
Serikat Petani Indonesia (SPI) mengecam eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang telah berlangsung selama satu minggu terakhir dan semakin meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah, sekaligus memperluas risiko perang yang lebih besar di tingkat regional maupun global. SPI juga menyampaikan turut berduka cita atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan militer tersebut. Sejak serangan dilancarkan pada 28 Februari lalu, ribuan warga sipil dilaporkan tewas, termasuk lebih dari 100 anak-anak setelah sebuah sekolah dibom dalam serangan tersebut, sementara berbagai infrastruktur sosial penting turut hancur. Peristiwa ini kembali menunjukkan besarnya dampak kemanusiaan dari perang, di mana masyarakat sipil, terutama anak-anak, menjadi pihak yang paling menderita akibat kekerasan bersenjata dan kehancuran yang ditinggalkannya.
SPI menilai bahwa serangan terhadap fasilitas sipil dan kawasan permukiman merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional. Dalam hukum perang internasional, fasilitas sipil seperti sekolah, rumah sakit, dan permukiman warga harus dilindungi dari serangan militer. Setiap tindakan yang secara langsung menargetkan atau secara tidak proporsional membahayakan warga sipil dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum internasional dan harus menjadi perhatian serius.
“Sebagai organisasi petani di Indonesia, SPI menegaskan bahwa sikap menolak agresi militer sejalan dengan prinsip yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Serangan militer terhadap kedaulatan suatu negara tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga bertentangan dengan prinsip dasar kemerdekaan dan perdamaian yang dijunjung oleh bangsa Indonesia,” ujar Henry Saragih selaku Ketua Umum SPI.
Dari perspektif petani dan perjuangan kedaulatan pangan, perang memiliki dampak yang sangat luas dan menghancurkan. Konflik bersenjata tidak hanya merenggut nyawa manusia, tetapi juga menghancurkan lahan-lahan pertanian, merusak sistem produksi pangan, serta mengganggu distribusi dan akses pangan bagi masyarakat. Infrastruktur yang mendukung produksi pangan seperti irigasi, gudang penyimpanan, pasar lokal, hingga jalur distribusi sering kali turut rusak atau lumpuh akibat konflik.
Henry menegaskan bahwa perang juga berdampak langsung pada kondisi pangan global. “Ketegangan dan konflik bersenjata di kawasan strategis dunia dapat memicu gangguan rantai pasok pangan internasional serta meningkatkan harga energi dan pangan, seperti yang tengah terjadi sekarang ini. Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya produksi pertanian, sementara kenaikan harga pangan akan paling dirasakan oleh masyarakat miskin dan petani kecil di berbagai negara, termasuk Indonesia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Zainal Arifin Fuad, ICC La Via Campesina Asia Tenggara dan Asia Timur sekaligus Wakil Ketua Umum SPI, menegaskan bahwa berbagai laporan internasional tentang kondisi pangan dunia menunjukkan konflik bersenjata sebagai salah satu faktor utama meningkatnya angka kelaparan global, sebagaimana tercantum dalam laporan The State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) 2025.
Ia juga menyoroti data terbaru dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) yang menunjukkan bahwa bahwa Indeks Harga Sereal Dunia mencapai 108,6 poin pada Februari 2026, naik sekitar 1,1 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Harga gandum dunia juga meningkat sekitar 1,8 persen, dipicu oleh gangguan produksi serta ketegangan geopolitik yang memengaruhi rantai pasok global, termasuk di kawasan Laut Hitam. Data tersebut juga memuat harga biji-bijian kasar internasional yang juga meningkat, meskipun secara lebih moderat. Sementara itu, Indeks Harga Beras FAO naik 0,4 persen pada Februari. “Perang menyebabkan jutaan orang kehilangan akses terhadap pangan karena produksi terganggu, distribusi terputus, dan ekonomi lokal hancur. Dalam kondisi seperti ini, petani kecil dan masyarakat pedesaan sering kali menjadi kelompok yang paling rentan,” tegas Zainal.
Atas dasar itu, Serikat Petani Indonesia mengecam keras serangan militer terhadap Iran dan segala bentuk agresi yang mengorbankan rakyat sipil. SPI menyerukan kepada masyarakat internasional, organisasi rakyat, serta pemerintah di berbagai negara untuk memperkuat upaya perdamaian dunia. Perdamaian merupakan syarat utama bagi terwujudnya kehidupan yang adil dan sejahtera bagi rakyat, termasuk bagi para petani yang memproduksi pangan untuk umat manusia.
“Perang tidak hanya menghancurkan negara, tetapi juga menghancurkan masa depan pangan dunia. Oleh karena itu, menghentikan perang dan melindungi kehidupan rakyat sipil merupakan langkah penting untuk menjaga kedaulatan pangan dan keberlanjutan kehidupan umat manusia,” pungkas Zainal.
SPI juga mendesak Pemerintah Indonesia untuk mengambil sikap yang jelas dan tegas dengan mengutuk serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Sebagai negara yang dalam konstitusinya menolak segala bentuk penjajahan dan agresi terhadap kedaulatan bangsa lain, Indonesia seharusnya berdiri di barisan negara-negara yang menuntut penghentian perang dan perlindungan terhadap rakyat sipil. Dalam konteks ini, SPI juga menyerukan agar Indonesia menarik diri dari kerja sama atau aliansi yang berpotensi mendukung agenda militer dan hegemonik negara-negara besar yang memicu konflik.

SPI menilai bahwa pendekatan diplomasi Indonesia harus berpihak pada keadilan dan penghormatan terhadap kedaulatan negara. Upaya membangun hubungan atau melobi negara yang menjadi korban serangan militer justru tidak boleh mengabaikan fakta bahwa agresi tersebut telah menewaskan ratusan warga sipil dan bahkan menargetkan pemimpin negara yang diserang. Oleh karena itu, Indonesia perlu menunjukkan konsistensi sikap politik luar negeri yang bebas aktif dengan menempatkan perdamaian, kedaulatan negara, dan perlindungan rakyat sipil sebagai prioritas utama.
Sebagai bagian dari gerakan petani internasional La Via Campesina, SPI juga menyuarakan solidaritas bersama jutaan petani di berbagai belahan dunia yang menolak perang dan agresi militer. La Via Campesina menyerukan penghentian segera dan tanpa syarat terhadap konflik bersenjata ini, serta menuntut diakhirinya sanksi ekonomi yang tidak adil terhadap rakyat Iran yang hanya memperburuk penderitaan masyarakat sipil. Gerakan petani dunia juga menekankan pentingnya pembukaan jalur diplomasi yang nyata dan bermartabat, yang didasarkan pada penghormatan terhadap kedaulatan negara, hak rakyat untuk menentukan nasibnya sendiri, serta bebas dari tekanan dan paksaan politik. Dalam hal ini, komunitas internasional dan badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa didesak untuk menjalankan tanggung jawabnya secara penuh dalam menjaga perdamaian dunia dan menolak dominasi negara-negara kuat yang sering kali melemahkan legitimasi lembaga-lembaga internasional demi membenarkan agresi mereka.