SPI Serukan Solidaritas untuk Korban Gempa NTT di Tengah Situasi Darurat

Serikat Petani Indonesia (SPI) menyampaikan duka cita dan solidaritas yang mendalam atas bencana gempa bumi yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026). Hingga dua hari pasca kejadian, masyarakat di berbagai wilayah masih berada dalam kondisi darurat dan belum dapat kembali menjalankan kehidupan seperti biasa.

Gempa yang berdampak di sejumlah kabupaten seperti Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Ende, Nagekeo, hingga Sikka telah menyebabkan kerusakan pada rumah-rumah warga, tempat ibadah, serta berbagai fasilitas umum. Di beberapa wilayah, gangguan juga terjadi pada infrastruktur dan akses antarwilayah, yang turut memengaruhi mobilitas warga dan penanganan di lapangan.

Berdasarkan informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT per Selasa (18/8/2026), jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 69 orang. Selain itu, 331 warga mengalami luka-luka dan lebih dari tiga puluh ribu orang lainnya mengungsi akibat kerusakan rumah serta situasi yang belum aman. Kerusakan juga terjadi pada ratusan rumah dengan kategori berat, sedang, hingga ringan, serta puluhan fasilitas umum seperti sekolah, layanan kesehatan, dan tempat ibadah turut terdampak.

Dilansir dari Detik.com, berdasarkan data terbaru BPBD NTT BPBD NTT mencatat sebanyak 19.297 rumah terdampak di Flores dan sekitarnya. Dari total rumah terdampak gempa tersebut, sebanyak 6.463 unit mengalami rusak berat, 2.481 unit rusak sedang, dan 12.006 unit rusak ringan.

Tidak hanya itu, kerusakan juga terjadi pada sejumlah fasilitas umum, satuan pendidikan sebanyak 658 unit, pelayanan kesehatan 172 unit, rumah ibadah 172 unit, perkantoran 187 unit, dan fasilitas umum 89 unit. Kerusakan tersebut terjadi di 8 kabupaten, yakni Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ende, Sikka, Ngada, Nagekeo, dan Sumba Timur.

Di wilayah perdesaan, petani dan masyarakat desa menjadi bagian dari kelompok yang terdampak langsung. Kerusakan rumah, terganggunya aktivitas sehari-hari, serta kerusakan lahan pertanian akibat terganggunya saluran irigasi memperberat kondisi yang dihadapi warga, terlebih gempa susulan masih terus berlangsung dan membatasi aktivitas masyarakat.  Sampai dengan hari ini (18/8/2026), tercatat jumlah gempa susulan mencapai 2.119 kali, dengan magnitudo terbesar adalah 6,2. 

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) SPI NTT, Bastian, menyampaikan bahwa gempa susulan masih sering terjadi dan terus dirasakan warga. Ia menjelaskan bahwa saat ini SPI NTT tengah melakukan pendataan terhadap anggota dan masyarakat terdampak di berbagai wilayah.

“Kami sedang melakukan pendataan anggota yang terdampak parah di Kisol, termasuk kerusakan gereja. Untuk korban meninggal, sementara yang kami ketahui ada satu orang di dekat lokasi tempat saya tinggal,” ujar Bastian.

Ia berharap kondisi segera membaik, gempa susulan mereda, dan warga dapat kembali menjalani aktivitas dengan lebih tenang tanpa diliputi kepanikan.

Sementara itu, berdasarkan informasi dari Yusuf, petani SPI di Manggarai Barat, hingga saat ini warga masih memilih bertahan di luar rumah karena gempa susulan yang masih sering terjadi dan menimbulkan kekhawatiran. Banyak keluarga mengungsi secara mandiri dengan keterbatasan tempat berlindung, sehingga kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, pakaian, obat-obatan, dan perlengkapan darurat menjadi penting untuk dipenuhi selama masa tanggap bencana.

Di tengah kondisi tersebut, SPI menyatakan solidaritas kepada seluruh warga terdampak. Solidaritas ini menjadi penting sebagai bentuk kehadiran bersama di tengah situasi sulit yang dihadapi masyarakat.

Sebagai bagian dari respons, DPW SPI Nusa Tenggara Timur saat ini membuka posko tanggap bencana. SPI mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut memperkuat solidaritas bagi warga terdampak gempa di NTT. Dukungan dalam bentuk pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan, pakaian, serta obat-obatan sangat dibutuhkan untuk membantu warga bertahan selama masa darurat.

Lebih dari itu, solidaritas antar rakyat menjadi kekuatan penting dalam menghadapi situasi bencana. Dukungan yang diberikan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan mendesak, tetapi juga menjadi penopang bagi masyarakat untuk tetap bertahan dan saling menguatkan di tengah kondisi saat ini.

SPI mendorong agar semangat gotong royong terus diperkuat, sehingga warga terdampak tidak menghadapi situasi ini sendirian. Solidaritas yang terbangun hari ini menjadi bagian penting dalam proses pemulihan kehidupan masyarakat ke depan. SPI mengajak seluruh anggota dan jaringan SPI, gerakan rakyat, dan masyarakat luas untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan bagi korban gempa di NTT.

Kontak lebih lanjut:

1. Ali Fahmi (Wakil Ketua Umum SPI) +62 813-1864-8684 

2. Zulfikar (Ketua Badan Tani Aksi SPI) +62 895-1836-5857

ARTIKEL TERKAIT
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU