Pak Awang, Si Profesor Pepaya

JAKARTA.  Siang itu matahari bersinar cukup terik di desa Warung Kiara. Puluhan petani anggota Serikat Petani Indonesia  (SPI) Cabang Sukabumi sedang sibuk mempersiapkan penanaman pepaya organik dalam rangka penataan lahan reklaiming sekaligus perayaan ulang tahun SPI yang ke 12. Di antara puluhan petani tersebut tampak seorang pria setengah baya memberikan instruksi mengenai cara penanaman pepaya yang ideal. Pria ini  akrab dipanggil dengan sebutan Pak Awang.

“Hati-hati kalau mengeluarkan bibit pepaya ini dari polybag, jangan sampai rusak karena bisa mengakibatkan bibit tidak akan tumbuh dan mati sebelum besar” ucap Pak Awang sambil menunjukkan cara memindahkan bibit pepaya dari wadah polybag ke tanah.

Pak Awang adalah seorang petani biasa yang diberi gelar profesor pepaya oleh rekan-rekannya sesama petani. Gelar profesor pepaya ini didapat Pak Awang berkat keterampilan dalam hal pepaya, mulai dari menghasilkan bibit unggul, pemeliharaan pepaya, pembuatan pupuk organik, hingga ramuan organik khas untuk menangkal dan menghilangkan hama tanaman pepaya.

Pria yang lahir dengan nama Anwar ini menjelaskan bahwa keterampilan ini didapatkannya secara bertahap mulai dari awal tahun 80-an ketika dia mulai bertani. Pada tahun 1985, berkat ketekunannya  Pak Awang pun sudah mulai memasarkan hasil taninya dan memiliki jaringan pemasaran yang cukup baik.

“ Karena kualitas pepaya yang cukup bagus, saat itu saya sudah menjadi pemasok pepaya rutin dari beberapa hotel besar di Jakarta ” ungkapnya.

Karena jumlah permintaan yang semakin meningkat, pria kelahiran tahun 1958 ini merasa sedikit kewalahan. Oleh karena itu dia berinisiatif untuk mulai memasarkan pepaya hasil para petani lainnya yang memiliki kualitas yang tidak jauh beda dengan kualitas pepaya miliknya. Pada saat inilah dia bertemu dengan seorang petani keturunan Tionghoa yang memberinya “ilmu” tentang pepaya.

“ Petani itu memberikan saya seluruh ilmunya tentang pepaya karena keturunannya tidak ada yang berminat untuk meneruskan jejaknya menjadi seorang petani” tutur suami dari Marsiah ini.

Berbekal ilmu dari petani Tionghoa tersebut ditambah dengan keterampilannya sendiri, Pak Awang terus melakukan penelitian pribadi mengenai pepaya. Mulai dari uji benih, pembuatan penangkal hama pepaya alternatif, hingga pembuatan pupuk organik terus menerus dilakukannya sehingga akhirnya memiliki keterampilan seperti sekarang ini.

Pak Awang menjelaskan bahwa alam sekitarnyalah yang banyak menginspirasinya dalam menghasilkan temuan-temuannya.

“Saya dulu bertani memakai bahan kimia, namun akhirnya beralih ke pertanian organik dan hasilnya pepaya menjadi lebih bagus, lebih pulen dan lebih manis” kata ayah dari seorang putra dan seorang putri ini.

Pria yang menjadi anggota SPI Cabang Bogor ini menjelaskan bahwa dari hasil seleksi dan uji benih yang dilakukannya satu buah pepaya mampu menghasilkan empat jenis pepaya yang berbeda. Satu buah pepaya Bangkok mampu menghasilkan benih pepaya paris, pepaya semangka, pepaya burung, dan pepaya bunga.

Jaya, Ketua SPI Cabang Bogor menceritakan bahwa dulunya Pak Awang hanyalah memiliki sebidang tanah tandus dan kering.

“Tanah tandus itu berhasil “disulap” Pak Awang menjadi subur kembali. Saat ini Pak Awang sudah memiliki 3.000 pohon pepaya produktif ” tutur Jaya.

Namun Jaya menambahkan Pak Awang sedikit kurang telaten dalam mengurus aset-asetnya.

“Kalau saja Pak Awang lebih pintar mengatur cash flow-nya mungkin saat ini dia sudah punya lahan ratusan hektar” tambah Jaya.

Anak keempat dari 10 bersaudara ini juga tidak pelit dalam membagi ilmunya kepada sesama petani kecil, khususnya anggota SPI. Pak Awang menceritakan bahwa sudah banyak petani lainnya yang sukses setelah menerapkan ilmu pertanian miliknya.“Bahkan udah ada yang sampai naik haji”, tambahnya.

Bertani pepaya cukup menjanjikan. Pak Awang menjelaskan bahwa dalam masa delapan bulan pepaya miliknya telah siap untuk dipanen dengan rata-rata satu pohon mampu menghasilkan 40 hingga 50 kg. Panen pun akan terus berlangsung selama empat tahun yang bisa dipanen setiap seminggu sekali.  Dengan buah yang lebih manis dan kulit buahnya mengkilap, pepaya Pak Awang mampu mencukupi kebutuhan di tujuh Kecamatan di Kabupaten Bogor.

Pak Awang yang saat ini berdomisili di desa Ciaruteun Ilir, juga aktif di Pusdiklat Pertanian Berkelanjutan SPI di Bogor. Setiap ada sekolah lapang pertanian berkelanjutan SPI, Pak Awang selalu menjadi pengajar tambahnya.

“Saya senang berbagi ilmu kepada sesama petani dari daerah lain, soalnya ini juga menambah pengetahuan saya sekaligus untuk mengembangkan dan menyebarluaskan sistem pertanian berkelanjutan SPI ini” tambahnya.

Ada 3 komentar

  1. Deny berkata:

    Salam hormat,
    Mohon diinfo alamat paAwang?
    Atau dimana sy dpt menemui beliau ?
    Sy mau belajar menanam pepaya .
    Terima kasih

  2. SALman berkata:

    Saya sangat berminat berkenalan dengan PAk Awang sang profesor pepaya .
    Bisanya minta alamatnya atau Hp yang bisa di hubungi .
    Salam
    Salman

  3. Ass. Sy baru akan belajar menanam pepaya di daerah NAgrek Bandung.
    Sebelum mulai sy mohon info, apakah bibit dan pemasarannya ada yang bisa membantu.
    Terima kasih.
    Wass.
    RM Edhie M