dan perang saat ini semakin memperdalam krisis kemanusiaan dan kelaparan di berbagai belahan dunia. Perang antara Rusia dan Ukraina, genosida yang terus berlangsung di Gaza, serta konflik berkepanjangan di berbagai negara di Afrika menunjukkan bagaimana imperialisme modern bekerja melalui kekerasan dan dominasi geopolitik. Di kawasan Amerika Latin, eskalasi juga terlihat melalui penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh operasi militer Amerika Serikat yang menuai kecaman internasional , serta tekanan terhadap Kuba melalui embargo ekonomi dan ancaman penyerbuan. “Situasi ini menunjukkan bagaimana intervensi politik, ekonomi, dan militer dari negara-negara kuat terus memperdalam ketimpangan global, yang berdampak langsung pada meningkatnya angka kelaparan dunia akibat konflik, blokade, dan ketergantungan ekonomi yang dipaksakan,” pungkasnya.

Forum ini diisi oleh narasumber dari berbagai organisasi di Asia dan Afrika, yaitu Thiombiano Joseph dari Burkina Faso; Anuka De Silva dari ICC La Via Campesina Asia Selatan; Abdelraouf Omer Ahmed dari Koalisi Petani Al Jazeera dan Al Managil, Sudan; Qamar Abbas dari Komite Jaringan Petani Pakistan; Zenaida Mansilohan dari Paragos, Filipina; serta Afgan Fadilla dari Serikat Petani Indonesia.

Memasuki sesi pemaparan, Afgan Fadilla dari SPI mengangkat situasi konkret di Indonesia, mulai dari ketimpangan penguasaan lahan hingga ketergantungan pada impor pangan. Ia menyoroti bahwa krisis agraria semakin dalam dan berdampak pada regenerasi petani. “Satu persen populasi menguasai sebagian besar lahan, sementara jumlah petani kecil terus meningkat dan semakin terdesak,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa implementasi UNDROP menjadi kunci untuk mengembalikan kedaulatan pangan nasional.

Dari Burkina Faso, Thiombiano Joseph menekankan bahwa semangat Bandung harus diwujudkan dalam praktik nyata melawan ketergantungan ekonomi Global Selatan. Ia menyoroti bagaimana sistem global memaksa negara-negara Selatan menjadi pemasok bahan mentah murah bagi industri global. “Semangat Bandung tidak boleh hanya menjadi kenangan, tetapi harus menjadi kekuatan untuk memutus rantai ketergantungan,” ujarnya. Ia juga menyebut pentingnya melawan tekanan institusi global seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang memperkuat ketimpangan tersebut.

Anuka Vimukthi De Silva menyoroti pentingnya konsolidasi gerakan Global Selatan dalam menghadapi krisis global, termasuk perubahan iklim dan dominasi ekonomi global. Ia menekankan bahwa solidaritas lintas negara menjadi kunci utama. “Kita bukan hanya korban dari sistem ini, tetapi juga aktor yang mampu mengubahnya melalui gerakan kolektif,” tegasnya. Ia juga menegaskan pentingnya membangun gerakan global berbasis rakyat untuk melawan dominasi ekonomi dan politik internasional.

Dari Pakistan, Qamar Abbas menguraikan bagaimana sistem utang global menjadi alat baru kolonialisme yang menjerat negara-negara Global Selatan. Ia menggambarkan dampaknya terhadap petani kecil yang semakin kehilangan kontrol atas produksi mereka. “Kita harus merapatkan barisan melawan mesin neoliberalisme yang terus menghancurkan kedaulatan kita,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa intervensi IMF telah mendorong perampasan tanah, dominasi korporasi, dan kehancuran sistem pertanian lokal di Pakistan. “Perhatikan bagaimana institusi IMF mempromosikan penetrasi liberalisme, dan mendorong perampasan tanah berskala besar yang dilakukan oleh kepentingan korporat. Pakistan terus terbelenggu lilitan hutang IMF hingga detik saat ini dan ini tentu sangat berdampak melumpuhkan kehidupan petani kecil di Pakistan,” tegasnya.

Sementara itu, Abdelraouf Omer Ahmed menggambarkan dampak langsung konflik, intervensi kekuatan neo-kolonial, dan perebutan sumber daya terhadap kehidupan petani. Ia menyoroti bagaimana wilayah dengan potensi pertanian besar justru menjadi arena eksploitasi dan kehancuran akibat kepentingan geopolitik global. “Penguasaan lahan merupakan jantung detak dari kedaulatan pangan, dan kita harus mempertahankannya,” ujarnya. Ia juga menyerukan pentingnya solidaritas internasional untuk menghentikan perang dan memastikan akses bantuan kemanusiaan bagi masyarakat pedesaan yang terdampak.

Dari Filipina, Zenaida Mansilohan menyoroti bagaimana korporasi dan kebijakan negara telah merampas ruang hidup petani dan masyarakat adat. Ia menjelaskan bahwa berbagai program pemerintah justru memperkuat kepentingan korporasi dan memperlemah petani. “Kami terus memperjuangkan pemulihan lahan dan keadilan bagi petani, meskipun menghadapi tekanan dan kriminalisasi,” ungkapnya.

Menutup diskusi, Henry Saragih kembali menegaskan pentingnya memperkuat konsolidasi gerakan petani di tingkat global, baik melalui pengorganisasian massa maupun advokasi di tingkat internasional. “Kita sebagai gerakan petani global, harus senantiasa konsisten mengkombinasikan dua metode pergerakan utama kita: yakni pergerakan pengorganisasian massa rakyat secara riil di tingkat basis, dan juga diplomasi advokasi perubahan institusional melalui lembaga-lembaga antar negara,” pungkasnya.

Sebagai tindak lanjut, Zainal Arifin Fuat menyampaikan bahwa La Via Campesina akan mendorong langkah konkret melalui penyusunan surat kepada pemerintah di berbagai negara untuk mendesak implementasi Deklarasi Hak Asasi Petani. “Ini adalah langkah strategis untuk memastikan instrumen perjuangan kita benar-benar diterapkan di tingkat nasional,” pungkasnya.

Melalui webinar ini, SPI bersama jaringan gerakan petani global menegaskan pentingnya memperkuat solidaritas Global Selatan sebagai warisan utama Konferensi Asia Afrika, guna merespons tantangan geopolitik dan geoekonomi yang semakin kompleks. Semangat Bandung tetap relevan sebagai pijakan perjuangan kolektif, tidak hanya sebagai refleksi sejarah, tetapi sebagai arah untuk membangun tatanan dunia yang lebih adil, berdaulat, dan berpihak pada rakyat.

ARTIKEL TERKAIT
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU