Petani Bantu Petani, Rakyat Bantu Rakyat: Karavan Solidaritas SPI Salurkan Bantuan di Sumatera Barat

Karavan Solidaritas Petani Serikat Petani Indonesia (SPI) memulai rangkaian penyaluran bantuannya di Sumatera Barat sebagai provinsi tujuan pertama. Penyaluran bantuan berlangsung selama dua hari, pada 7–8 Januari 2026, dan menyasar petani serta masyarakat desa yang terdampak bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah.

Di Sumatra Barat, bantuan disalurkan melalui dua posko utama, yaitu Basis Gariciang di Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, serta Basis Lurah Dalam di Nagari Palupuah, Kabupaten Agam.

Penyaluran bantuan di Basis Lurah Dalam, Palupuah, Sumatra Barat

Bantuan yang disalurkan merupakan hasil penghimpunan solidaritas petani anggota SPI dari berbagai daerah di Indonesia. Penyaluran dilakukan melalui posko-posko SPI untuk memastikan bantuan dapat diterima secara merata oleh petani dan masyarakat desa yang terdampak.

Ketua DPW SPI Sumatera Barat, Rustam Effendi, menjelaskan bahwa bantuan dari Karavan Solidaritas Petani SPI dikumpulkan terlebih dahulu di posko induk sebelum didistribusikan secara berjenjang hingga ke basis-basis terdampak. “Bantuan dikumpulkan di posko induk, lalu didistribusikan ke posko kecamatan dan dilanjutkan ke basis terdampak. Skema ini diambil agar seluruh lapisan organisasi dapat bekerja dan peran tiap tingkatan organisasi muncul secara alami,” jelas Rustam.

Ia menggambarkan kondisi petani dan kampung-kampung anggota SPI di Sumatera Barat pascabencana yang masih memprihatinkan. Sejumlah petani kehilangan rumah, sawah tertimbun lumpur dan bebatuan, serta rusaknya bendungan dan jalur irigasi yang berdampak pada sulitnya akses air bersih.
“Saat ini kesulitan utama adalah air bersih dan hilangnya pendapatan petani karena mereka kehilangan sumber kehidupan. Sebagian keluarga korban tinggal bersama saudara, dan ada kampung yang mulai dibangun hunian sementara oleh pemerintah,” ujarnya.

Rustam juga menyoroti semangat gotong royong warga dalam menghadapi kondisi tersebut. Warga bersama-sama membangun jalan alternatif dari tanah akibat jalan utama tertimbun atau terputus, serta bergotong royong memperbaiki rumah yang rusak.

Menurut Rustam, Karavan Solidaritas Petani SPI memberikan dampak psikologis yang besar bagi petani terdampak. “Kehadiran petani dari luar provinsi, bahkan dari pulau lain, menumbuhkan semangat tersendiri. Muncul kesadaran bahwa jika orang lain saja peduli, maka sesama warga sekampung seharusnya bisa lebih kuat bergotong royong,” katanya.

Ia menegaskan bahwa budaya karavan perlu dilanjutkan dan dibangun sebagai watak serta karakter organisasi SPI. “Solidaritas sosial tidak hanya soal barang, tetapi juga tentang kehadiran sebagai saudara di tengah ketidakpastian hari esok. Karavan ini harus menjadi karakter organisasi, didukung dengan pendidikan, pelatihan, serta pembangunan kawasan daulat pangan dan kampung reforma agraria,” tegasnya.

Dari tingkat basis, Roki, Ketua Basis Gariciang, Kabupaten Padang Pariaman, memaparkan dampak bencana yang dialami warga setempat. Ia menyebutkan bahwa sejumlah rumah di kawasan rendah terendam banjir, bahkan enam rumah di pinggiran sungai hanyut terbawa arus.
“Sebanyak 16 rumah lainnya terendam air dan lumpur setinggi dada orang dewasa. Puluhan hektar lahan pertanian rusak, tertimbun lumpur dan hanyut terbawa arus,” ungkap Roki.

Bantuan yang diterima Basis Gariciang meliputi beras, benih padi, bibit tanaman dari Kampung Reforma Agraria (KRA), tanaman rempah dapur seperti kunyit, jahe, dan lengkuas, serta ubi kayu, pisang, hingga pakaian. “Bantuan ini sangat bermanfaat, terutama beras, karena beras dan padi yang disimpan warga rusak terendam lumpur. Benih yang diterima juga akan bermanfaat untuk jangka panjang,” kata Roki.

Roki mengaku sangat terharu atas bantuan dan kehadiran Tim Karavan Solidaritas Petani SPI. “Petani bersatu, petani kuat, sangat terasa bagi kami. Satu sakit, semua merasakan. Saya secara pribadi dan sebagai ketua basis sangat berterima kasih,” ujarnya.

Ke depan, Roki berharap SPI dapat mengadakan pendidikan dan pelatihan pertanian yang ramah lingkungan berbasis agroekologi, serta pendidikan mitigasi bencana bagi petani.
“Kami juga berharap adanya bantuan benih dan tanaman yang dapat menahan longsor dan abrasi di pinggiran sungai,” pungkasnya.

Sebagai bagian dari keterlibatan lintas wilayah, Ketua DPW SPI Jambi, Sarwadi Sukiman, menyampaikan bahwa Tim BAKTI SPI Jambi secara aktif menghimpun donasi dari anggota SPI dan masyarakat, lalu mendistribusikannya secara langsung bersama Tim BAKTI DPP SPI di Sumatera Barat. “Tim BAKTI Jambi sangat antusias bekerja sama mengumpulkan donasi dan menyalurkannya kepada korban bencana banjir dan longsor di Sumatera Barat,” tambahnya.

Sarwadi juga mengungkapkan bahwa keterlibatan petani lintas wilayah dalam Karavan Solidaritas Petani merupakan bentuk tanggung jawab kolektif atas dampak bencana yang dapat menimpa siapa saja. “Bencana alam bisa terjadi pada siapa saja dan menimbulkan kerugian yang tidak terhingga. Karena itu sangat penting bagi kita semua, terutama petani yang tergabung dalam SPI, untuk terlibat langsung dalam upaya penanggulangan bencana,” ujar Sarwadi.

Penyaluran bantuan di Sumatera Barat menjadi titik awal perjalanan Karavan Solidaritas Petani SPI, yang kemudian melanjutkan pergerakannya ke Sumatera Utara dan Aceh. Karavan ini menegaskan bahwa solidaritas petani bentu petani bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata dalam menghadapi bencana dan memperjuangkan kehidupan petani yang berdaulat.

ARTIKEL TERKAIT
BAKTI SPI Jambi Salurkan Donasi untuk Korban Banjir di Tanju...
Serikat Petani Indonesia Memulai Perjalanan Karavan Solidari...
Dukung Pemulihan Pascabencana, Karavan Solidaritas SPI Salur...
Petani SPI Banten Kirim Solidaritas untuk Petani Terdampak B...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU