Petani Desak Mari Pangestu

Anggota Majelis Pimpinan Nasional SPI, Sago Indra, mendesak Menteri Perdagangan RI Mari Pangestu untuk tidak melemahkan posisi negara-negara kelompok G33 di perundingan Bilateral dan Miniministerial meeting WTO di Geneva 21-25 Juli 2008.

Dalam pertemuan di sela-sela perundingan green room WTO di Geneva Selasa 22 Juli Sago mengatakan, ” dengan adanya krisis pangan di dunia dan juga di Indonesia tidak sepantasnya apabila G33 justru menurunkan permintaannya dalam SP/SSM dengan posisi lebih rendah dari 18% tarif line”. Bahkan seharusnya posisi SP/SSM diperkuat, karena tanpa perlindungan yang demikian kuat dari pemerintah atas impor pangan maka ketergantungan pada pasar pangan dunia makin tinggi.

Mari Pangestu berpandangan bahwa “karena WTO adalah negosiasi, maka kita bisa turunkan permintaan kita pada SP/SSM dan meminta negara-negara maju untuk mengambil leadership juga untuk mengurangi subsidi pertaniannya”.

Namun Sago yang merupakan petani padi dan sayuran di Payakumbuh Sumatera Barat, menyatakan “bahwa ekspor yang diingankan oleh Mendag tidak memberikan dampak menguntungkan pada petani. Karena pendapatan ekspor tidak dinikmati oleh petani, tetapi oleh pengusaha”. Sago berpandangan kebijakan neoliberal ala WTO sudah seharusnya diakhiri, karena telah terbukti menciptakan krisis pangan.