SPI Bentuk Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi (P3A)

Sesaat setelah pelantikan P3A SPI di Sekretarat DPP SPI, Jakarta, 21/07

JAKARTA. Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia (SPI) resmi membentuk Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi SPI di Jakarta (21/07).

Ketua Umum SPI Henry Saragih menyampaikan, kemampuan menghasilkan benih oleh petani harus melalui pertanian agroekologi, dan kelembagaan ekonomi petani dalam koperasi. Secara khusus, terkait pertanian agroekologi diperlukan suatu pengkajian dan pengembangan terhadap konsep-konsep maupun praktik-praktik penerpaan pertanian tersebut di masyarakat.

“Hal ini yang menjadi perhatian SPI dan mendasari pembentukan Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi (P3A),” tutur Henry di Jakarta.

Henry melanjutkan, setelah P3A SPI dibentuk, ditunjuklah Muhammad Qomarun Najmi asal Yogyakarta sebagai ketuanya.

“Sebagai sebuah metode cara bertani, agroekologi perlu terus ditingkatkan konsepnya dan perlu diperkuat penerapannya di wilayah-wilayah anggota SPI, dan juga di masyarakat pedesaan. Supaya pengkajian dan penerapannya benar-benar sistematis dan menyeluruh di anggota kita, maka kita bentuk pusat pengkajian dan penerapan agroekologi dan saudara Qomar kita angkat sebagai ketuanya,” sambungnya.

Henry menjelaskan, La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional) melakukan kajian-kajian terkait alternatif pertanian kontemporer, yang dikuasai oleh korporasi dan input-input kimia. Hasil dari kajian La Via Campesina tersebut kemudian dirumuskan ke dalam konsep pertanian Agroekologi yang diperkenalkan pada tahun 2010;

“Dalam perkembangannya, kita (SPI dan LVC) berhasil mendorong agroekologi menjadi model atau konsep pertanian alternatif diterima oleh FAO (Badan Pangan Dunia). Di tataran anggota La Via Campesina sendiri pertanian agroekologi ditafsirkan sesuai dengan kondisi dan nilai-nilai di masing-masing wilayah, seperti Zero Budget Natural Farming (ZBNF) di India, dan bentuk-bentuk pertanian alamiah lainnya,” imbuhnya.

Muhammad Qomarun Najmi, Ketua P3A SPI terpilih menyampaikan, program prioritas P3A SPI akan membuat strukturisasi agroekologi SPI, merapaikan data dan dokumentasi

“Ini akan memudahkan untuk berbagi pengetahuan antar petani. Berikutnya kita siapkan platform online untuk konsultasi agroekologi, yang akan difasilitasi oleh tim P3A SPI,” terangnya.

Qomar melanjutkan, selain untuk petani, P3A SPI akan membagikan pengetahuan tentang agroekologi kepada masyarakat umum sebagai pendidikan konsumen. Sehingga gerakan agroekologi benar-benar menjadi gerakan yang menyeluruh yang meliputi aspek teknis, sosial, ekonomi, budaya dan politik pertanian.

Qomar menekankan, kemerdekaan bangsa ini, adalah kemerdekaan untuk semua, termasuk untuk petani. Cita-cita kemerdekaan, menjadikan bangsa ini bangsa yang sejahtera, adalah juga untuk semua. Petani hanya bisa sejahtera jika petani berdaulat dan mandiri. Mandiri dalam hal produksi, juga distribusi.

“Dalam konteks ini, agroekologi bukan lagi menjadi alternatif produksi. Karena agroekologi adalah satu-satunya jalan untuk mencapai kemandirian petani, kedaulatan petani dan kesejahteraan petani,” tambahnya.

“Oleh karena itu agroekologi haruslah menjadi bagian tidak terpisahkan dari gerakan SPI,” tutupnya.