Pertemuan Ke-5 Pemuda Tani Regional La Via Campesina Asia Tenggara Asia Timur

YAMAGATA. Gambaran umum mengenai pertanian sebagai sektor yang suram dan tanpa masa depan sama sekali tidak terlihat pada wajah-wajah petani muda yang berkumpul untuk mengikuti Perkemahan Musim Panas Nouminren dan Pertemuan Ke-5 Pemuda Tani Regional La Via Campesina Asia Tenggara Asia Timur.

Dalam pertemuan yang berlangsung dari tanggal 31 Agustus-4 September 2012 di Yamagata, Jepang ini masa depan pertanian terlihat menyenangkan, segar, inovatif dan memiliki potensi besar. Hal ini terlihat dari peserta yang hadir dalam pertemuan ini, rata-rata berusia 20-30 tahun sekitar 60 peserta yang hadir dari berbagai perfektur (propinsi) di Jepang serta 18 delegasi Indonesia, Thailand, Kamboja, Taiwan, Philipina, Vietnam, Korea dan Australia. Dari Serikat Petani Indonesia (SPI) yang hadir ialah Achmad Ya’kub Ketua Departemen Kajian Strategis Nasional SPI yang sekaligus koordinator pemuda regional La Via Campesina Asia Tenggara Asia Timur serta Kartini Samon.

Umumnya peserta perkemahan adalah generasi baru petani di Jepang yang mulai bertani 1-5 tahun terakhir, walaupun terbilang baru dalam bertani mereka bisa dibilang cukup sukses. Bukan sekedar sukses secara ekonomi, namun mereka juga sukses membangun pertanian yang ramah lingkungan dan berperan besar melestarikan alam serta memproduksi pangan yang sehat untuk dikonsumsi.

Para pemuda tani diYamagata ini sadar betul peran agroekologi untuk menjamin keberlanjutan pertanian dan pedesaan ke depan. Dengan semangat muda, mereka selalu menekankan bahwa walaupun bertani itu berat namun bertani juga bisa menyenangkan dan menguntungkan jika dilakukan dengan baik. Para pemuda tani ini sadar betul model pertanian konvensional yang dilakukan para pendahulunya tidak akan bisa menjamin pertanian yang berkelanjutan jangka panjang, sehingga mereka memutuskan untuk mengerjakan pertanian mereka secara agroekologi. Di samping itu mereka juga bersemangat untuk mengajarkan dan menularkan manfaat pertanian agroekologi ke generasi yang lebih tua.

Bagi peserta dari negara lain, ini merupakan kesempatan baik untuk saling bertukar pengalaman, berbagi ilmu mengenai teknik bertani sekaligus membicarakan strategi regenerasi pertanian di negara masing-masing. Kondisi pertanian di masing-masing negara memang bisa dibilang sangat berbeda, namun semua sadar pentingnya regenerasi bagi masa depan pertanian.

Di Indonesia, Filipina, Thailand atau Taiwan misalnya masalah tanah menjadi isu utama, kondisi kepemilikan tanah yang sempit ataupun tingginya alih fungsi lahan pertanian ke peruntukan lain menjadi kendala terbesar yang menyebabkan banyak orang khususnya pemuda enggan untuk bertani dan memilih mencari pekerjaan di sektor lain bahkan menjadi buruh migran. Walaupun demikian, masih banyak pemuda tani yang sadar betul mengenai arti penting pertanian yang berbasiskan keluarga kecil sebagai fondasi kedaulatan pangan dan mampu memberi makan penduduk dunia.

Di Korea Selatan, Jepang dan Australia masalah perdagangan bebas dan menurunnya keahlian untuk bertani (farming de-skilling) menjadi tantangan tersendiri.

Semua isu ini dibahas dan didiskusikan dengan serius namun ringan dalam sejumlah forum. Rangkaian pertama dari kemah musim panas dan pertemuan pemuda regional ini dibuka dengan Forum Internasional pada tanggal 1 September 2012 yang diadakan oleh Pemda kota Nanyo,Yamagata dengan tema “ Job, Hometown and Dream” (Pekerjaan, Tempat tinggal dan Harapan).

Dalam kesempatan ini pemuda tani dari Jepang, Thailand, Korea dan Vietnam berbagi cerita mengenai perjuangan mereka bertani, keterlibatan dalam komunitas masing-masing dan harapan mereka ke depan. Daisuke Sato, pembicara dari Jepang adalah petani pir dan padi yang mulai bertani 5 tahun lalu, di tengah situasi Jepang yang dibanjiri pangan impor Daisuke dan kawan-kawannya melihat pentingnya membangun pasar lokal. Melalui koperasi mereka berhasil memasarkan produk mereka ke sejumlah supermarket, selain itu mereka juga mengajak anak-anak kecil untuk mulai bertani dengan menanam labu di tanah-tanah terlantar di sekeliling kota.

Sementara itu San Treekaw dari Thailand berbagi pengalaman mengenai kelompok pemuda yang berjuang melawan penggusuran tanah di perbatasan Thailand dan Kamboja. Mereka menolak untuk pindah dari kampung mereka karena bagi mereka bertani adalah satu-satunya harapan mereka ke depan.

Selain itu dalam pertemuan pemuda regional ke-5 ini juga dibicarakan mengenai persiapan pertemuan pemuda internasional La Via Campesina ke-3 yang akan berlangsung di Indonesia tahun depan. Karena pertemuan internasional tersebut akan dilangsungkan di Indonesia, maka regional Asia Tenggara dan Asia Timur bertanggung jawab menjadi tuan rumah.

Dalam diskusi ini disadari pentingnya peningkatan koordinasi internal dalam organisasi di tingkat regional dan internasional serta peningkatan kapasitas berorganisasi bagi para pemuda. Selain itu juga disepakati empat hal yang menjadi tema utama kegiatan pemuda di regional yaitu pembaruan agraria, kedaulatan pangan, energi dan keadilan iklim serta pendidikan dan training bagi pemuda. Para peserta juga mempersiapkan logo dan tema utama bagi pertemuan pemuda internasional ke-3 tahun depan yang akan menjadi tawaran dari kawasan Asia Tenggara Asia Timur ke kawasan lain anggota La Via Campesina.

 

Kunjungan Lapangan (Field Trip) : Belajar dari Bencana Nuklir Fukushima dan Pertanian Agroekologi Yamagata

Pertemuan pemuda regional ini juga diisi dengan sejumlah kunjungan lapang (field trip), salah satunya ke kota Minamisoma di Fukushima. Minamisoma berjarak kurang lebih 20 km dari lokasi PLTN yang meledak pasca gempa bumi dan tsunami yang melanda Jepang bulan Maret 2011. Kunjungan ini ditujukan untuk meningkatkan solidaritas antara pemuda tani dari negara lain dengan para petani dan pemuda tani di Fukushima.

Achmad Ya’kub menyatakan bahwa bencana ledakan nuklir Fukushima bukan saja menyebabkan terjadinya kehilangan tanah, rumah, dan harta benda lainnya namun juga nyawa, sanak saudara sekaligus lenyapnya sebuah komunitas akibat radiasi nuklir.

Dari kunjungan ini para peserta bisa melihat dan mengalami secara langsung besarnya dampak dari ledakan nuklir yang kekuatannya 29,6 kali lipat dari bom atom Hiroshima itu. Hingga hari ini meskipun pemerintah telah mencabut ancaman bahaya dari kota ini bulan April silam namun Minamisoma masih menjadi kota hantu, belum ada satupun penduduk yang bisa dan mau kembali ke kota ini.

Bagi penduduk Minamisoma yang mayoritas adalah petani, radiasi nuklir menyulitkan mereka untuk bisa kembali berproduksi dan mencari kehidupan di atas tanahnya, tidak ada satu orang pun yang mau membeli produk pertanian mereka karena takut terkontaminasi cemaran nuklir.

Hal ini memaksa penduduk Minamisoma untuk pindah dan mencari pekerjaan baru di kota lain. Walaupun sudah relatif bersih namun masih terlihat sisa-sisa tsunami yang menghantam kota ini karena Minamisoma hanya berjarak 2 km dari tepi laut. Menurut Miura salah satu penduduk disini, jika hanya gempa dan tsunami masyarakat disini pasti dapat pulih dengan cepat, namun ledakan nuklir membawa akibat yang sangat panjang.

Sekjen Nouminren, Yoshio Sasawatari mengatakan bencana ini menunjukkan semakin jelas bahwa nuklir tidak akan pernah bisa berdampingan dengan manusia dan alam. Masih banyak sumber energi lain yang lebih aman dan berkelanjutan yang bisa dikembangkan selain nuklir.

Bencana ini telah sangat menyulitkan para petani di Fukushima setahun terakhir, bahkan di sejumlah tempat yang relatif lebih jauh dari PLTN tidak ada satu orang pun yang mau membeli produk pertanian mereka. Untuk membuktikan bahwa produk pertanian mereka sudah aman dikonsumi para petani dibantu dukungan berbagai organisasi lainnya menyediakan alat uji radiasi di kios pemasaran langsung (Sanchoku Cafe) mereka.

Biaya yang harus dikeluarkan para petani untuk uji radiasi ini tidak lah murah, untuk itulah para petani di Fukushima saat ini tengah mengajukan tuntutan kepada TEPCO, perusahaan listrik yang mengelola PLTN untuk memberikan ganti rugi kepada para petani yang mengalami kerugian besar akibat ledakan nuklir.

Disamping kunjungan solidaritas kepada para petani di Fukushima, peserta pertemuan pemuda regional dan kemah musim panas juga belajar manfaat dari pertanian agroekologi di Nanyo City, Yamagata. Dalam kesempatan kunjungan lapang ini semua peserta diajak untuk mengenal keanekaragaman hayati yang ada di sawah. Sawah yang dikelola secara agroekologi menyimpan keaneka ragaman hayati yang sangat kaya, mulai dari aneka serangga, ulat, katak hingga beberapa jenis burung dan ikan. Hewan-hewan ini berguna untuk meningkatkan kesuburan tanah dan menambah unsur hara tanaman.

Setiap bulan Juli, para pemuda tani dari sejumlah desa berkumpul di Nanyo City untuk mengadakan uji keaneka ragaman hayati, mengumpulkan dan membuat daftar berbagai jenis hewan yang mereka temukan di sawah. Dari uji coba ini terlihat peningkatan jenis hewan pada sawah yang dikelola secara agroekologi.

Di sejumlah pertanian terlihat teknologi tinggi yang digunakan para petani. Mesin-mesin seperti mesin tanam, mesin panen dan mesin penggilingan padi portabel dimiliki secara kelompok mengingat harganya yang sangat mahal. Rata-rata satu kelompok mesin-mesin ini untuk digunakan 10 keluarga tani. Model pertanian agroekologi yang padat karya ternyata mampu diterapkan oleh para petani khususnya pemuda tani di Jepang di tengah keterbatasan tenaga kerja dengan menggabungkan teknologi baru dengan pengetahuan lama mengenai bercocok tanam.

*Penulis adalah staf Departemen Kajian Strategis Dewan Pengurus Pusat (DPP) SPI

ARTIKEL TERKAIT
Petani Sebagai Garda Terdepan Dalam Perjuangan Tanah Palesti...
Pernyataan Sikap SPI Terkait Kekerasan Terhadap Petani di Konflik Desa Betung, Kab. Ogan Ilir, Sumatera Selatan Pernyataan Sikap SPI Terkait Kekerasan Terhadap Petani di Ko...
Apa Kata Mereka Tentang 13 Tahun SPI?
Menelusuri Perkembangan Studi Gerakan Petani
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU