Hari Perjuangan Perempuan Pekerja Internasional 2026: Refleksi Perjuangan Petani Perempuan SPI untuk Tanah dan Kehidupan

Serikat Petani Indonesia (SPI) memperingati Hari Perjuangan Perempuan Pekerja Internasional 2026 pada Minggu (8/3) secara hybrid. Kegiatan ini menjadi ruang bagi petani perempuan dari seluurh Indonesia untuk membagikan pengalaman sekaligus refleksi tentang perjuangan untuk hak atas tanah, air, benih, teritorial, dan kehidupan yang bermanfaat.

Ketua Umum SPI Henry Saragih kembali mengingatkan dan menegaskan keberhasilan perjuangan dan perlawanan kaum perempuan pada sekitar kurang lebih satu abad lalu di tengah industri kapitalis yang berkembang begitu pesat. Ia juga merefleksikan momentum Hari Perempuan Sedunia dengan keadaan saat ini yang di mana banyak perang berkecamuk dan akan mengancam mata rantai pangan umat manusia. “Hari ini, dunia sedang berada dalam ancaman kelaparan, karena sejatinya perang itu sama halnya bencana alam yang memusnahkan sekaligus merusak tatanan produksi maupun mata rantai makanan,” ucapnya.

Menurutnya, bagi petani di Indonesia, perang tidak selalu hadir dalam bentuk konflik bersenjata, tetapi juga melalui perampasan ruang hidup. “Tanah kita dirampas, kekayaan alam kita dirampas, laut kita dirampas, dan ruang kehidupan kita dirampas. Konversi lahan yang terjadi merupakan bentuk perang,” tegasnya.

Henry menambahkan bahwa perempuan dan anak perempuan sering kali menjadi pihak yang paling terdampak dalam situasi ketidakadilan struktural tersebut. Karena itu, ia menilai perjuangan petani perempuan harus dipandang sebagai bagian penting dari perjuangan untuk keadilan, perdamaian, dan kesejahteraan bersama. Di Indonesia sendiri, tantangan petani perempuan ialah sangat banyak dan kompleks, seperti konflik agraria, keterbatasan akses terhadap benih, hingga sistem yang tidak berpihak kepada kerja-kerja perempuan.

Sebagaimana yang dialami oleh Lena, petani perempuan SPI dari Bengkulu yang menyatakan bahwa dirinya memiliki keterbatasan dalam membeli benih dan juga menghadapi konflik agraria. “Tentang benih, kami merasa seperti mendapatkan halangan berat karena harga terlalu mahal, kadang juga mengalami kelangkaan,” ucapnya.

Berbagai upaya penguatan terus dilakukan oleh petani perempuan di wilayah Bengkulu, salah satunya melalui pendidikan. Yarni, Majelis Nasional Petani (MNP) SPI dari Bengkulu, menyampaikan bahwa mereka telah menyelenggarakan pendidikan koperasi bersama petani perempuan dari sejumlah basis.

“Kita melakukan pendidikan koperasi bersama petani perempuan. Nanti kita juga akan berbagi takjil dalam rangka memperingati Hari Perjuangan Perempuan Pekerja Internasional hari ini. Ada beberapa basis yang berkumpul bersama saya dalam kegiatan pendidikan koperasi ini,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa sebagian petani perempuan di wilayahnya sudah mulai mengembangkan unit usaha koperasi. “Beberapa sudah ada yang punya usaha kopi bubuk. Kalau di basis Mojorejo, sebagian besar petani perempuan melakukan pertanian agroekologi. Mereka sudah membuat pestisida nabati dan membuat bibit mereka sendiri,” ujarnya.

Petani perempuan dari Banten, yaitu Niti bersama rekan-rekan petnai lainnya di Banten mendapatkan sejumlah intimidasi dan terror akibat konflik dengan Perum Perhutani. “Saya berjuang soal tanah bersama teman-teman lainnya yang berkonflik dengan Perum Perhutani. Selama ini ada persoalan tanahnya yang belum jelas statusnya. Sampai saat ini, kami terus berjuang, walaupun ada intimidasi kepada setiap petani di sini,” tegasnya.

Dari Sulawesi Tengah, Jumaiya menyampaikan bahwa konflik agraria dan keterbatasan akses menjadi tantangan yang masih dihadapi petani perempuan. “Kami petani perempuan mengalami kesulitan karena keterbatasan yang kami miliki, apalagi akses terhadap kebutuhan hidup seperti pangan masih sangat terbatas,” jelasnya.

Sementara itu, petani perempuan dari Maluku Utara, yaitu Utami mengatakan bahwa hampir semua persoalan yang dihadapi oleh petani perempuan di Indonesia itu selalu menyangkut perampasan ruang hidup, termasuk di kampung halamannya di Halmahera. “Untuk saat ini situasi kami sedang menghadapi dengan perusahaan ekstraktif yang sangat massif di Halmahera Tengah, Barat, dan Timur. Isu terkait petani perempuan masih sama dengan petani lain, bagaimana perampasan ruang hidup yang masih terjadi hingga sekarang. Saat ini kami juga terus mengkonsolidasikan petani perempuan di Maluku Utara,” ujarnya.

Dari Papua Tengah, Lius menyampaikan perkembangan organisasi SPI yang masih dalam tahap awal, termasuk upaya membangun konsolidasi petani perempuan di wilayah tersebut. “Kami SPI di Papua Tengah sedang dalam proses konsolidasi petani perempuan, pemuda, dan petani lainnya. Respons petani lokal cukup baik untuk bersama memperjuangkan hak-hak petani, termasuk bagi perempuan,” jelasnya.

Menutup diskusi, Wakil Ketua Umum SPI, Ali Fahmi, menegaskan bahwa perjuangan SPI selama ini berkaitan erat dengan pemenuhan hak-hak dasar petani, termasuk hak atas tanah dan benih bagi petani perempuan. Ia merujuk pada prinsip-prinsip dalam United Nations Declaration on the Rights of Peasants and Other People Working in Rural Areas (UNDROP) yang menegaskan bahwa petani, termasuk petani perempuan, harus bebas dari berbagai bentuk diskriminasi.

Menurutnya, dalam praktik sehari-hari di kehidupan pertanian masih ditemukan berbagai bentuk ketidaksetaraan. Ia mencontohkan bahwa dalam banyak kasus, petani perempuan belum sepenuhnya terlibat dalam pengambilan keputusan penting seperti menentukan benih, harga hasil panen, hingga proses penjualan. “Padahal sejatinya petani perempuan juga memiliki hak yang sama untuk terlibat sejak tahap perencanaan produksi, menentukan benih, menentukan harga, sampai menikmati hasilnya,” ujarnya.

Ali Fahmi menilai peringatan Hari Perjuangan Perempuan Pekerja Internasional ini menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi, khususnya bagi petani perempuan. “Keterlibatan petani perempuan itu mutlak. Karena itu, organisasi harus memberikan ruang seluas-luasnya bagi petani perempuan untuk terlibat dalam berbagai proses, mulai dari rapat, pengambilan keputusan, hingga menjalankan organisasi,” ujarnya.

Melalui peringatan ini, SPI menegaskan bahwa perjuangan petani perempuan merupakan bagian penting dari perjuangan yang lebih luas untuk memperjuangkan hak atas tanah, air, benih, teritorial, dan hidup yang bermartabat. Pertukaran pengalaman dari berbagai wilayah diharapkan dapat memperkuat solidaritas serta memperluas kesadaran kolektif dalam memperjuangkan kehidupan yang adil dan bermartabat bagi petani, khususnya petani perempuan.

ARTIKEL TERKAIT
Musyawarah Petani Perempuan SPI: Menanam Perlawanan, Menuai ...
Konsolidasi SPI Kampar: Petani Tolak Penyitaan Lahan dan Ske...
SPI Mengadakan Workshop Agroekologi dan Kedaulatan Pangan Be...
SPI Tegaskan Komitmen Kedaulatan Pangan dalam Webinar Intern...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU