Pemuda SPI: Refleksi Sejarah Merupakan Momen Konsolidasi Kekuatan Pemuda Tani

JAKARTA. Dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Serikat Petani Indonesia (SPI) ke-22, pemuda SPI melaksanakan diskusi secara daring (10/07). Diskusi bertemakan “Refleksi Sejarah Perjuangan Serikat Petani Indonesia: Kedaulatan Pangan Sebagai Jalan Keluar dari Krisis Pangan dan Membangun Kemandirian Ekonomi Nasional.” Diskusi ini diikuti pemuda tani SPI dari 22 Provinsi dan juga Gerakan Mahasiswa Petani Indonesia (Gema Petani).

Dalam pembukaan diskusi, Ketua Umum SPI Henry Saragih menyampaikan, sesungguhnya SPI dibangun oleh para pemuda dan petani-petani yang tergusur dari tanahnya, petani yang miskin, buruh tani.

“Itulah sejarah dari SPI, bagi saya dan seluruh anggota SPI memperingati HUT artinya mengingatkan kita pada umur, dan ketika disebut 22 tahun artinya sudah 22 tahun kita tetap konsisten memperjuangkan hak kita,” kata Henry dari Medan, Sumatera Utara

“Tentunya tantangan kita banyak sekali, baik itu eksternal maupun internal. Dari internal, regenerasi petani itu memang penting. Sekarang ini di perdesaan petani muda sudah berkurang, dan umumnya diisi oleh usia tua. Pertanian dianggap tidak dijadikan pilihan hidup, walau sebenarnya bertani lah yang sebenarnya menjadi soko guru kehidupan ekonomi, politik masyarakat,” lanjutnya.

“Kedua tentunya bagi SPI kita perlu regenerasi dalam perjuangan kita karena perjuangan ini harus dilanjutkan. Jika kita kaitkan dengan teori, perjuangan itu harus permanent resistance,” tambahnya.

Randa Sinaga, salah seorang narasumber dalam diskusi ini menyampaikan peran pemuda dalam pengorganisasian sangat penting.

“Pemuda merupakan regenerasi ke depan, kader organisasi, oleh karenanya pemuda harus dapat mengorganisir. Setiap basis memiliki perbedaan masalah terkait perjuangan,” kata pemuda tani asal Sumatera Utara ini.

“Hanya saja terdapat garis besar yang sama, semua isu ini bertujuan bagaimana petani dapat menjadi lebih baik. Ke depan harapannya agar pemuda petani dapat memiliki peran penting dalam basisnya masing-masing, atau pun aktivis mahasiswa yang bukan insider untuk dapat masuk sebagai bagian dari kelompok,” sambungnya.

Dalam kesempatan yang sama, Apri, pemuda tani SPI asal Kepahiang, Bengkulu — yang mengikuti diskusi langsung dari kebun kopinya — menyampaikan terima kasih kepada seluruh pemuda tani di mana pun berada karena terus bersama-sama berjuang d ibawah bendera SPI.

“Para pemuda untuk terus berjuang bersama SPI ke depannya karena banyak pemuda meninggalkan desa pergi ke kota karena tuntutan ekonomi, ini sebuah ancaman besar,” kata Apri.

Sementara itu, Roi, koordinator Gema Petani Nusa Tenggara Timur (NTT) berharap ke depannya pemuda tani di desa dan di kampus (mahasiswa) menjadi kekuatan penggerak SPI.

“Di NTT saat ini banyak terjadi penggusuran terhadap petani karena proyek tambang. Jika ini kita biarkan sangat berbahaya untuk masa depan kita. Pemuda dan mahasiswa harus bersatu karena tanpa persatuan, perjuangan kita tidak akan berhasil” ujar Roi.

Dalam kesempatan yang sama, Ali Fahmi, Ketua Departemen Pendidikan, Pemuda, Kesenian dan Budaya DPP SPI sekaligus menyampaikan, diskusi ini merupakan momen konsolidasi pemuda tani SPI di tengah semakin besarnya tantangan yang dihadapi petani dan masyarakat desa.

“Dulu teman-teman petani, pemuda dan mahasiswa yang bergabung di SPI memiliki latar belakang dan cita-cita yang sama yakni untuk melawan ketidakdilan demi kesejahteraan petani. Keadaan sampai sekarang masih terjadi pembangunan yang merampas tanah petani. Perjuangan ini harus terus berlanjut. Dalam organisasi, yang namanya pemuda boleh dikatakan sebagai penggerak, motor, bergerak terus-menerus. Jika organisasi tidak ada motornya, pasti ada masalah. Saya rasa pemuda-pemuda yang bergabung juga memiliki semangat yang sama,” tutupnya.