#StayHomeButNotSilent : Kampanye Petani Sedunia, Lawan Corona, Tegakkan Kedaulatan Pangan

JAKARTA. COVID-19 telah melumpuhkan dunia. Virus mematikan ini telah mengekspos kerentanan sistem pangan global saat ini yang didominasi oleh pertanian berbasis industri, dan bahaya yang ditimbulkannya terhadap semua bentuk kehidupan.

Menurut Zainal Arifin Fuad, Ketua Departemen Luar Negeri Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia, masyarakat dunia harus belajar dari krisis ini, untuk selanjutnya berinvestasi dalam membangun sistem pangan lokal, kokoh, dan beragam.

“Negara harus mulai menerapkan ‘kedaulatan pangan’ melalui pertanian agroekologis yang semakin mungkin dikerjakan dengan adanya reforma agraria sejati. Sekali lagi, keadaan luar biasa yang dihadapi umat manusia saat ini harus memaksa semua negara untuk melindungi dan menjamin hak asasi petani dan rakyat yang bekerja di pedesaan, sebagaimana diartikulasikan dalam Deklarasi PBB tentang Hak Asasi Petani dan Rakyat yang Bekerja di Pedesaan (UNDROP) yang, disetujui pada 2018,” papar Zainal yang juga anggota Komite Koordinasi Internasional (ICC) La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional) di Jakarta pagi ini (03/04).

Zainal memaparkan, pandemik ini mengingatkan kita akan perlunya memiliki sistem kesehatan masyarakat yang kuat, yang selama bertahun-tahun dilumpuhkan secara sistematis oleh pemerintah demi privatisasi. Ini juga telah mengungkap wajah asli para penjual laba – agribisnis, perusahaan farmasi dan perusahaan transnasional lainnya yang mencari peluang bisnis di masa-masa sulit ini.

“Sementara itu, jutaan dari kita – petani kecil, produsen makanan skala kecil – terus memproduksi pangan dan memberi makan orang-orang, menjamin pasokan pangan nasional dan kedaulatan pangan,” tegasnya.

“Kita terus melakukan kegiatan ini – bertani – bahkan ketika berada dalam karantina, pembatasan aktivitas dan jam malam, dengan menghormati keanekaragaman hayati dan melalui produksi agroekologi. Kita tetap berusaha membangun kehidupan di atas tanah dan bumi kita sebagai prioritas, mendistribusikan hasil-hasil tani melalui membangun pasar-pasar lokal yang lebih berkeadilan,” sambungnya.

Zainal menjelaskan, sebagai anggota La Via Campesina, SPI turut serta dalam kampanye #StayHomeButNotSilent, kampanye petani global melawan covid-19 dengan tetap menegakkan kedaulatan pangan.

“Kampanye ini juga sekaligus memperingati Hari Perjuangan Petani Internasional yang setiap tahunnya diperingati pada 17 April,” tegasnya.

Zainal melanjutkan, sebagai satu kesatuan La Via Campesina, kami prihatin dengan kondisi pekerja pertanian dan para migran, yang beroperasi di bawah kondisi kerja yang berbahaya dan tanpa akses yang memadai ke layanan kesehatan atau tindakan keselamatan yang relevan. Anggota La Via Campesina di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika menuntut agar pemerintah mereka merespons dengan cepat dan bertanggung jawab terhadap kebutuhan sebagian besar masyarakat dan tidak hanya “memberikan stimulus bagi para kapitalis coronavirus”.

“Kami tidak ingin langkah-langkah ekonomi yang menguntungkan para elit seperti yang mereka lakukan di masa lalu dengan menebus bank dan bisnis untuk “menyelamatkan ekonomi”. Kami menuntut keadilan bagi kaum tani dan sektor-sektor tertindas di dunia. 17 April 2020 ini, kami menyerukan kepada seluruh petani sedunia untuk waspada terhadap semua jenis oportunisme dalam krisis global ini,” paparnya.

Galang Solidaritas !

Zainal menyampaikan, La Via Campesina akan terus mengungkap bahaya kapitalisme dan konsekuensinya, yang menyebabkan terjadinya krisis politik, sosial, ekonomi dan kesehatan. Keadaan kelas pekerja perkotaan dan pedesaan yang miskin menjadi semakin genting dengan penyebaran COVID-19 dan dampak ekonomi selanjutnya.

“Oleh karena itu, masyarakat dunia perlu mengambil momen ini, membangun solidaritas dan aliansi kelas, antara daerah pedesaan dan perkotaan. Aliansi antara sektor masyarakat yang rentan, produsen dan konsumen pangan skala kecil adalah suatu keharusan untuk mempromosikan perdagangan yang adil, makanan sehat. Selama krisis ini, kita harus mengekspos dan mengecam kebijakan ekspansionis berbasis laba dari perusahaan transnasional,” katanya.

Zainal melanjutkan, di saat krisis seperti terungkap bahwa hubungan manusia satu dengan lainnya adalah yang, dibandingkan sistem ekonomi dunia yang kapitalis.

“Kita berjanji untuk ttap di rumah sekaligus berjanji untuk tidak tinggal diam. Sekaranglah saatnya untuk melakukan perjuangan kreatif dari dalam batas-batas pertanian dan rumah kita. Mari kita berjanji untuk mengkonsumsi makanan dari koperasi dan komunitas petani lokal, dan bukan dari transnasional! Pergi ke pasar lokal, beli langsung dari produsen dan toko tetangga kita dengan tentunya tetap berikhtiar menjaga jarak demi kesehatan,” tutupnya.