Mengenal Zimbabwe: Catatan Dari Konferensi Midterm La Via Campesina (2)

*Disarikan dari presentasi Elizabeth Mpofu, Koordinator Umum La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional) dalam Konferensi Midterm La Via Campesina di Harare, Zimbabwe (29-31 Agustus 2019)

Produksi Pangan

Di Zimbabwe, 70 persen pangan yang dikonsumsi secara nasional diproduksi oleh petani kecil di daerah pedesaan. Ada setidaknya 16 jenis tanaman pangan yang diproduksi petani kecil, sementara ada juga yang menanam tanaman non-pangan seperti tembakau dan kapas. Rantai produksi jagung di negeri ini juga telah berkembang dengan baik, mulai dari infrastruktur pasca panen hingga perusahaan pengolahannya. Saat ini, pemerintah sangat mendorong praktek-praktek pertanian berbasis industri, melalui Skema Komando Pertanian. Skema ini berfokus pada jagung dan biji-bijian sereal seperti gandum. Inilah yang meningkatkan ketergantungan petani kecil terhadap input-input pertanian dari korporasi. Ini jugalah yang memberikan kontrol korporasi atas para petani kecil, mengeksploitasi mereka melalui rendahnya harga panen, tingginya biaya input pertanian, sampai melibatkan petani dalam sistem kontrak yang sangat eksploitatif.

Produksi pangan di Zimbabwe juga sangat dipengaruhi oleh situasi iklim. Tiap dekadenya selalu ada 2 atau 3 masa kekeringan yang sangat lama. Frekuensinya semakin meningkat akibat perubahan iklim yang semakin nyata. Tahun ini saja, banyak daerah di Zimbawe dan beberapa bagian selatan dan Timur dan Afrika yang terdampak kekeringan. Aibatnya banyak tanaman yang gagal panen. Bulan Maret dan April tahun ini, Zimbabwe dan negara-negara tetangganya juga mengalami badai Idai dan badai Kenneth. Bencana alam ini menggusur ratusan ribu orang dari tempat tinggalnya, menewaskan ratusan orang, hingga menghancurkan tanaman pangan dan ternak para petani.

Melestarikan Benih Tradisional

Sama halnya di banyak belahan dunia lainnya, Zimbabwe juga mengalami serbuan benih-benih komersial. Ada pun korporasi multinasional yang berperan dalam serbuan ini, seperti Syngeta, SeedCo, Pannar, dan lainnya. Korporasi-korporasi ini pun sukses membangun rantai ketergantungan dengan membangun sistem yang mapan, mulai dari hulu hingga hilir. Benih-benih yang mereka pasok termasuk jagung, gandum, kacang tanah, bunga matahari, tebu, kacang-kacangan, kacang kedelai, hingga kapas. Jagung dan gandum adalah dua jenis tanaman yang memberi keuntungan cukup banyak bagi mereka, dan menjadi fokus dari Skema Komando Pertanian. Skema ini sendiri cenderung mendorong terjadinya pertanian monokultur dan penggunaan pupuk kimia.

ZIMSOFF (Zimbabwe Smallholder Organic Farmers’ Forum, organisasi tani level nasional di Zimbabwe, anggota La Via Campesina) dan organisasi dengan visi sejenis mendorong pemerintah untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan yang mendukung dan melindung benih-benih tradisional. Ini terealisasi dengan lahirnya program kedaulatan benih Zimbabwe yang sudah berjalan selama empat tahun terakhir. Namun, bencana kekeringan yang terjadi banyak menghilangkan keberagaman benih dan keanekaraman nutrisi. Skema dukungan benih pemerintah pun tidak cukup membantu karena sangat sedikit perhatian yang mereka berikan bagi tanaman pangan yang ditanam oleh petani kecil. Di sinilah peran ZIMSOFF dan ormas sejenis yang berinisiatif menggelar sebuah festival nasional. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingan pangan dan benih tradisional, khususnya bagi mereka yang tinggal di daerah pedesaan.

Di perkotaan, tren diet yang mengharuskan pelakunya mengkonsumsi pangan tradisional semakin meningkat. Praktisi medis banyak yang merekomendasikan agar pasiennya kembali mengkonsumsi pangan tradisional. Apotik-aporik herbal dan gerai yang menyediakan makanan berbasiskan pangan organik dan tradisional semakin populer dan menjamur di perkotaan.

*Bagian kedua dari dua bagian, bagian pertama bisa dilihat di sini