Seminar Internasional Kongres Partai Buruh Soroti Geopolitik Global dan Peran Gerakan Rakyat

JAKARTA. Seminar internasional yang menjadi bagian dari rangkaian Kongres Partai Buruh digelar di Hotel Tavia, Jakarta, Minggu (18/1/2026). Kegiatan ini membahas dinamika politik global, geoekonomi, serta posisi strategis gerakan rakyat internasional dalam menghadapi menguatnya rezim perdagangan bebas dan rivalitas kekuatan dunia.

Para pembicara tersebut antara lain Emmanuel Hizon, Wakil Presiden Partai Akbayan Filipina; Machris Cabreros, Global Coordinator of Progressive Alliance; Professor Teri Caraway, Guru Besar Ilmu Politik dari University of Minnesota, Amerika Serikat; Zainal Arifin Fuat, Wakil Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) sekaligus Koordinator Internasional La Via Campesina untuk kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur; serta Said Salahudin, Wakil Presiden Partai Buruh.

Dalam paparannya, Zainal menekankan bahwa situasi global saat ini ditandai oleh pergeseran geopolitik yang semakin tajam, di mana kepentingan ekonomi dan keamanan negara-negara besar saling berkelindan.

Ia menjelaskan bahwa berbagai skema kerja sama ekonomi dan perdagangan bebas seperti RCEP, CPTPP, IPEF, hingga berbagai aliansi strategis di kawasan Indo-Pasifik, tidak bisa dilepaskan dari konteks perebutan pengaruh global. “Perdagangan bebas hari ini tidak berdiri netral. Ia menjadi bagian dari kontestasi geopolitik dan seringkali berdampak langsung pada petani, buruh, dan rakyat kecil,” ujar Zainal dalam seminar tersebut.

Zainal juga memaparkan bagaimana melemahnya multilateralisme ditandai dengan semakin tidak berdayanya lembaga-lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akibat rivalitas kekuasaan global. Kondisi ini, menurutnya, mempersempit ruang advokasi bagi kebijakan internasional yang pro-rakyat, termasuk implementasi UNDROP (Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Petani dan orang yang bekerja di pedesaan) yang selama ini diperjuangkan oleh SPI bersama jaringan gerakan tani internasional.

Lebih jauh, ia menyoroti fenomena pangan yang digunakan sebagai alat tekanan politik atau weaponized interdependence. Konflik Rusia–Ukraina, ketegangan perdagangan Amerika Serikat dengan berbagai negara, hingga agresi dan blokade terhadap Palestina menjadi contoh bagaimana akses pangan, energi, dan pasar dijadikan instrumen tekanan geopolitik. Tidak sampai di situ, neokolonialisme dan imperialisme juga menjadi permasalahan utama yang ada saat ini. Penculikan Maduro dan ancaman terhadap kedaulatan negara-negara Latin Amerika,seperti Kuba dan Colombia, dan pemaksaan perdagangan luar negeri di bawah pemerintahan Trump menjadi contoh nyata yang terjadi.

Dalam konteks tersebut, Zainal menekankan pentingnya gerakan rakyat internasional sebagai kekuatan penyeimbang terhadap dominasi negara dan korporasi global. Ia memaparkan berbagai momentum konsolidasi gerakan rakyat dunia yang diikuti SPI pada 2025, seperti Nyéléni Forum di Sri Lanka, Konferensi Tingkat Tinggi Rakyat di Brasil, Civil BRICS, hingga agenda-agenda internasional mendatang di 2026 seperti ICARRD di Kolombia, perlawanan terhadap WTO, Forum Sosial Dunia, serta aksi-aksi menentang Bank Dunia dan IMF.

Dalam sesi diskusi, Zainal mendorong Partai Buruh untuk mengambil peran lebih aktif dalam jaringan politik internasional. Ia menyebut pentingnya keterlibatan Partai Buruh dalam forum-forum seperti Progressive Alliance, serta penguatan kerja sama antarpartai buruh di tingkat Asia dan ASEAN, seiring dengan dinamika geopolitik dan geoekonomi kawasan.

“Jika ada tantangan untuk bergerak menggunakan nama Partai Buruh secara langsung, maka organisasi-organisasi inisiator seperti SPI dapat mengambil peran sebagai pengganti, agar keterlibatan dalam gerakan internasional tetap berjalan,” ujarnya. Ia menilai sinergi antara partai politik dan organisasi rakyat menjadi kunci dalam membangun kekuatan progresif lintas negara.

Seminar internasional ini menegaskan bahwa perjuangan buruh dan petani tidak dapat dilepaskan dari konteks global. Melalui pemahaman geopolitik, kritik terhadap perdagangan bebas, serta penguatan solidaritas internasional, Kongres Partai Buruh membuka ruang untuk merumuskan langkah perjuangan yang lebih terhubung dengan dinamika rakyat dunia.

ARTIKEL TERKAIT
17April | Kedaulatan Pangan di Tengah Perang, Imperialisme, ...
Dominasi WTO dan FTA Timbulkan Ketimpangan dan Kemiskinan, S...
Perjanjian Dagang RI-AS Mengancam Kedaulatan Pangan dan Keda...
SPI Jadi Tuan Rumah Pertemuan Regional La Via Campesina Asia...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU