
JAKARTA. Kongres Partai Buruh resmi dibuka di Mahaka Square, Jakarta, pada Senin, 19 Januari 2026. Kongres ini menjadi momentum konsolidasi kekuatan politik rakyat kelas pekerja, buruh dan petani, dalam memperjuangkan keadilan sosial, demokrasi, serta kedaulatan atas sumber-sumber kehidupan.
Serikat Petani Indonesia (SPI), sebagai salah satu pelopor berdirinya Partai Buruh, menegaskan kembali komitmennya bahwa perjuangan politik tidak dapat dipisahkan dari perjuangan petani atas tanah, pangan, dan kedaulatan hidup. Sejak awal pendiriannya, Partai Buruh dibangun oleh serikat-serikat buruh dan organisasi rakyat, termasuk SPI, sebagai alat perjuangan politik untuk melawan ketimpangan struktural yang dialami rakyat kelas pekerja.
Dalam konferensi pers pembukaan kongres, Said Iqbal selaku Presiden Partai Buruh menegaskan sikap tegas partai terhadap berbagai isu strategis nasional. Salah satu sikap utama yang disampaikan adalah penolakan terhadap wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Menurutnya, pemilihan langsung kepala daerah merupakan amanat demokrasi yang dijamin dalam konstitusi.

Sebagai partai yang didirikan oleh 79 elemen serikat buruh dan organisasi rakyat, Partai Buruh juga menyatakan akan mendeklarasikan Manifesto Perjuangan Serikat Buruh dan Rakyat. Manifesto ini memuat berbagai tuntutan penting, mulai dari isu perburuhan hingga perjuangan petani dan rakyat desa.
Dalam konteks perjuangan petani, Said Iqbal menegaskan bahwa agenda kedaulatan pangan tidak boleh berhenti pada klaim swasembada pangan semata. Ia menyoroti bahwa tanpa reforma agraria sejati, kedaulatan pangan tidak akan pernah terwujud secara utuh.
“Kita menginginkan reforma agraria dan kedaulatan pangan itu diwujudkan, bukan berhenti di swasembada pangan. Kita berterima kasih, kita bangga swasembada pangan sudah dicanangkan, tapi reforma agraria belum tercapai. Konflik agraria masih di mana-mana, penyerobotan lahan-lahan petani oleh korporasi masih terjadi,” tegas Said Iqbal.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kedaulatan pangan harus berpihak pada petani dan rakyat sebagai konsumen, bukan semata pada angka produksi nasional. “Kedaulatan pangan tidak hanya berhenti di swasembada pangan. Harga beras masih tinggi, kita minta turunkan harga beras, turunkan harga BBM. Baru tercapai kedaulatan pangan dan kedaulatan energi,” lanjutnya.
Kongres Partai Buruh ini menegaskan kembali bahwa perjuangan buruh dan petani merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Melalui kongres ini, Partai Buruh dan SPI memperkuat langkah bersama untuk menjadikan politik sebagai alat perjuangan rakyat, serta memastikan bahwa suara petani dan buruh menjadi pusat dalam arah pembangunan nasional.