
SLEMAN. Dewan Pengurus Cabang Serikat Petani Indonesia (DPC SPI) Sleman menggelar Pendidikan Agroekologi dan Kawasan Daulat Pangan (KDP) di Joglo RT 1 Ngemplak, Sendangmulyo, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Minggu (26/04/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Perjuangan Petani Internasional dan Hari Hak Asasi Petani Indonesia, yang menegaskan pentingnya perjuangan petani dalam memperjuangkan hak atas tanah, produksi, serta sistem pangan yang adil dan berdaulat.
Melalui pendidikan ini, SPI Sleman mendorong pengembangan program KDP di basis Sendangmulyo sekaligus memperkuat kolaborasi antar-petani dalam menghadapi berbagai persoalan pertanian di tingkat lokal. Kegiatan ini juga menjadi ruang belajar bersama yang melibatkan perwakilan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) SPI Yogyakarta, DPC SPI Sleman, Pemerintah Kalurahan, tokoh masyarakat, serta petani dan pemuda tani setempat.

Kegiatan dibuka dengan tradisi wiwitan lahan persawahan, ritual khas petani Jawa sebagai bentuk syukur sebelum masa tanam atau panen. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi mencerminkan hubungan erat antara praktik pertanian, budaya, dan pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Memasuki sesi diskusi yang dipandu Tri Haryono selaku pengurus DPW SPI Yogyakarta, pembahasan menekankan bahwa agroekologi bukanlah konsep baru bagi petani, melainkan bentuk pengetahuan yang telah lama hidup dalam praktik keseharian mereka.
Qomarun Najmi dari Pusat Kajian dan Penerapan Agroekologi SPI menegaskan bahwa agroekologi sejatinya adalah ilmu leluhur petani. “Agroekologi itu sebenarnya ilmu leluhur kita. Hanya istilahnya saja yang kini disesuaikan dengan bahasa akademik. Praktiknya sudah lama dilakukan, namun perlahan kita tinggalkan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa arah kebijakan pangan saat ini bergerak dari ketahanan dan kemandirian menuju kedaulatan pangan. Menurutnya, petani perlu memastikan bahwa pergeseran tersebut tetap berpijak pada kekuatan dan pengetahuan mereka sendiri.
Edy dari SPI Sleman menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi pintu awal pengembangan KDP di Sleman. Ia juga menyebut potensi pengembangan KDP di wilayah lain seperti Wonokerto dan Turi, serta pentingnya kolaborasi untuk menjawab tantangan menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian.
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai persoalan yang dihadapi petani. Ngatijo, salah satu petani, mengungkapkan tingginya biaya produksi sebagai kendala utama. Ia menyebut untuk lahan seluas 625 meter persegi, biaya yang dibutuhkan bisa mencapai delapan ratus ribu rupiah. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa petani akan tetap menanam meski menghadapi risiko gagal panen.
Berbagai praktik agroekologi turut dibagikan dalam forum tersebut. Win dari Turi menjelaskan pengolahan sampah dan limbah menjadi pupuk organik sebagai alternatif untuk meningkatkan kesuburan tanah. Ia menekankan bahwa proses ini membutuhkan kesabaran, namun mampu menghasilkan kualitas yang tidak kalah dengan pupuk kimia. Di wilayahnya, praktik ini bahkan rutin dilakukan oleh kelompok perempuan setiap dua minggu sekali.
Penguatan kemandirian petani juga disampaikan oleh Ketua DPW SPI Yogyakarta, Sumantara, yang menawarkan sistem pinjam benih serta pembentukan bank benih. Skema ini memungkinkan petani meminjam benih dan mengembalikannya saat panen dalam jumlah lebih besar untuk didistribusikan kembali.
“Selama ini petani berhadapan dengan sistem yang membuat mereka tergantung pada pupuk, benih, dan pestisida dari luar. Melalui SPI, kita dorong agar biaya produksi bisa ditekan, bahkan hingga nol untuk pupuk, karena bisa diproduksi sendiri,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya berserikat sebagai jalan untuk keluar dari ketergantungan terhadap sistem global, sekaligus membangun kemandirian ekonomi petani melalui koperasi dan penguatan pasar sendiri.
Dukungan juga datang dari Kepala Desa Sendangmulyo yang menilai kegiatan ini sebagai langkah positif untuk meningkatkan kapasitas petani. Ia menekankan pentingnya praktik langsung, transparansi dalam kelompok, serta menjadikan kegiatan ini sebagai percontohan di tingkat desa.
Pengalaman konkret juga datang dari Supri, yang telah menerapkan praktik agroekologi dengan menanam padi merah wangi (BMW) dan padi Menur menggunakan pupuk organik buatan sendiri. “Hasilnya bagus. Perawatan tak rumit. Pupuk bisa dibuat sendiri, harapannya kedepan kami bisa mendapatkan semacam pelatihan lagi terkait pembuatan pupuk,” katanya.
Kegiatan diakhiri dengan kesepakatan bersama untuk melanjutkan kolaborasi pengembangan KDP di Sendangmulyo, dengan memperhatikan aspek perizinan, karakter tanah, serta penguatan pembelajaran berbasis agroekologi dan pengetahuan lokal warisan leluhur.