
MANGGARAI BARAT. Serikat Petani Indonesia (SPI) menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan agroekologi serta pembangunan Kawasan Daulat Pangan di Desa Golo Kempo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, pada 8–11 Desember 2025. Kegiatan ini bertujuan mendorong masyarakat, khususnya petani muda, untuk menerapkan prinsip-prinsip agroekologi dalam praktik pertanian sehari-hari.
Ketua DPW SPI NTT, Baltasar Anggal, menjelaskan bahwa pendidikan agroekologi diselenggarakan untuk memastikan pertanian dan pelestarian lingkungan dapat berjalan selaras tanpa menimbulkan kerusakan ekosistem. “Pendidikan agroekologi ini bertujuan mengintegrasikan pertanian dengan lingkungan sosial dan ekosistemnya, sehingga petani benar-benar menghargai alam sebagai sumber pangan yang harus dijaga,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Sekretaris Umum DPW SPI NTT, Roy, yang turut hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Ia menuturkan bahwa pendidikan agroekologi ini menjadi sarana untuk melatih petani di tingkat basis, terutama petani muda, agar konsisten menggunakan pupuk organik dalam praktik pertanian.
Dalam prinsip agroekologi, penggunaan pupuk organik memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya kesuburan tanah. Selain itu, penerapan pupuk organik juga menjadi upaya untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang berdampak buruk terhadap tanah dan lingkungan.

Pendidikan dan pelatihan ini juga merupakan bagian dari upaya SPI, khususnya di wilayah NTT, untuk memperkenalkan secara langsung praktik nyata perjuangan pemenuhan hak-hak petani, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan budidaya tanaman secara mandiri dan berkelanjutan.

Sebagai tindak lanjut, peserta pendidikan dan pelatihan akan menyusun rencana aksi yang akan dilaksanakan di basis masing-masing. Salah satu peserta, Ervan, menyatakan akan membagikan pengalaman serta pengetahuan yang diperolehnya selama kegiatan. “Saya akan menerapkannya di basis saya dengan mengajak petani mencoba membuat kompos dan bokashi sesuai prosedur yang diajarkan hingga berhasil dan dapat dimanfaatkan secara optimal,” tuturnya.
Sementara itu, Susan, peserta lainnya, berencana melakukan sosialisasi organisasi SPI, membuka sekolah lapangan, serta memberikan demonstrasi pembuatan pupuk. “Saya akan membagikan pengetahuan yang saya dapatkan di sini kepada kelompok tani di basis saya, terutama mengenai pembuatan pupuk organik, baik cair maupun padat,” ujarnya.
Melalui pendidikan agroekologi ini, SPI berharap dapat memperluas basis gerakan di wilayah NTT, sehingga semakin banyak petani yang mengenal dan menerapkan prinsip-prinsip agroekologi. Dengan demikian, petani diharapkan dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia dan menjaga keberlanjutan tanah pertanian mereka.