Aksi keprihatinan petani atas perubahan iklim global

CIMG1460KOPENHAGEN. La Via Campesina menggelar aksi keprihatinan atas perundingan perubahan iklim dengan menyalakan lilin bersama di pusat kota Kopenhagen,(10/12).  Aksi tersebut merupakan aksi pembukaan bagi delegasi La Via Campesina yang datang dari berbagai negara.

Perundingan perubahan iklim atau lebih dikenal dengan UNFCCC ini diselenggarakan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sebagai respon atas permasalahan perubahan iklim global. Perundingan dihadiri oleh sejumlah kepala negara anggota PBB ini ditengarai telah disusupi agenda neoliberal. Hal ini bisa dilihat dari upaya penyelesaian krisis iklim dengan berbagai mekanisme perdagangan seperti upaya penciptaan pasar karbon, skema REDD, agrofuel dan hal-hal lain yang berbau bisnis.

La Via Campesina sebagai organisasi gerakan petani internasional meyakini masalah perubahan iklim tidak bisa diselesaikan dengan berbagai mekanisme tersebut. Keadilan iklim harus ditegakkan untuk menjawab permasalahan krisis iklim secara menyeluruh. Rakyat dari berbagai dunia tidak boleh menyerahkan upaya penyelamatan perubahan iklim kepada kekuatan pasar di bawah rejim neoliberal.

Sebagai contoh, hingga saat ini sektor pangan dan pertanian merupakan salah satu penyumbang emisi CO2 terbesar. Sistem pertanian industrial di negara-negara maju telah mengubah cara berproduksi secara besar-besaran. Lahan-lahan monokultur yang luas dikelola oleh mesin-mesin yang menghasilkan emisi CO2 yang besar. Pupuk kimia diproduksi secara besar-besaran dari minyak bumi, yang artinya melepaskan gas rumah kaca secara besar-besaran. Selain itu akibat dari produksi pupuk kimia tersebut, sistem pertanian menjadi lebih banyak lagi melepas gas rumah kaca ke udara.

Orientasi produksi pertanian yang lebih mengutamakan ekspor telah mengubah pola konsumsi masyarakat dunia. Masyarakat di belahan bumi selatan dipaksa mengkonsumsi pangan dari belahan bumi utara dan sebaliknya. Untuk memindahkan jutaan ton bahan pangan tersebut memerlukan energi yang sangat besar yang tentunya menghasilkan emisi besar pula.

Atas dasar itu, La Via Campesina mempromosikan metode pertanian berkelanjutan berbasis keluarga petani untuk melawan sistem pertanian industrial tersebut. Dengan metode pertanian berkelanjutan tidak diperlukan lagi produksi jutaan ton pupuk dari minyak bumi, sebagai gantinya pemupukan dilakukan dengan prinsip-prinsip agroekologi dengan memperhatikan ekosistem sekitar.

Lebih jauh lagi, La Via Campesina percaya bahwa pertanian berkelanjutan tidak bisa diserahkan pada perusahaan-perusahaan agribisnis besar, karena dalam sistem kapitalisme produksi pertanian hanya dianggap sebagai angka ekonomi dan bisnis belaka. Dalam agribisnis tidak ada prespektif kebudayaan dan sosial dalam bertani. Untuk mengejar skala ekonomi, perusahaan agribisnis akan melakukan monokultur besar-besaran dan tanah-tanah pertanian akan ditabur dengan pupuk kimia dan pestisida secara besar-besaran pula.

Sebaliknya pertanian keluarga bisa melakukan budidaya pertanian secara beragam dengan produktivitas yang lebih baik dibanding industri. Petani keluarga menganggap pertanian tidak hanya bisnis tapi didalamnya terdapat nilai-nilai kebudayaan, kepercayaan, lingkungan dan kehidupan itu sendiri.

Selain itu, prinsip kedaulatan pangan harus ditegakkan agar produksi pertanian tidak lagi berorientasi ekspor. Produksi pangan dan pertanian harus ditujukan untuk pemenuhan pasar domestik terlebih dahulu. Dengan begitu tidak lagi diperlukan energi besar-besaran untuk memindahkan bahan pangan dari satu belahan dunia ke belahan dunia lainnya.

Koordinator Umum La Via Campesina, Henry Saragih, menyatakan dengan menegakkan prinsip kedaulatan pangan dan prinsip agroekologi bisa mengubah sistem produksi pertanian menjadi ramah emisi. “Pertanian berkelanjutan berbasis keluarga petani bisa membentu mendinginkan planet,” ujar Dia.

Henry juga sangat yakin produktivitas pertanian keluarga jauh lebih baik dibanding pertanian industrial skala besar. Ini dibuktikan dengan produktivitas pertanian padi di Indonesia yang sejak dulu hingga saat ini dikerjakan oleh keluarga-keluarga petani dan merupakan salah satu yang paling produktiv. Sayangnya saat ini pemerintah Indonesia akan membuka pertanian padi untuk dikerjakan perusahaan-perusahaan besar dalam proyek food estate.