
Karavan Solidaritas Petani Serikat Petani Indonesia (SPI) menyalurkan bantuan kepada petani terdampak bencana di tiga kabupaten di Aceh melalui empat titik penyaluran, yakni Posko SPI Aceh Tamiang, Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) SPI Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Utara, dan Kabupaten Bireuen. Penyaluran berlangsung selama dua hari, pada 10–12 Januari 2026, dan menjadi bagian penting dari upaya pemulihan kehidupan petani pascabencana.
Bantuan yang disalurkan berupa pangan dan benih lokal yang dihimpun dari solidaritas petani SPI di berbagai wilayah Indonesia, termasuk dari Kampung Reforma Agraria (KRA) dan Kawasan Daulat Pangan (KDP) SPI. Bantuan tersebut tidak hanya ditujukan untuk menjawab kebutuhan darurat, tetapi juga sebagai langkah awal membangun kembali pertanian petani terdampak di Aceh.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) SPI Aceh, Nainunis, menjelaskan bahwa penyaluran bantuan dilakukan dengan pendekatan berbasis kondisi riil di lapangan. “Teknis penyaluran pertama, bantuan kita turunkan di posko. Setelah itu kami turun ke lapangan untuk melihat langsung bagaimana kondisi desa, baru kemudian bantuan tersebut kita antar,” ujar Nainunis.
Ia menggambarkan bahwa kondisi petani dan desa-desa terdampak di Aceh pascabencana masih sangat memprihatinkan. “Secara umum, boleh kita katakan kondisi pascabencana ini sangat memprihatinkan. Ada rumah warga yang terendam, dan lahan persawahan juga terendam lumpur. Saat ini petani masih berada dalam masa pemulihan,” katanya.

Menurut Nainunis, kehadiran Karavan Solidaritas Petani SPI memiliki arti penting, tidak hanya dari sisi bantuan material, tetapi juga sebagai wujud nyata kerja kolektif organisasi petani lintas wilayah.
“Saya melihat kehadiran karavan solidaritas ini sangat penting dan sangat baik. Kita bisa melihat bagaimana seluruh DPW SPI di Indonesia sangat antusias untuk membantu kawan-kawan petani yang terdampak,” ungkapnya.
Ia berharap SPI sebagai organisasi petani terus hadir mendampingi petani terdampak hingga kondisi mereka benar-benar pulih. “Harapan kami, sebelum keadaan benar-benar pulih, SPI sebagai organisasi besar terus berkontribusi dan mendampingi petani sampai kondisi kembali normal,” tegas Nainunis.
Dari tingkat cabang, Ketua DPC SPI Aceh Tamiang, Agus Salim, menjelaskan bahwa bantuan dari Karavan Solidaritas Petani SPI terlebih dahulu diturunkan di Posko DPC SPI Aceh Tamiang. “Terkait teknis penyaluran, setelah bantuan diturunkan di posko, kami melakukan pendekatan dengan meninjau langsung lokasi Kawasan Daulat Pangan dan basis-basis petani anggota SPI,” jelas Agus.

“Tujuannya agar bantuan benih dan pakaian benar-benar bisa langsung digunakan dan ditanam oleh anggota basis sebagai bagian dari pemulihan pangan dan ekonomi petani,” lanjutnya.
Agus Salim menggambarkan kondisi kehidupan petani pascabanjir sangat berat dan kompleks. Tidak hanya lahan pertanian yang rusak, tetapi juga ternak, alat pertanian, serta sistem irigasi. “Hampir seluruh lahan pertanian rusak akibat endapan lumpur yang sangat tebal hingga menutupi pematang sawah dan lahan darat. Aliran irigasi juga rusak, sehingga kondisi ini benar-benar memprihatinkan,” katanya.

Menurut Agus, pendekatan agroekologi menjadi sangat relevan dalam situasi pemulihan pascabencana. “Pendekatan agroekologi sangat tepat untuk membangun kesadaran petani terhadap dampak bencana, termasuk memahami apakah kandungan lumpur akan berdampak baik atau justru buruk bagi produksi pertanian,” jelasnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, ia mendorong penguatan praktik agroekologi secara kolektif. “Kita perlu mengempanyekan pembentukan kampung percontohan dari praktik pertanian agroekologi. Ke depan, saya berharap ada pendidikan-pendidikan agroekologi yang dibangun dan dikembangkan di Aceh,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa proses pemulihan juga mulai dilakukan secara kolektif melalui kegiatan gotong royong. “Kami sudah mulai dan akan terus melakukan kegiatan gotong royong bersama untuk pemulihan lahan pertanian di kampung-kampung anggota basis SPI,” tuturnya.

Agus menilai kehadiran Karavan Solidaritas Petani SPI memberikan dorongan semangat bagi petani terdampak untuk bangkit bersama. “Dengan kehadiran Karavan BAKTI DPP SPI di Aceh Tamiang, semangat petani untuk bersama-sama berjuang dalam pemulihan pascabanjir menjadi lebih kuat. Ini bukan akhir dari kehadiran karavan solidaritas, tapi bentuk nyata aksi rakyat bantu rakyat, petani bantu petani,” ujarnya.
“Saya berharap bantuan solidaritas ini terus berjalan untuk pemulihan kehidupan rakyat dan petani di Aceh Tamiang. Kami di cabang akan terus berjuang bersama petani, tentu dengan dukungan dan bimbingan dari DPW dan DPP SPI,” pungkas Agus.
Ketua Bakti SPI sekaligus Ketua Tim Karavan Solidaritas Petani SPI, Zulfikar, menegaskan bahwa solidaritas petani harus terus diperkuat dan dibangun secara terintegrasi dari basis, cabang, dan wilayah. Menurutnya, perjuangan petani di satu wilayah tidak bisa dipisahkan dari perjuangan petani di wilayah lain. “Solidaritas petani tidak cukup hanya berhenti pada dukungan moral dan sosial, tetapi harus menjadi solidaritas ekonomi yang menyokong perjuangan petani itu sendiri,” ujar Zulfikar.
Ia menekankan bahwa dalam konteks kebencanaan, dukungan petani di luar wilayah terdampak menjadi sangat penting. Namun, ia juga mengingatkan bahwa dukungan ekonomi tersebut tidak mudah, mengingat banyak petani juga tengah menghadapi tekanan pasar global dan konflik agraria. “Karena itu, penguatan lembaga ekonomi petani, terutama koperasi, harus menjadi komponen utama pengorganisasian ke depan, yang terintegrasi dengan perjuangan kedaulatan pangan, reforma agraria, dan agroekologi,” tegasnya.

Zulfikar menambahkan bahwa donasi yang digerakkan Tim Karavan DPP SPI berasal dari basis-basis Kampung Reforma Agraria dan Kawasan Daulat Pangan yang sebagian masih berada dalam situasi konflik. “Artinya, di tengah konflik struktural yang sedang dihadapi, petani masih mampu membantu petani lain yang kondisinya jauh lebih berat akibat bencana. Ini adalah bentuk kemanusiaan yang lahir dari degup hati perjuangan petani,” ungkapnya.
Menurutnya, pesan solidaritas ini jauh melampaui nilai material bantuan yang disalurkan. “Ada pesan kemanusiaan yang sangat berarti bagi petani terdampak, melebihi segenggam beras. Kami, petani di luar wilayah terdampak, berharap pesan ini sampai dan menjadi penguat bagi saudara-saudara kita untuk terus bangkit,” pungkas Zulfikar.