
ACEH TAMIANG. Di tengah dampak banjir yang melanda wilayah Aceh, praktik rakyat bantuk rakyat menjadi kekuatan utama untuk bertahan. Marsinem, seorang petani perempuan Serikat Petani Indonesia (SPI) dari Desa Tengku Tinggi, Aceh Tamiang, merasakan langsung bagaimana solidaritas sesama rakyat, keluarga, dan organisasi rakyat menjadi penopang kehidupan di saat situasi darurat pascabencana.
Pasca banjir yang terjadi pada akhir November lalu, berbagai bentuk bantuan datang ke rumah Marsinem. Ia menerima bantuan berupa bahan pangan, terutama dari sesama rakyat dan jaringan solidaritas. Bantuan tersebut sangat berarti bagi keluarganya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kondisi yang serba terbatas. “Bantuan yang paling membantu datang dari solidaritas keluarga yang ada di luar Aceh, dari Kampus Rokania di Pekanbaru, dan dari Serikat Petani Indonesia,” ujar Ibu Marsinem.

Marsinem juga menerima bantuan yang disalurkan melalui pemerintah desa. Menurut keterangan Marsinem, bantuan tersebut diberikan oleh perangkat desa sebagai perpanjangan tangan pemerintah. Namun, jumlah dan jenis bantuannya sangat terbatas. “Bantuan dari pemerintah itu yang kami terima dari kepala desa. Pemberiannya per satu kepala keluarga, kadang setengah kilo beras, kadang satu kilo. Itu pun tidak setiap hari, bisa tiga hari sekali, kadang dua hari sekali,” tuturnya. Hingga hari ini (21/12/2025), total bantuan beras yang diterimanya dari pemerintah hanya sekitar lima kilogram.
Bantuan lain yang diterimanya adalah mi instan yang dibagikan bersamaan dengan beras, jumlahnya 3-5 bungkus dalam satu kali penyaluran. “Kalaupun ada roti kering, itu hanya beberapa keping. Kalau pun ada air minum, paling hanya dua yang ukuran gelas sekali itu saja,” kata Marsinem. Ia menegaskan bahwa bantuan tersebut belum pernah mencukupi kebutuhan keluarga.
Marsinem menjelaskan bahwa tanpa bantuan dari keluarga dan pihak-pihak pribadi, kondisi mereka akan jauh lebih buruk. “Dengan pemerintah kami tidak bisa berharap. Kalau kami tidak ada bantuan dari pribadi-pribadi itu, memang kami kelaparan,” katanya. Ia juga membandingkan mekanisme penyaluran bantuan di desanya dengan desa lain. Menurutnya, di desa mereka bantuan hanya diantarkan oleh perangkat desa, sementara masyarakat tidak mengetahui bagaimana proses penyaluran bantuan di luar itu berlangsung.

Banjir yang terjadi membawa dampak besar bagi kehidupan keluarga Marsinem. Lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan luluh lantak, sementara berbagai peralatan rumah tangga rusak dan tidak dapat digunakan lagi. Situasi ini membuat kehidupan pascabencana menjadi semakin sulit, terutama bagi keluarga petani sepertinya.
Sebelum banjir melanda, kehidupan Marsinem sebagai petani sudah berada dalam kondisi yang pas-pasan. Harga pupuk yang mahal dan kelangkaan sarana produksi menjadi tantangan sehari-hari. “Sebagian besar petani Desa Tengku Tinggi ini tidak memiliki lahan pertanian sendiri. Lahan-lahan tersebut dirampas oleh perusahaan sejak masa Orde Baru. Kalaupun masih bertani, kami hanya menggarap lahan di desa tetangga dengan luasan yang terbatas, sekadar untuk mencukupi kebutuhan hidup,” ujarnya.
Banjir kali ini datang setelah hujan turun tanpa henti selama lima hari. Marsinem mengaku sangat cemas karena sebelumnya desanya tidak pernah mengalami banjir. Ketika air mulai naik dan masuk ke permukiman, rasa panik dan trauma pun tidak bisa dihindari. “Saya sangat trauma dan panik,” tuturnya.
Di tengah kondisi tersebut, solidaritas rakyat menjadi kekuatan utama. Bantuan yang datang dari rakyat dirasakan lebih cepat dan lebih sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Pengalaman Marsinem menunjukkan bahwa ketangguhan rakyat dan semangat saling membantu mampu menjaga kehidupan tetap berjalan, meskipun dalam situasi yang serba sulit.
Selain bantuan darurat, Marsinem juga menyampaikan harapannya ke depan. Ia berharap pemerintah dapat mengembalikan tanah-tanah pertanian yang selama ini dirampas oleh perkebunan agar petani bisa kembali bercocok tanam. “Harapan kami, tanah pertanian kami bisa dikembalikan, supaya kami bisa bertani lagi,” ujarnya.
Kisah Ibu Marsinem menjadi gambaran bagaimana praktik solidaritas sesama rakyat memainkan peran penting dalam menghadapi bencana. Di tengah keterbatasan bantuan yang diterima, praktik rakyat bantu rakyat menjadi kekuatan yang menjaga harapan dan keberlangsungan hidup para korban banjir. Pada sisi lain negara tidak hadir sepenuhnya di saat rakyat membutuhkan bantuan.
Selain dampak banjir, Marsinem juga menghadapi konflik agraria yang telah berlangsung lama di desanya. Lahan pertanian rakyat sejak dekade 1980-an masuk dalam konsesi perkebunan PT Parasawita dan kemudian beralih kepemilikan ke PT Rapala. Warga telah menempuh berbagai proses, termasuk mendatangi pemerintah daerah dan Badan Pertanahan Nasional, namun hingga kini lahan tersebut belum kembali ke tangan rakyat.