Ribuan petani SPI Rengas teriakkan tolak korporatisasi pertanian dan pangan

OGAN ILIR. “27 tahun cukup sudah tanah kita dirampas, sekarang mari bangkit melawan,” ujar Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih, mengutip tulisan pada sebuah spanduk hitam di atas tanah yang telah dikuasai kembali oleh petani Desa Rengas, Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan, yang selama ini telah dikuasai oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Cinta Manis.

Di atas tanah itu juga, yang kemudian petani basis SPI menyebutnya simpang empat Desember, dimana penembakan petani oleh aparat terjadi pada tahun 2009 lalu, Henry mengobarkan semangat perjuangan anggota SPI dalam rangkaiaan peringatan Hari Perjuangan Petani Internasional (17 April) dan Hari Perjuangan Hak Asasi Petani (20 April), pada Kamis 15 April 2010.

“Di atas tanah yang subur ini, petani harus hidup sejahtera. Telah terbukti, ketika tanah dikuasai oleh perusahaan perkebunan secara besar-besaran dan mengabaikan hak petani atas tanah, maka petani tidak hidup sejehtera,“ tegas Henry di hadapan ribuan petani anggota SPI .

Henry melanjutkan, hal tersebut juga akan memperparah kerawanan pangan, maka dari itu dalam peringatan Hari Perjuangan Petani Internasional dan Hari Perjuangan Hak Asasi Petani, dengan tegas diteriakkan tolak korporatisasi pertanian dan pangan.

“Begitu luas hamparan perkebunan sawit, tebu, dan bahkan sawah ladang, namun masih saja banyak petani yang kesulitan membeli minyak sayur, gula, dan bahkan beras sebagai kebutuhan pangan pokoknya. Bencana kalaparan mengancam dunia,” kata Henry yang juga Koordinator Umum La Via Campesina (gerakan petani internasional) ini.

Dan ketika petani berjuang untuk menggarap tanah sendiri, lanjut Henry, petani malah dihalangi bahkan sampai ditembaki. “Kita akan desak berbagai pihak agar membiarkan dan mendorong petani untuk menggarap tanah sendiri. karena masih banyak lahan terlantar, yang jauh dari jangkauan kemampuan petani untuk menggarapnya dapat dikelola oleh Negara”. tambah Henry.

Penyelesaian konflik agraria, pemanfaatan tanah terlantar, serta pelaksanaan reforma agraria, lanjut Henry, sudah menjadi janji dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada awal tahun 2010 ini. “Namun, pemerintahan SBY belum mewujudkan janji tersebut, dan petani tidak bisa hanya menunggu dan menunggu,” tegasnya.

Henry kembali menegaskan bahwa Serikat Petani Indonesia (SPI) sebagai organisasi perjuangan kaum tani akan terus memperjuangkan Pembaruan Agraria sebagai upaya pemenuhan dan penegakan Hak Asasi Petani.

Selain dihadiri oleh ribuan petani SPI, pada peringatan Hari Perjuangan Petani Internasional dan Hari Perjuangan Hak Asasi Petani ini juga dihadiri dan didukung oleh Serikat Hijau Indonesia (SHI), Walhi Sumsel, LBH Palembang, serta organisasi pemuda dan mahasiswa.