
TOKYO — Perwakilan Serikat Petani Indonesia (SPI) mengikuti kegiatan La Via Campesina Southeast and East Asia Woman Articulation di National Olympic Memorial Youth Center, Tokyo pada 23-28 Juni 2025. Kegiatan pertemuan tahunan ini diikuti oleh petani perempuan anggota La Via Campesina dari berbagai negara di Asia Tenggara dan Asia Timur.
Forum ini menjadi ruang bagi para petani perempuan untuk saling berbagi pengalaman, tantangan, dan strategi perjuangan. Pada kesempatan ini, SPI diwakili oleh Ratih Kusuma selaku Ketua Departemen Petani Perempuan SPI bersama dengan petani muda perempuan asal Yogyakarta, Nesia Aggelita Dewi.
Kegiatan ini meliputi analisis konteks terkait situasi sosial politik di Jepang dan Asia Timur yang berpengaruh terhadap petani perempuan, diskusi grup, serta ikut dalam kegiatan solidaritas Palestina. Tidak sampai di situ, peserta juga melakukan field trip ke Asako Farm untuk melihat benih lokal serta studi banding.
Adapun isu yang diangkat SPI dalam forum ini adalah diskriminasi dan ketidaksetaraan yang masih terjadi pada perempuan di Indonesia, khususnya petani perempuan dan perempuan pedesaan. Dalam paparannya, delegasi SPI menyampaikan pentingnya petani perempuan memiliki potensi untuk mengarahkan gerakan akar rumput menuju perjuangan untuk hak petani, hak atas tanah dan sumber daya, agroekologi, benih, dan ekonomi kerakyatan. Terkait hal itu, SPI telah melakukan beberapa upaya untuk mencapai hal tersebut, di antaranya adalah melalui pertemuan petani perempuan SPI pada 2024 lalu.
Melalui keterlibatan ini, SPI menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kapasitas dan peran perempuan petani sebagai elemen penting dalam perjuangan reforma agraria dan kedaulatan pangan. “Kita akan meningkatkan pendidikan dan sharing pengalaman melalui media WhatsApp dan Zoom yang mudah dijangkau oleh petani kita, serta pertemuan langsung jika memungkinkan,” ujar Ratih ketika ditanya terkait tindak lanjut SPI setelah kegiatan ini.

Nesia menyampaikan bahwa krisis iklim telah mengganggu pola tanam di daerahnya, menyebabkan gagal panen dan menambah beban perempuan petani. Selain bekerja di ladang, perempuan juga bertanggung jawab atas kebutuhan rumah tangga. “Kami yang pertama merasakan dampaknya, tapi peran kami masih sering diabaikan,” ujarnya. Ia juga menyoroti dampak krisis ini terhadap gadis-gadis muda yang terpaksa bekerja di luar desa atau menikah muda karena tekanan ekonomi. Permasalahan inilah yang dikhawatirkan dapat memutus regenerasi petani perempuan jika tidak segera diatasi secara adil dan berkeadilan gender.
Tidak sampai di situ, Nesia juga membagikan pengalaman perempuan petani kecil yang sehari-hari bekerja penuh, namun sering tak diakui sebagai produsen pangan. Ia menekankan bahwa melalui SPI, petani perempuan mulai belajar bicara, memimpin, dan mengorganisir diri. Kami membangun kelompok perempuan, menjadi pengurus koperasi, dan ikut mengadvokasi hak-hak kami sebagai produsen pangan.
“Kami yakin bahwa tanpa petani perempuan, tidak ada kedaulatan pangan,” pungkasnya.
Sebagai penutup, Ratih selaku Ketua Departemen Petani Perempuan SPI menyampaikan harapan dan semangat kolektif yang lahir dari keikutsertaan dalam forum ini. Ia menegaskan pentingnya memperkuat solidaritas perempuan tani, baik di tingkat lokal maupun internasional
“Petani Perempuan sebagai Ibu Kedaulatan Pangan dan garda terdepan dalam menghadapi krisis iklim diharapkan dapat terus meningkatkan kapasitasnya untuk tetap bertani dalam situasi dan kondisi apapun demi mewujudkan kedaulatan pangan, reforma agraria, dan peningkatan ekonomi dengan penjualan hasil bumi ke koperasi. Selain itu juga terus memperjuangkan hak-hak petani yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan sebagai petani serta menghilangkan segala bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan.
Ratih juga mengajak kader petani muda perempuan untuk bersama sama hidup Sejahtera sebagai petani dan bisa memberi makan dunia sebagaimana perannya sebagai Ibu Kedaultan pangan. “Tanpa petani kita tidak bisa makan dan kami petani perempuan bangga menjadi petani. kami juga bercita-cita untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara agraris gemah ripah loh jinawi,” pungkasnya.
Saya ingin tergabung dan terafiliasi dengan SPI
Papua Tegah siap bangun SPI