Peringatan Hari Buruh 2011: Indonesia dalam Gurita Korporatokrasi

JAKARTA. Ribuan buruh dan elemen gerakan masyarakat sosial lainnya berkumpul di depan istana negara, Jakarta untuk memperingati Hari Buruh Internasional (May Day), tadi siang (01/05). May Day kali ini dilaksanakan di saat dunia menghadapi krisis kapitalisme global. Situasi tersebut disebabkan kebijakan ekonomi yang dilasanakan selama ini mengandalkan mekanisme pasar yang liberal, dimana setiap sektor perokomian terkoneksi satu sama lainnya. Salah satu penjelmaan sistem kapitalisme global adalah korporatokrasi (korporasi, lembaga keuangan dunia, dan penyelenggara pemerintahan yang bergabung menyatukan kekuatan finansial dan politiknya untuk memaksa masyarakat mengikuti kehendak mereka) yang saat ini semakin menancapkan kukunya dalam setiap aspek kebijakan di Indonesia.

Henry Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia menegaskan bahwa saat ini pemerintahan yang dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono selalu berpihak terhadap kepentingan korporatokrasi dalam menelurkan setiap kebijakan.

“Lihat saja dalam peringatan Hari Buruh kali ini, SBY tidak turun dan menjamu kita rakyatnya (para buruh dan gerakan masyarakat sosial), dia malah sibuk mendatangi perusahaan-perusahaan yang sering mencederai rakyat,” teriak Henry pada saat menyampaikan orasi solidaritasnya di depan massa.

Henry menjelaskan bahwa perusahaan baik yang berskala multinasional (MNCs), transnational (TNCs) maupun nasional, telah menjadi aktor yang sangat berpengaruh  dalam menentukan politik pembangunan sebuah bangsa di tingkat lokal, nasional, regional, bahkan secara global. Kekuasaan korporasi sebagai representasi pasar telah masuk berbagai sendi dasar kehidupan manusia mau-pun kebijakan negara.

“Sudah berapa banyak perusahaan yang mengusir petani dari tanahnya sendiri? Sudah berapa banyak korban yang jatuh akibat kriminalisasi perusahaan yang memaksa rakyat keluar dari tanah nenek moyangnya? Sudah berapa banyak yang ditindak? Hampir tidak ada, itu akibat saat ini pemerintahan kita sudah berada dalam genggaman korporatokrasi tersebut,” ungkap Henry yang juga menjabat sebagai Koordinator Umum La Via Campesina (Organisasi Petani Internasional).

Peringatan Hari Buruh Sedunia tadi siang juga menuntut untuk menghapus sistem kerja kontrak (outsourcing). Sutrisno Sastromiharjo dari Serikat Buruh Indonesia (SBI) se-Jabodetabek mengungkapkan bahwa seluruh elemen buruh dan gerakan masayarakat sosial harus bersatu untuk memerangi sistem kapitalisme dan neoliberalisme global yang semakin mengakar di negeri ini.

“Pemerintah seharusnya mencabut seluruh kebijakan dan perundangan ketenagakerjaan yang tidak memihak kaum buruh dan tani dan hanya menguntungkan pemodal dan korporasi,” tambahnya.

ARTIKEL TERKAIT
Posisi SPI dalam Kebijakan Sawit di Indonesia: 100 Tahun Industri Sawit, Melanggengkan Kolonialisme Posisi SPI dalam Kebijakan Sawit di Indonesia: 100 Tahun Ind...
Menyikapi pertemuan tingkat menteri Kelompok Cairns ke-33 di Bali Menyikapi pertemuan tingkat menteri Kelompok Cairns ke-33 di...
MARSIALAPARI SPI Padang Lawas Lestarikan Budaya Marsialapari
Agroekologi ala La Via Campesina kontra korporatisasi agribi...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU