
WONOSOBO. Upaya membangun kemandirian petani terus diperkuat oleh Serikat Petani Indonesia (SPI) melalui pendidikan agroekologi di berbagai daerah. Di Kabupaten Wonosobo, langkah tersebut diwujudkan melalui Pendidikan Agroekologi dan pembuatan demplot pertanian yang dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Cabang (DPC) SPI Wonosobo di Basis Desa Rimpak, Kecamatan Sapuran pada Sabtu (25/04/2026).
Kegiatan yang diikuti oleh 30 petani ini tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga langsung diarahkan pada praktik dan penerapan di lapangan. Melalui pendidikan ini, petani didorong untuk mulai beralih dari sistem pertanian konvensional yang bergantung pada input eksternal, menuju agroekologi yang selaras dengan alam.
Pemateri sekaligus pemuda tani SPI, Arifin, menjelaskan bahwa kondisi pertanian di wilayah tersebut masih didominasi oleh praktik monokultur dengan ketergantungan tinggi pada pupuk dan pestisida kimia. “Di Desa Rimpak dan sekitarnya, mayoritas petani masih mengandalkan sistem pertanian monokultur dengan input kimia tinggi. Hal ini menyebabkan biaya produksi meningkat, tanah menjadi keras dan miskin unsur hara, serta serangan hama penyakit semakin sulit dikendalikan,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut justru menunjukkan urgensi perubahan. “Padahal wilayah ini memiliki potensi besar untuk pengembangan pertanian berkelanjutan berbasis kearifan lokal. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas petani melalui agroekologi agar mampu menerapkan sistem pertanian yang lebih sehat, murah, mandiri, dan tahan terhadap perubahan iklim,” lanjut Arifin.

Dalam pendidikan ini, peserta tidak hanya mendapatkan materi tentang sejarah dan konsep agroekologi sebagai ilmu dan gerakan, tetapi juga praktik langsung seperti pembuatan kompos, Mikroorganisme Lokal (MOL), dan Pupuk Organik Cair (POC). Proses belajar ini kemudian dilanjutkan dengan pembangunan demplot pertanian agroekologi di lahan basis sebagai media pembelajaran bersama.
Arifin menegaskan bahwa demplot menjadi kunci dalam memastikan pengetahuan tidak berhenti di ruang pelatihan. “Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk membangun model pertanian masa depan yang tidak hanya produktif, tetapi juga selaras dengan alam dan berdaulat pangan,” ujarnya.

Pendidikan agroekologi ini diharapkan mampu mengubah praktik pertanian sekaligus memperbaiki kondisi ekonomi petani. “Dengan adanya pendidikan ini, petani dapat meningkatkan produktivitas, menggunakan input yang lebih ramah lingkungan, serta meningkatkan keanekaragaman hayati di lahan petani,” jelas Arifin. Ia menambahkan bahwa penggunaan input yang diproduksi sendiri seperti kompos dan POC juga akan berdampak pada penghematan biaya produksi. “Dengan begitu, pendapatan petani bisa meningkat dan kesejahteraan keluarga juga ikut membaik,” tambahnya.
Ketua DPC SPI Wonosobo, Indana, menyampaikan bahwa pendidikan agroekologi ini menjadi ruang belajar yang aktif bagi perempuan di basis. “Sekitar 70 persen peserta itu perempuan. Saya memang mendorong banyak keterlibatan perempuan. Para petani perempuan sangat terkesan, karena setelah mendapatkan teori, langsung praktik membuat demplot. Saat bapak-bapak menyiapkan lahan, para petani perempuan memilih benih yang mereka bawa dari rumah, seperti kacang lokal, sawi, dan jagung lokal. Ada juga yang mengumpulkan bahan untuk membuat kompos,” ujarnya.
Indana juga menekankan pentingnya peran perempuan tidak hanya sebagai tenaga kerja, tetapi juga sebagai pengambil keputusan dalam praktik pertanian. “Ke depan, saya berharap petani perempuan bisa lebih meningkatkan perannya, bukan hanya sebagai tenaga, tapi juga ikut menentukan jenis tanaman yang ditanam dan bagaimana mengelolanya. Perempuan punya pengetahuan lokal yang kuat, dan itu perlu terus dikembangkan,” tegasnya.

Menurutnya, pengetahuan lokal yang dimiliki petani selama ini perlu didokumentasikan dan dikembangkan lebih jauh. “Harapannya, pengetahuan lokal itu bisa dituliskan dan dibukukan, lalu dikembangkan bersama dengan ilmu pertanian yang ramah lingkungan, supaya bisa diterapkan juga oleh petani muda ke depan,” pungkas Indana.
Sebagai tindak lanjut, para peserta telah menyusun rencana untuk mulai menerapkan agroekologi di lahan masing-masing, sekaligus memperkuat basis sebagai ruang belajar bersama. Ke depan, DPC SPI Wonosobo juga akan melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala serta mengadakan pendidikan lanjutan guna memastikan praktik agroekologi benar-benar berjalan di tingkat petani.