Pemerintah harus bantu petani yang terimbas krisis global akibat jatuhnya harga produk pertanian

JAKARTA. Krisis global meneyebabkan harga-harga produk perkebunan anjlok. Kelapa sawit terjun bebas dari kisaran harga Rp. 1900/Kg Tandan Buah Segar (TBS) sebelum krisis menjadi menjadi Rp. 700/kg  TBS. Begitu pula dengan karet, jika beberapa bulan lalu harga karet mencapai Rp. 13.000/Kg, maka saat ini hanya dihargai Rp.3.000/Kg. Akibatnya, petani banyak yang terlilit utang, mereka menggadaikan sertifikat tanahnya dan terancam kehilangan tanah karena tidak mampu membayar cicilan utang.

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih, menyayangkan sikap pemerintah yang kurang memperhatikan petani. Pemerintah lebih reaktif ketika institusi pasar modal yang mengalami kesulitan, dalam hitungan hari saja banyak kebijakan yang dibuat untuk menyelamatkan kalangan pasar modal.

”Pemerintah malah membiarkan petani menjadi korban keganasan pasar bebas,” ujar dia.
Masih menurut Henry, krisis yang dirasakan petani akan berlangsung dua kali lebih lama dari krisis yang terjadi sebenarnya. “Saat ini petani tidak mampu memupuk kebunnya, artinya jika tahun depan krisis sudah selesai, petani masih mengalami krisis akibat buah yang tidak produktif  karena kurang pupuk di tahun sebelumnya,” tambah dia.

Berdasarkan laporan anggota SPI dari berbagai wilayah, hingga kini pemerintah pusat maupun daerah tidak melakukan upaya menolong keadaan petani. Di saat petani mengalami kesulitan finansial, pupuk malah sulit didapat dilapangan, kalaupun ada harganya tinggi. Hal ini diperparah dengan tingkah laku pemilik industri sawit. Sebagai contoh, di Jambi pemerintah daerah menetapkan harga terendah yang diterima petani sebesar Rp. 892/kg yang berlaku mulai 5 November 2008. Namun pihak Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) hanya membelinya dengan harga Rp. 680/Kg. Hal tersebut belum termasuk potongan-potongan untuk transportasi, bongkar muat dan jasa KUD, sehingga petani hanya menerima Rp. 420/kg.

Henry juga mengemukakan, semenjak Amerika Serikat mengalami resesi bukan hanya harga sawit yang jatuh, tapi sejumlah tanaman komoditi lainnya seperti karet dan coklat juga mengalami penurunan harga yang cukup signifikan. Harga karet yang rata-rata Rp 13.000/kg turun hingga Rp 3000-5500/kg. Sedangkan harga coklat yang sampai pertengahan September masih terbilang tinggi yaitu Rp 23.000/kg jatuh menjadi Rp 17.000/kg per Oktober 2008.

Atas dasar itu, SPI menuntut agar pemerintah melindungi petani dengan menaikan harga dasar produk-produk pertanian yang diterima petani dan mengawasi pelaksanaanya di lapangan. Selain itu SPI juga menuntut pemerintah memberikan subsidi pupuk secara langsung kepada petani dan memastikan ketersediaan pupuk di lapangan. SPI akan menyampaikan aspirasi ini dalam aksi massa petani yang akan digelar di Jambi besok, hari Senin, tanggal 17 November 2008, pukul 09.00 WIB, dengan rute Univ Jambi-BI-DPRD-RRI-Univ Jambi.

Kontak Person:
Henry Saragih (Ketua Umum SPI) 08163144441
Sarwadi (Ketua SPI Wilayah Jambi) 081366485861