Di sebuah hamparan sawah di Sendangmulyo, Sleman, tradisi wiwitan masih dijalankan dengan khidmat. Bagi sebagian orang, ia mungkin tampak sebagai ritual sederhana sebelum panen. Namun bagi petani, wiwitan adalah pintu masuk menuju sistem pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi, pengetahuan yang hari ini semakin relevan dalam praktik agroekologi.
Wiwitan berasal dari kata wiwit, yang berarti memulai atau mengawali. Tradisi ini dilakukan sebelum panen padi sebagai bentuk rasa syukur kepada bumi dan Tuhan atas hasil yang akan dipetik. Prosesi dilakukan dengan menyiapkan sesaji berupa makanan, doa bersama, hingga pengambilan malai padi pertama, biasanya berjumlah 12 atau 24 tangkai, mengikuti hitungan Jawa pada hari pelaksanaan.

Namun, makna wiwitan tidak berhenti pada seremoni.
Bagi Trie Haryono, petani SPI dari Sleman, wiwitan adalah bagian dari rangkaian panjang pengetahuan pertanian yang utuh. “Wiwitan itu bukan berdiri sendiri. Setelah itu ada rangkaian lain seperti labuh megawe saat olah lahan, ngliliri di fase pertumbuhan, sampai ngerujaki menjelang fase generatif. Itu semua satu sistem,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa rangkaian tradisi tersebut adalah cara leluhur petani mengelola sekaligus mewariskan pengetahuan. “Leluhur kita itu mengamati alam terus-menerus. Dari situ jadi data, lalu diolah jadi informasi, berkembang jadi pengetahuan, dipraktikkan jadi kebijaksanaan lokal, dan akhirnya jadi budaya tani,” ujar Trie.
Pengetahuan itu tidak disampaikan dalam bentuk buku atau rumusan ilmiah, melainkan disimpan dalam simbol-simbol yang hidup dalam praktik, termasuk melalui sesaji dalam wiwitan.
Jika ditelaah lebih jauh, komponen sesaji dalam wiwitan tidak sekadar simbol, tetapi memiliki fungsi yang selaras dengan prinsip agroekologi. Dupa, misalnya, dalam praktik tradisional digunakan sebagai bagian dari pengendalian hama. Asapnya diyakini mampu mengusir organisme pengganggu tanaman.

Nasi yang disajikan dalam wiwitan juga bukan tanpa makna. Dalam perspektif agroekologi, bahan organik seperti nasi dapat menjadi medium tumbuh mikroorganisme yang berperan penting dalam meningkatkan kesuburan tanah. Mikroba ini membantu proses dekomposisi dan memperkaya unsur hara secara alami.

Demikian pula dengan bunga-bungaan yang digunakan. Selain simbol keindahan dan harmoni, bunga mengandung unsur mikro mineral yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah kecil namun krusial. Sementara kecambah yang disertakan dalam sesaji diketahui sebagai sumber hormon pertumbuhan alami, seperti auksin, yang berperan dalam merangsang perkembangan tanaman.
Telur yang menjadi bagian dari sesaji juga dapat dipahami sebagai sumber asam amino, yang dalam konteks pertanian organik berfungsi sebagai nutrisi tambahan bagi tanaman dan mikroorganisme tanah.
“Dupa itu sebenarnya untuk pengendalian hama. Nasi jadi media mikroba. Bunga untuk mikro mineral, kecambah itu sumber hormon auksin, dan telur untuk asam amino,” terang Trie.

Bahkan jajanan pasar yang sering dianggap pelengkap memiliki dimensi sosial-ekonomi. “Jajan pasar itu simbol solidaritas dan jejaring pasar lokal. Jadi bukan sekadar makanan,” tambahnya.
Jika ditarik lebih jauh, praktik ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal petani tidak hanya berbicara soal teknik budidaya, tetapi juga mencakup hubungan ekologis dan sosial secara menyeluruh. mulai dari tanah, tanaman, hingga komunitas.
Dalam konteks agroekologi, pendekatan seperti ini justru menjadi rujukan penting. Agroekologi menekankan penggunaan sumber daya lokal, penguatan keanekaragaman hayati, serta pengurangan ketergantungan pada input eksternal. Semua prinsip ini telah lama hidup dalam praktik pertanian tradisional seperti yang tercermin dalam wiwitan dan rangkaiannya.

Melalui wiwitan, petani tidak hanya merayakan panen, tetapi juga merawat pengetahuan lokal tentang bagaimana bertani yang selaras dengan alam. Ia menjadi medium pembelajaran yang tidak tertulis, namun terus dipraktikkan dan diwariskan.
Tidak sampai di situ, wiwitan juga merupakan proses seleksi benih dimana dipetik yang paling bagus sebelum di penen semuanya, kemudian disimpan dan untuk ditanam pada musim tanam berikutnya.
Di tengah tekanan sistem pertanian modern yang cenderung seragam dan bergantung pada industri, tradisi ini menawarkan perspektif lain, bahwa kemandirian petani bisa dibangun dari pengetahuan petani itu sendiri. Menjaga tradisi ini bukan soal mempertahankan masa lalu, melainkan memastikan masa depan pertanian tetap berpijak pada kekuatan petani.
Wiwitan, dengan segala simbol dan praktiknya, menjadi bukti bahwa di balik tradisi, tersimpan ilmu. Dan di tangan petani, ilmu itu terus hidup, diolah, dipraktikkan, dan diwariskan sebagai fondasi pertanian.