Urban Farming sebagai Pengaman Sosial Lokal di Masa Pandemi

Oleh: Tri Hariyono*

Pandemi Covid-19 telah banyak membawa dampak signifikan terhadap kehidupan manusia. Aspek sosial, budaya, ekonomi, bahkan aspek ritual beragama mengalami perubahan. Perubahan ini bekerja pada level global, nasional, dan lokal. Salah satu aspek perubahan tersebut menyentuh paling fundamental dalam menopang hidup manusia, yaitu pemenuhan kebutuhan dasar yang kini juga berubah arah menuju titik nadir. Beberapa laporan menyebutkan bahwa petani (termasuk di dalamnya peternak) di beberapa daerah tengah terancam, bahkan sudah gulung tikar. Padahal, petani adalah tonggak utama dalam menjamin pemenuhan kebutuhan dasar; pangan. Jika petani tidak mampu lagi menanam, krisis pangan nampaknya sedang bersiap untuk segera datang. Pada sisi yang lain, karena kebijakan work at home, stay at home, belajar di rumah, physical distancing, hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga juga berdampak sosial ekonomi masyarakat. Dampak tersebut paling dirasakan oleh masyarakat yang bekerja di perkotaan, buruh, tenaga kerja informal, dan pekerja harian lainnya merupakan komunitas yang paling terdampak atas situasi tersebut. Ibarat pepatah, sudah jatuh ditimpa tangga pula. Ujungnya, nasib mereka menjadi semakin tidak pasti dan kemampuan untuk bertahan juga mengalami penurunan, termasuk mengakses kebutuhan paling dasar untuk bertahan hidup: pangan.

Ancaman krisis pangan di masa pandemi virus corona covid-19 ini menjadi hantu menakutkan bagi peradaban manusia. Betapa tidak, di tanah air kita tercinta sendiri yang katanya gemah ripah loh jinawi, baru-baru ini media nasional memberitakan terdapat empat anak di Serang, Banten, kehilangan ibunya di tengah pandemi bukan akibat infeksi virus, sang ibu wafat karena serangan jantung usai dua hari kelaparan (Kompas/22/04/2020). Kelaparan memang menjadi ancaman nyata di tengah pandemi ini. Menurut David Beasley, Direktur Eksekutif World Food Programme (WFP) yang merupakan bagian dari PBB, pada 2020 masyarakat dunia yang menderita kelaparan terancam meningkat hingga 265 juta orang. Setengah dari jumlah itu akibat pandemi virus corona jenis baru (Pikiran Rakyat 22/04/2020).

Terlebih lagi di Indonesia berdasarkan catatan Global Hunger Indonesia (GHI), tingkat kelaparan masyarakat Indonesia masih dalam kategori serius meski sudah mengalami penurunan dari 24,9% di tahun 2010 menjadi 20,1 di tahun 2019 (Dzulfaroh: 2019). Sudah banyak peristiwa kelaparan yang terjadi, semua peristiwa itu membuka mata dan hati kita, terutama bagi pemerintah untuk lebih waspada agar peristiwa mengerikan tersebut tidak terulang kembali. Krisis pangan menurut Astuti (2008) dalam sejarah telah memicu bencana kemanusiaan berupa kesehatan, sosial, dan keamanan. Oleh karenanya, dalam menghadapi ancaman krisis pangan selama pandemi ini diperlukan gerakan sosial bersama warga masyarakat yang tinggal di perkotaan untuk menjaga ketersediaan pangan melalui gerakan urban farming.

Mencegah Ancaman Krisis Pangan

Perkembangan dari Nilai Tukar Petani (NTP) menunjukkan tren menurun. Pada Maret 2020 NTP di setiap sub sektor mengalami penurunan; Akibat kebijakan pembatasan di beberapa daerah dan menjelang bulan Ramadan, terjadi kenaikan harga beberapa komoditas pangan di beberapa wilayah di Indonesia. Komoditas pangan yang paling menonjol adalah harga gula yang naik tajam hal ini dikarenakan kita masih mengimpor dikarenakan komoditas tanaman tebu belum bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, selain itu yang terlihat juga meningkat cukup tajam harga bawang putih, bawang bombay, dan gandum. Dwi Andreas (2020) mencatat, bahwa kita mengimpor gandum kurang lebih 11 juta ton per tahun. Intervensi pemerintah sudah dilakukan dengan menerapkan tarif, namun hal itu juga belum maksimal dan tidak berdaya dihadapkan harga pangan yang ditentukan oleh pasar.

Menurut sebagian pengamat, sejak Indonesia menerapkan revolusi hijau, para petani sebagai produsen bahan pangan secara berlahan tercerabut atau dipaksa tercerabut dari kebudayaan tani yang diwarisi secara turun-temurun untuk kemudian digantikan secara sepihak dengan strategi kebudayaan saudagar bangsa lain yang lebih unggul modal dan teknologinya. Dalam perkembangannya, di bawah sistem neoliberalisme dan pasar bebas, para saudagar yang bernaung di bawah perusahaan multinasional itulah yang kemudian menguasai pangan dari proses produksi, alat produksi, asupan, konsumsi, dan distribusinya.

Karena menguasai pangan dari hulu hingga hilir, maka perusahan-perusahaan multinasional sekaligus sebagai pemegang otoritas dalam menentukan harga. Dalam penentuan harga pertimbangannya tentu saja bahwa mereka menangguk keuntungan yang sebesar-besarnya. Sementara dipihak lain, petani yang dirampas dan dinafikan kedaulatannya tidak turut menikmati keuntungan dari perdagangan bahan pangan yang mereka produksi. Ironinya, ketika harga pangan jatuh, petani turut merasakan dampak krisisnya.

Dengan demikian, persoalan mengapa kenaikan harga pangan tidak atau kurang berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani adalah karena petani tidak lagi menjadi tuan atas hasil pertanian mereka sendiri. Dan, semua itu terjadi karena ada kekuatan sistem yang tidak memiliki mekanisme sistem pengendalian diri. Dalam konteks inilah ibadah puasa hendaknya tidak hanya sekedar membentuk pengendalian diri pada pribadi seorang muslim, melainkan juga harus diaktualisasikan sebagai kekuatan pendorong untuk melawan sistem yang tamak.

Pentingnya Urban Farming

Urban farming adalah sebuah konsep berkebun dengan memanfaatkan ruang yang ada di rumah atau pemukiman. Di tengah pandemi C\covid-19 konsep ini semakin marak, terutama bagi yang tinggal di kalangan perkotaan. Dengan melakukan aktivitas urban farming, masyarakat mendapat ketersediaan sayuran sebagai sumber nutrisi sehat, mengurangi impor sayuran, menghijaukan lingkungan, dan membantu mengurangi dampak pemanasan global. Pemahaman yang lebih mendalam dan meluas mengenai urban farming mengantarkan konsep ini tidak lagi sekadar gaya hidup kaum urban (perkotaan, red), tapi meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kualitas makanan, gizi, kesehatan dan lingkungan sekitar.

Di situasi krisis dan ditengah keterbatasan anggaran pemerintah, urban farming tepat dikembangkan sebagai suatu bentuk jaminan sosial lokal. Model-model pengembangan hidroponik dan akuaponik yang bahkan tidak membutuhkan tanah sebagai media tanam, bisa dilakukan dengan menaman berbagai macam tanaman yang bisa menjadi sumber-sumber ketahanan pangan (Mayasari: 2016). Ada banyak manfaat yang didapat dari konsep kedaulatan pangan di antaranya mencukupi kebutuhan pangan, dalam hal ini sayuran dari kebun sendiri, sehingga bisa menghemat pengeluaran dan terjamin kualitas produksinya. Selain itu, membangun solidaritas sosial dengan masyarakat sekitar yang membutuhkan untuk bersama-sama melalui krisis yang membayang di depan mata. Dan tentunya jangka waktu ke depannya kalau ada kelebihan produksi bisa menjadi penghasilan tambahan buat masyarakat.

Lalu bagaimana memulainya? Segala bentuk kegiatan diperlukan perencanaan. Begitu pula dengan perencanaan aktivasi urban farming. Menurut Rahmad (2020) pegiat urban farming dari Sekolah Tani Muda (Sekti Muda) Yogyakarta, bahwa kegiatan urban farming tersebut dikelola secara berkelanjutan dan kolektif. Kunci dari berkelanjutan di sini adalah menjaga kesuburan tanah. Ada dua cara menjaga kesuburan tanah, yaitu: pertama, menjaga kesuburan tanah (menambahkan nutrisi pada tanah yang nutrisi sebelumnya telah diambil oleh tanaman ketika masa pertumbuhan hingga panen). Kedua, menambahkan media tertentu guna menjaga kesuburan tanah dalam jangka waktu yang cukup lama. Dalam kondisi seperti ini, tanaman yang ditanam tidak ditujukan untuk komersil tetapi ditujukan untuk konsumsi keluarga atau masyarakat sekitar (catatan diskusi Aswaja Nusantara 16/04/2020). Beberapa langkah atau strategi yang perlu dipersiapkan dan diperhatikan dalam melakukan urban farming yang berkelanjutan, yaitu:

  1. Media tanam yang terdiri dari tanah, pupuk kendang, sekam, cocopit (agar gembur jika tanah yang digunakan adalah tanah yang cenderung lempung) dengan perbandingan 2:1:1:1, kemudian di campur rata. Media tanam ini minimal memiliki ketebalan 10-15 cm.
  2. Membuat media itu subur. Ada 3 indikator kesuburan tanah, yaitu: kesuburan fisik (tanah terlihat gembur), kesuburan biologis (ada aktivitas mikroorganisme), dan kesuburan kimiawi atau yang biasa kita kenal sebagai pupuk nitrogen, phospat, dll.
  3. Memilih komoditas. Menanam berbacam komoditas dalam satu waktu agar dapat dipanen secara bersamaan atau berdekatan. Pastikan benih yang digunakan cocok untuk dataran rendah.
  4. Memastikan dirawat secara optimal sampai panen dengan merawat kesuburan tanah.

Sedangkan berkaitan dengan media tanam, menurut Rahmad di situasi sekarang ini kurang cocok menggunakan hidroponik karena hidroponik memerlukan pupuk mix AB yang itu akan susah di dapat di kondisi lockdown seperti ini. Dianjurkan lebih ke pendakatan pertanian alami. Ada beberapa jenis tanaman sayuran yang tidak perlu disemai atau langsung ditaburkan yaitu seperti bayam, kangkong, kacang Panjang, buncis, dan timun. Pemupukan dilakukan secara rutin 3 hari sekali, disini POC (Pupuk Organik Cair) yang terdiri dari beberapa komponen, yaitu: (1) Nitrogen. Nitrogen ini berasal dari segala limbah yang mengandung banyak protein (jeroan ikan, keong, atau lele). (2) Phosphat. Phosphat ini berasal dari cangkang telor. Dan (3) Kalium. kalium ini verasal dari batang pisang. Adapun caranya dilakukan dengan model fermentasi yaitu mempersiapkan bahan untuk nitrogen, phosphate, dan kalium tersebut ditambah dengan gula jawa, dan air. Perbandingannya 1:1:1. Bahan-bahan tersebut dan gula dipotong-potong kecil kemudian dicampur air dan dimasukkan ke dalam toples dan ditutup diamkan selama 10-14 hari.

Di atas adalah cara untuk menjaga kesuburan kimiawi. Adapun cara untuk menjaga kesuburan biologis adalah dengan mencampurkan POC dengan bonggol (bagian bawah) pohon pisang atau akar (dapuran) bambu atau akar akar tanaman kemudian dimasukkan kedalam larutan gula dengan ditambahi telor atau micin atau limbah2 rumah tangga. Semua bahan dicampur dan kemudian disiramkan ke tanaman dengan perbandingan 1 liter air ditambah 1 cc larutan tersebut. Penerapan seperti ini apabila konsisten maka pada saat panen ke 2 dan 3 akan sangat bagus.

Apabila ingin menjaga kesuburan tanah maka dilakukan pergiliran jenis tanaman, misalnya awal adalah kangkung atau bayam maka selanjutnya bisa sawi, perlu diperhatikan juga bahwa ada tanaman-tanaman yang boros nutrisi dan tidak. Kangkung, bayam, dan sawi adalah tanaman yang tidak boros nutrisi sehingga setelah menanam tanaman tersebut bisa menanam timun atau pare atau yang lainnya. Tanaman jenis kacang-kacangan dapat menjaga kesuburan tanah karena tanaman kacang-kacangan dapat mengikat nitrogen dari udara. Sisa daun, batang, dan lainnya dari tanaman kacang-kacangan ini jika dimasukkan ke dalam media tanam dapat menambah jumlah nutrisi. Demikian.

Referensi

  • Ahmad Naufal Dzulfaroh, “Riset Indeks Kelaparan Global: Indonesia dalam Kategori Serius”, dalam https://www.kompas.com/tren/read/2019/12/03/163603665/riset-indeks-kelaparan-global-indonesia-dalam-kategori-serius.
  • Catatan Diskusi Aswaja Nusantara Yogyakarta, “Seri Ketahanan Pangan di Era Pandemi” Diskusi Online 01/05/2020.
  • Dwi Astuti, “Pangan Sebagai Gerakan Sosial”, dalam Basis No.05-06 Mei-Juni 2008.
  • Kartika Mayasari, “Konsep Urban Farming sebagai Solusi Kota Hijau”, dalam http://jakarta.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/publikasi/artikel/639-konsep-urban-farming-sebagai-solusi-kota-hijau

*Penulis adalah Sekretaris Wilayah DPW SPI Yogyakarta