Demplot Jadi Ruang Belajar, Melihat Tumbuhnya Agroekologi di Basis Rimpak Wonosobo

Dua minggu setelah pendidikan agroekologi pertama dilaksanakan, hamparan demplot di Basis Rimpak, Wonosobo mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Tanaman jagung dan kacang panjang yang ditanam bersama kini tumbuh cukup subur, menjadi penanda awal bahwa proses belajar yang sebelumnya berlangsung di ruang diskusi sudah mulai menemukan wujudnya di lahan.

Pada Sabtu, 9 Mei 2026, Dewan Pengurus Cabang (DPC) Serikat Petani Indonesia (SPI) Wonosobo kembali melaksanakan pendidikan agroekologi lanjutan di basis tersebut. Pertemuan ini tidak lagi berangkat dari pengenalan, tetapi merupakan kelanjutan dari praktik yang sudah berjalan sebelumnya.

Menurut Arifin, alumni pendidikan agroekologi nasional SPI yang berperan sebagai pemateri pendidikan ini, perkembangan awal demplot menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Tahapan awal pengolahan lahan yang dilakukan secara maksimal, mulai dari pengecekan pH tanah, penggemburan, hingga pemberian pupuk dasar, berkontribusi pada pertumbuhan tanaman yang dinilai lebih baik dibandingkan lahan sekitar yang masih menggunakan pola konvensional.

“Tanaman awal seperti jagung dan kacang panjang tumbuh sesuai harapan, bahkan bisa dikatakan lebih subur dibandingkan tanaman petani sekitar,” jelasnya. Dalam pertemuan kedua ini, para petani juga bersama-sama kembali mengecek kondisi lahan serta mulai menanam kopi sebagai komoditas jangka panjang, melihat stabilitas harga dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, pendidikan lanjutan ini tidak berhenti pada pemantauan pertumbuhan tanaman. Keanekaragaman hayati, penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan, hingga pengurangan ketergantungan terhadap input eksternal seperti pupuk kimia menjadi fokus utama. Petani juga didorong untuk mulai memproduksi pupuk sendiri, salah satunya melalui pemanfaatan mikroorganisme lokal (MOL) dari bonggol pisang yang telah dibuat pada pendidikan sebelumnya.

Meski demikian, proses peralihan tidak berjalan tanpa tantangan. Kebiasaan lama dalam penggunaan pupuk kimia masih menjadi bayang-bayang yang cukup kuat. “Petani masih ada rasa takut gagal ketika beralih ke praktik agroekologi,” ujarArifin. Ia menilai bahwa keberhasilan awal demplot menjadi penting untuk membangun kepercayaan diri petani dalam melanjutkan praktik ini.

Respons petani sendiri menunjukkan arah yang cukup positif. Sebagian besar mulai menunjukkan minat dan meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya agroekologi, baik untuk lingkungan maupun keberlanjutan produksi.

Hal serupa juga disampaikan oleh Indana, Ketua DPC SPI Wonosobo. Ia melihat keterlibatan anggota basis, terutama petani perempuan, menjadi salah satu kekuatan dalam proses ini. Petani perempuan berperan aktif dalam tahapan yang membutuhkan ketelitian, seperti pembibitan dan penanaman.

“Kalau yang pekerjaan berat seperti mencangkul biasanya dilakukan laki-laki, tapi yang lebih teliti seperti pembibitan dan penanaman banyak dikerjakan oleh petani perempuan,” ungkapnya.

Selain itu, praktik-praktik baru seperti pengecekan pH tanah, pemilihan bibit, hingga pembuatan kompos menjadi hal yang menarik bagi petani karena sebelumnya belum banyak diketahui. Aktivitas di demplot pun berjalan secara kolektif, dengan anggota yang secara bergantian memantau perkembangan tanaman, sekaligus mempersiapkan kebutuhan seperti penopang untuk tanaman kacang yang mulai tumbuh.

Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal waktu dan kesabaran. Peralihan dari sistem berbasis kimia ke organik membutuhkan proses yang tidak instan, baik dalam pembuatan pupuk maupun dalam melihat hasilnya di lahan.

Ke depan, pendidikan agroekologi di Basis Rimpak direncanakan akan terus berlanjut secara berkala. Pertemuan rutin setiap 40 hari akan dilakukan, mengikuti kebiasaan penanggalan Jawa yang masih digunakan oleh petani setempat. Dalam pertemuan mendatang, petani juga akan mulai mengembangkan praktik lain seperti pembuatan eco-enzyme dari limbah kulit buah, serta membahas penguatan koperasi petani.

Melalui proses ini, agroekologi tidak hanya dipahami sebagai teknik bertani, tetapi sebagai gerakan menuju kedaulatan. Dari benih hingga pupuk, petani mulai diarahkan untuk tidak lagi bergantung pada input eksternal, melainkan mengandalkan pengetahuan dan sumber daya yang sejatinya sudah dimiliki.

ARTIKEL TERKAIT
Seminar Diseminasi Hasil Riset Pengembangan Kawasan Daulat P...
SPI Mengadakan Workshop Agroekologi dan Kedaulatan Pangan Be...
Peringati 70 Tahun KAA, SPI Bangkitkan Kembali Semangat Asia...
SPI Kutuk Serangan terhadap Iran: Perang Mengancam Krisis Pa...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU