Aksi simpatik mengusir WTO

CIMG0986GENEVA. La Via Campesina dan gerakan rakyat Geneva menggelar aksi damai dengan menyalakan lilin persis di depan gedung tempat konferensi tingkat menteri WTO ke-7 berlangsung, Senin (30/11). Para demonstran mengatakan liberalisasi perdagangan merupakan biangkeladi dari krisis yang terjadi saat ini dan mendesak WTO keluar dari pertanian.

Aksi diiikuti oleh delegasi La Via Campesina yang datang dari India, Indonesia, Jepang, Korea, India, Filipina, dan sejumlah negara Eropa. Semua peserta aksi berjajar mengenggam sebatang lilin yang bertuliskan “Down down WTO!”, “WTO cooking crises”, “Food sovereignty now!”.

Aksi bakar lilin dilakukan untuk menunjukkan bahwa gerakan menentang WTO merupakan aksi non kekerasan, mengingat dua hari sebelumnya aksi menentang WTO yang diikuti 5000 orang disusupi perusuh yang menyebabkan kekacauan di kota Geneva. “Musuh kami bukanlah kota Geneva atau polisi, kami hanya ingin menggagalkan WTO,” kata Mohammad Ikhwan, salah seorang delegasi asal Indonesia.

Sebelumnya 3 orang delegasi asal Korea dilarang masuk ke Geneva untuk melakukan protes terhadap WTO. Ada kabar yang mengatakan pelarangan tersebut terkait erat dengan upaya protes yang dilakukan 3 orang Korea tersebut terhadap WTO, sehingga mereka diblacklist. Hal ini merupakan sebuah preseden buruk terhadap demokrasi dan hak untuk menyatakan pendapat. WTO berupaya untuk membungkam setiap pendapat yang mengkritisi kebijakan pasar bebas, dan ini menunjukkan serangan terhadap demokrasi.

Kedaulatan pangan sekarang juga
La Via Campesina sebagai organisasi gerakan petani kecil menawarkan kedaulatan pangan sebagai jalan keluar dari krisis. Pasar bebas tidak akan mampu memberikan makan kepada penduduk dunia dengan adil. Hanya masyarakat sendiri yang berhak menentukan apa yang ingin dia tanam dan apa yang ingin dia konsumsi tanpa determinsasi dari pasar global.

Aturan yang ada di WTO memberikan kesempatan kepada perusahaan-perusahaan besar untuk menghegemoni produksi dan konsumsi pangan rakyat. Pada akhirnya rakyat akan kehilangan kemerdekaannya untuk menentukan produksi dan konsumsi atas pangannya sendiri.

Keadaan ini harus diubah, gerakan rakyat tidak bisa berdiam diri tapi harus bangkit melawan rejim pasar bebas. WTO sebagai salah satu pilar rejim pasar bebas harus diusir keluar dari pertanian.