Piala Dunia dan Berjudi A La Petani

panen_padi

Membincangkan sepakbola apalagi sekelas Piala Dunia 2014 mungkin tidak afdol bila tidak dibarengi dengan judi taruhan baik sebagai kesenangan sesaat maupun sumber penghasilan tak terduga. Semasa orde baru, rakyat dan petani kecil diberi ‘harapan’ berupa permainan porkas sepakbola yang diundi setiap minggu. Petaruh harus memilih salah satu kesebelasan dari suatu pertandingan (terlepas pertandingan itu menang benar atau tidak). Karenanya pada hari “H” begitu ‘pertandingan’ selesai, detak jantung seorang penjudi serasa berhenti disertai tangis bahagia ketika taruhannya menang. Piye enak jamanku to. Sebaliknya pula detak  jantung serasa berhenti disertai tangis kesedihan ketika gagal lagi. Enak Mbahmu! Menang atau kalah seorang penjudi akan pasang taruhan lagi, pun sambil mendengarkan lagu ‘Judi’ dari sang satria bergitar. Judiiii..!

Petaruh dikatakan nekad atau uedan bila memilih kesebelasan yang kecil peluangnya untuk menang. Melawan arus utama (mainstream ) atau anti kemapanan – untuk menjuluki sifat petaruh tersebut. Namun bila hasilnya pertandingannya tidak terduga, aduh senenge petaruh ini. Menang besar! Dan begitulah yang terjadi di Piala Dunia Brazil 2004 ini. Petaruh menang besar, karena jagonya Chile, di luar dugaan berhasil mengalahkan Spanyol dua kosong tanpa balas. Kesebalasan Spanyol setelah kalah telak dari Belanda, seharusnya diibaratkan seperti Banteng terluka dan menyeruduk habis kesebelasan Chile yang berkaos merah, warna kesukaan Banteng. Dengan kekalahan ini Spanyol dipaksa untuk pulang kandang atau rekreasi di pantai Brazil sambil mendengarkan alunan musik jazz  – dan sekaligus ngecengin –  A Girl from Ipenama. Bagaimana enak to ?

Benar apa yang dikatakan oleh Xafi Alonso – gelandang bertahan Spanyol – kepada wartawan radionya Inggris, BBC , bahwa spanyol sudah tidak mempunyai rasa lapar untuk menang. Rasa lapar yang memicu semangat untuk bertahan hidup. Mungkin Spanyol sudah pada titik tertinggi dalam pencapaiannya dalam sepak bola- juara eropa 2008, 2012 dan juara dunia 2010 – karena sudah tidak ada tantangan lagi. Sebagaimana yang juga dikatakan oleh Michael Ballack, mantan playmaker Jerman, bahwa pelatih Jerman Joachim Loew lebih baik mundur, setelah piala dunia 2014. Setelah juara dunia apalagi, dukungan  sekaligus sindiran dari Ballack. Rasa lapar atau rasa berpuas diri memang  tidak seharusnya dibiarkan hilang, seperti rasa untuk masang taruhan judi setelah kalah atau menang (lho), sehingga rasa penasaran dan ketidakpuasan tetap terus ada. Bagai setia  menunggu Godot (kepuasan, kesempurnaan)  yang tidak datang-datang. Waiting for Godot.

Ada guyonan sinis mengenai judi bola tersebut. Seorang kyai yang menangkap basah seorang tetangganya di kampung Abangan  taruhan Porkas, dan terjadilah dialog seperti ini:

“Hai, kenapa ikut-ikutan beli Porkas ? Astaghfirullah, Dul.. Dul..” kata Sang Kyai

“Tapi kali ini dapat, Kyai,” jawab Dul terkaget-kaget.

“Alhamdulillah, eh, astaghfirullah , terus bertani saja,” jawaban nakal Sang Kyai

“Bertani juga berjudi lho Kyai,” si Dul dengan enteng sambil pamit pergi meninggalkan Kyai, yang setia mengisi pengajian Shubuh di masjid Kampungnya, walau mungkin sandal beliau bisa hilang ( itu bagus ketimbang kehilangan masjid, karena ada gerakan anti bid’ah).

Sektor pertanian  memang tidak ubahnya seperti judi karena bertaruh dengan perubahan iklim yang tidak menentu, seperti kadang panas, kadang hujan, atau datangnya hama dan penyakit tanaman yang tidak terduga. Bahkan dengan ketidakpastian fungsi lahan. Siapa tahu atau who knows – tiba-tiba aparat datang sambil bawa buldozer merusak lahan pertanian, karena tiba-tiba saja ada surat dari pemerintah  untuk mengosongkan lahan untuk bandara, mal atau pabrik. Esuk dele, sore tempe (Pagi masih kedelai, sore sudah jadi tempe).

Karena ketidakpastian itulah bank tidak mau membiayai usaha tani, bahkan bank yang khusus didirikan untuk petani, yakni Bank Rakyat Indonesia. Kalaupun ada, itu tidak banyak dan juga bukan petani-petani kecil. Karena itu tega-teganya ada pengamat pertanian mengatakan petani tidak perlu disubsidi dan bahkan Menteri Pertanian di PENAS mengatakan petani harus berjiwa agribisnis di tengah banjirnya pangan impor dan ketidakpastian alam, serta keterbatasan modal untuk bertani bagi petani kecil dan miskin.

Untuk mengurangi ketidakpastian usaha petani atau ber-gambling ria dan judi ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebenarnya juga melakukan ‘judi’ juga. Judi melalui porkas cuaca dari kata ‘forecast’ yang artinya ramalan cuaca, ramalan datangnya musim kemarau, musim hujan dan hembusan angin panas (Mbak) El Nino, dan angin dingin (Mbak) El Nina. Porkas ini selanjutnya diinformasikan ke petani, terlepas apakah koordinasi dan kualitas komunikasi antara penyuluh dengan kelompok tani bagus atau tidak. Jangan-jangan hanya kelompok taninya yang tahu, itu pun karena sudah punya ponsel atau blackberry, sementara anggotanya petani kecil yang masih mikir-mikir untuk beli ponsel, pulsa atau beli Raskin?! Karena itu perlu kelembagaan petani berupa organisasi petani yang dapat membantu penyebaran info cuaca dengan cepat kepada anggotanya, Dimana saja dan kapan saja.

pranoto mongso

Di samping porkas dari BMG, petani sebenarnya sudah mempunyai porkas warisan leluhur, yakni pranoto mongso atau penanggalan musim berdasarkan jalannya bintang di langit.  Secara umum ada 12 musim dalam hitungan pranoto mongso tersebut dengan masing-masing aturan menanam apa di tiap musimnya. Sebagai contoh, pada periode bulan 12 Mei-21 Juni atau mongso sadha, terjadi kemarau, angin dari timur laut, sebagai akibatnya akan ada ulat, kutu dan penyakit dan sawah bero. Selanjutnya pada periode 22 Juni sampai 1 Agustus atau mongso kasa, terjadi kemarau dan angin dari timur laut.  Sebagai akibatnya ada kepinding tanah, kepik hijau dan belalang, karena itu lebih baik mengolah tanah (palawija).

Sementara pada waktu yang sama, porkas atau ramalan dari BMKG adalah musim kemarau hebat,  karena ada angin El Nino dari Australia dan akan menyerang di pantura Jawa. Wah, angin panas dari Australia akibat kesebelasan nyatersingkir dari Piala Dunia setelah kalah dari Belanda 3:2  dan Chile 2:1.  Dari peta prakiraan hujan bulan Juni, terlihat hampir seluruh wilayah sifat hujan dan cenderung rendah – dari warna kuning hingga oranye – sementara beberapa bagian akan disiram hujan lebat.

prakiraan_hujan_bulan_juni_2014

Bagaimana realitasnya di lapangan? Kementerian Pertanian dan BMKG menghimbau petani untuk segera menanam padi dan palawija sambil dengan menyiapkan dana untuk  pengadaan pompa air. Memang sepanjang pantura, musim tanam padi sudah dimulai dan begitupun dengan palawija. Tetapi alhamdulillah hujan deras masih ada juga, demikian tutur petani SPI di Kabupaten Pati. Bahkan sudah ada keraguan dengan datangnya El Nino. Ya, namanya porkas alias ramalan. Jadi berani taruhan berapa alias wani piro dengan ramalan ke depan? Demikian juga wani piro, Jerman, Brazil atau Belanda yang akan menjadi Juara Dunia 2014?  Kita lihat saja nanti, seperti lagu yang didendangkan oleh Sophia Latjuba, sambil mencari wangsit dulu. Astaghfirullah.

 

*Penulis saat ini aktif di Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia

ARTIKEL TERKAIT
SPI Galang Solidaritas Korban Merapi dan Mentawai
Konferensi Pers Rio Dewanto Rio Dewanto : "Saya Akan Kawal Penuh Penyelesaian Konflik Ag...
SPI serahkan bantuan kepada korban gempa SPI serahkan bantuan kepada korban gempa
Rumah Kompos SPI Cirebon Dukung Pertanian Berkelanjutan dan Kedaulatan Pangan Rumah Kompos SPI Cirebon Dukung Pertanian Berkelanjutan dan ...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU