Petani Korea Selatan Belajar Agroekologi di SPI Yogyakarta

YOGYAKARTA. Puluhan orang ibu bapak petani asal Korea Selatan yang tergabung dalam Korean Women Peasants Association (KWPA) dan Korean Peasant League (KPL) mengunjungi petani Serikat Petani Indonesia (SPI) di Yogyakarta, 27-28 November 2019. Kunjungan ini dalam rangka saling bertukar pengalaman dan belajar mengenai pertanian agroekologi.

Kunjungan diawali di Bantul, Yogyakarta (27/10). Di sini mereka disambut langsung oleh Wakil Bupati Bantul, Abdul Halim. Dalam sambutannya, Abdul Halim merasa sangat bangga daerahnya dikunjungi oleh para petani dari Korea Selatan.

Wakil Bupati Bantul Abdul Halim

“Semoga kerjasama antara petani Indonesia dan Korea Selatan ini bisa terus berlanjut. Salut buat SPI yang bisa mengorganisir acara seperti ini,” katanya.

Abu Sabikis, Ketua DPW SPI Yogyakarta

Abu Sabikis, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) SPI Yogyakarta mengemukakan, perjuangan petani di Indonesia dan Korea Selatan pada dasarnya sama, sama-sama melawan neoliberalisme yang semakin mencengkeramkan kukunya ke kehidupan petani kecil.

“Kami dari DPW SPI Yogyakarta mengucapkan selamat datang kepada ibu-bapak dari Korea Selatan. Semoga kita bisa saling bertukar pengalaman dan juga saling belajar mengenai pertanian agroekologi karena memang pendidikan terbaik bagi kita kaum tani adalah dengan belajar langsung ke petani lain,” tuturnya.

Di Bantul sendiri, para petani Korea Selatan ini mempraktekkan langsung menanam benih padi SPI20.

Praktek Penanaman SPI20

“Benih padi SPI20 merupakan bukti nyata pratek pertanian agroekologi yang dilakukan oleh SPI. Benihnya ditangkarkan langsung oleh petani SPI. Perlakuannya juga harus secara agroekologi, tanpa pupuk kimia, karena karakteristiknya kalau pake pupuk kimia justru hasil panennya menurun,” paparnya.

Kunjungan berikutnya adalah ke Kabupaten Kulonprogo, melihat produksi dan pengolahan gula kelapa.

Melihat langsung pengolahan gula kelapa

Polemik Perbenihan

Di hari Kedua, para petani mengunjungi Sleman. Di sana mereka disambut oleh Ketua Pusat Perbenihan Nasional SPI, Kusnan yang menjelaskan mengenai teknik penyilangan padi dan jagung.

Praktek penyilangan padi yang dipandu langsung oleh Ketua Pusat Perbenihan Nasional SPI, Kusnan

“Praktek penyilangan padi dan jagung ini akan lebih efektif kalau dilaksanakan dalam tiga hari. Semoga di kunjungan berikutnya kita bisa dapat jadwal yang lebih longgar dan lebih lama agar proses pembelajaran semakin efektif,” kata Kusnan.

Menariknya, bagi petani Korea Selatan ini adalah hal yang baru. Selama ini mereka mendapatkan benih hanya melalui pemerintah atau beli dari perusahaan. Mereka tidak bisa menyilangkan benih sendiri karena negaranya masuk ke dalam skema UPOV (International Union for the Protection of New Varieties of Plants).

Praktek penyilangan padi yang dipandu langsung oleh Ketua Pusat Perbenihan Nasional SPI, Kusnan

UPOV telah bekerjasama dengan 56 negara anggota (per 2016) yang hanya mengakibatkan ketertindasan dan menghilangkan budaya pertanian serta ketergantungan benih dari produsen (petani kecil). Dimana harga yang ditentukan kadang tak terjangkau oleh petani kecil. Pemerintahan Amerika Serikat (AS) saja nyaris tumbang oleh industri benih karena mereka mengancam akan memberhentikan pasokan benih gandum dan jagung di AS.

Dalam sistem UPOV petani harus membayar royalti setiap kali menggunakan kembali benih komersil di lahan mereka. Komersialisasi benih, paten untuk penangkaran benih. Alhamdulillah, Indonesia tidak termasuk ke dalam UPOV.

Ali Fahmi, Ketua Departemen Penguatan Organisasi, Dewan Pengurus Pusat (DPP) SP menambahkan, bersama SPI, Korean Women Peasant Association (KWPA) dan Korean Peasant League (KPL) yang sama-sama anggota La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional) akan lebih merutinkan kegiatan seperti ini.

“Sistem pendidikan petani ke petani (peasant to peasant) ini memang adalah metode paling efektif bagi petani kecil untuk saling belajar, bertukar ilmu. Ini sepatutnya rutin dilaksanakan baik di level basis (desa) hingga level intenasional,” tuturnya.

Sementara itu kunjungan terakhir para petani Korea Selatan ini adalah mengunjungi Kabupaten Gunung Kidul, melihat langsung dari dekat mengenai budidaya dan pengolahan jamur tiram.