
JAMBI. Pemuda tani dari berbagai wilayah Indonesia berkumpul dalam kegiatan Musyawarah Pemuda Tani Serikat Petani Indonesia (SPI) yang diselenggarakan di Jambi, Minggu (20/07/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Kongres ke-V SPI yang berlangsung pada 20-25 Juli 2025. Musyawarah ini menjadi forum penting untuk memperkuat peran pemuda tani dalam organisasi serta membahas strategi perjuangan reforma agraria dan kedaulatan pangan saat ini.
Dalam sambutannya, Ketua Umum SPI Henry Saragih menyampaikan bahwa musyawarah pemuda tani SPI dapat menggali berbagai aspek, mulai dari masalah yang dihadapi generasi muda dalam dunia pertanian hingga merumuskan rekomendasi atau solusi untuk mengatasinya. Hal tersebut nantinya akan disampaikan ke dalam forum permusyawaratan SPI di Kongres ke-V.
“Keberadaan pemuda tani sangat penting bagi keberlangsungan organisasi ini. Hal ini juga yang menjadi dasar agenda pembahasan tentang musyawarah pemuda petani menjadi hal yang baru dan mendesak di bahas pada kongres ke-V ini,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perjuangan bagi petani muda SPI bukanlah pilihan, melainkan keharusan untuk menjamin kehidupan yang berdaulat dan berkeadilan.
“Jadi apa yang kita lakukan ini adalah sebuah keharusan. Pada dasarnya bumi dan alam sudah tersedia untuk mendukung kehidupan yang baik untuk kita semua. Namun saat ini yang terjadi, perubahan-perubahan di sistem ekonomi, sosial, dan politik, membuat kehidupan menjadi sangat sulit. Bagi kaum muda, kebutuhan-kebutuhan dasar seperti pangan yang bergizi dan sehat, pendidikan, pekerjaan yang layak dan kebutuhan akan hunian menjadi sulit terpenuhi,” ujarnya.
Ketua DPW SPI Jambi, Sarwadi, dalam sambutannya juga menyampaikan harapan agar musyawarah ini dapat merumuskan arah gerakan pemuda tani ke depan, sekaligus memperkuat struktur dan peran pemuda dalam menjalankan roda organisasi.
“Jambi menjadi wadah bagi para pemuda untuk mengekspresikan berbagai perjuangan reforma agraria. Tidak salah kalau tema musyawarah ini disebut sebagai konsolidasi gerakan pemuda petani untuk mewujudkan reforma agraria. Pemuda merupakan penerus dan yang akan memastikan bergeraknya perjuangan ini,” ungkapnya.
Kegiatan musyawarah ini dipandu oleh 5 pemuda petani sebagai fasilitator kegiatan, masing-masing merupakan petani muda anggota SPI, yaitu: Heru Pangatas (Jambi); Agus Salim (Aceh); Andi Suhendra (Aceh); Sundari (Jambi) dan Rifki (Bengkulu).

Dalam pengantarnya, masing-masing fasilitator membagikan pengalaman dan pengetahuan, sekaligus keresahan dan harapan dari generasi muda terhadap masa depan pertanian Indonesia.
Sundari, yang merupakan petani perempuan SPI dari Cabang Tanjung Jabung Timur, menekankan pentingnya mengenalkan SPI sejak dini sebagai wadah atau ruang belajar bagi anak muda. “Di basis saya banyak pemuda yang tidak suka bertani, kadang itu bukan tidak mau bertani bisa saja karena keterbatasan tanah maupun pengetahuan. Disini pentingnya organisasi sebagai wadah atau ruang belajar berbagai pengetahuan tersebut” ujarnya.
Andi Suhendra, yang juga merupakan Majelis Cabang Petani Aceh Tamiang, menyebut persoalan rendahnya minat pemuda bertani akibat stigma sosial dan kurangnya akses teknologi. “Di Indonesia menjadi petani dipandang sebagai perkerjaan mudah padahal tidak segampang itu, ada pengetahuan yang harus dimiliki. Karena tidak ada pengetahuan, maka sering kali hasil pertanian tidak maksimal dan tidak menguntungkan. Padahal apabila pengetahuannya sudah tepat, menjadi petani itu justru lebih fleksibel secara waktu dan juga menguntungkan” ujarnya.
Rifki, pemuda petani yang juga merupakan Ketua Cabang Rejang Lebong, Bengkulu, menyoroti pentingnya koperasi sebagai kelembagaan ekonomi petani SPI. “Keberadaan koperasi di basis-basis anggota SPI ditujukan untuk memutus rantai harga yang tidak layak, seperti apabila kita menjual ke pasaran. Melalui koperasi kita juga memfokuskan pada kualitas hasil pertanian, yang nantinya akan berdampak pada kesejahteraan petani anggota SPI,” ujarnya.
Agus Salim, yang merupakan Ketua Divisi Pendidikan, Pemuda dan Kebudayaan SPI Cabang Aceh Tamiang, menekankan perlunya penguasaan ilmu pertanian agroekologi yang menjadi salah satu pokok perjuangan SPI. “Penerapan pertanian agroekologi ini dapat terus dikampanyekan untuk menarik minat pemuda di sektor pertanian. Melalui pertanian agroekologi, kita bisa menekan biaya produksi dan juga menghasilkan pangan yang sehat dan bergizi,” Ujarnya.
Sebagai penutup pada sesi ini, Heru Pangatas yang juga merupakan Ketua SPI Cabang Tanjung Jabung Timur, menegaskan bahwa tantangan utama petani muda adalah ketimpangan penguasaan tanah serta terbatasnya ruang pemuda dalam pengambilan Keputusan.“Kondisi ini yang terjadi di Jambi, dimana ketimpangan penguasaan tanah sebagian besar dikuasai oleh korporat. Akibatnya para pemuda tani juga sulit untuk bertani karena ya minimnya ketersediaan tanah. Oleh karenanya ini yang harus dijawab melalui perjuangan reforma agraria dan keterlibatan aktif para pemuda di SPI” tegasnya.
Musyawarah Pemuda Petani juga berhasil menghimpun berbagai masalah-masalah yang dihadapi oleh pemuda: mulai dari sulitnya akses terhadap lahan dan modal, pandangan masyarakat yang merendahkan pekerjaan sebagai petani, minimnya teknologi dan pengetahuan pertanian, hingga harga produk tani yang tidak stabil. Mereka juga menyoroti kurangnya minat anak muda dalam bertani, yang diperparah oleh kebijakan negara yang belum berpihak pada pertanian rakyat.
Musyawarah ini menghasilkan sejumlah rumusan penting, di antaranya: memperluas keterlibatan petani muda dalam struktur pengambilan keputusan SPI, mendorong pendirian pusat pelatihan pemuda tani, serta mengampanyekan pertanian sebagai profesi masa depan yang strategis dan bermartabat. Musyawarah Petani Muda SPI ini menegaskan bahwa regenerasi bukan sekadar menjaga keberlangsungan roda organisasi, tetapi juga memastikan bahwa perjuangan petani tetap relevan, hidup, dan berakar di generasi yang akan datang.