Pembaruan Agraria Sebuah Keniscayaan

BUKITTINGGI. Dua ribuan petani dari berbagai penjuru dunia menghadiri puncak perayaan peringatan Hari Kelahiran (Harlah) ke-14 Serikat Petani Indonesia (SPI) di Jorong Sibaladuang, Nagari Sungai Kamuyang, Kecamatan Luhak, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (15/07).

Henry Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) menyampaikan perayaan ini untuk memastikan tanah untuk petani kecil dan penggarap.

“Tanah adalah sumber kehidupan. Oleh karena itu agar terjadi keadilan distribusi lahan pembaruan agraria adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar,” ungkapnya Henry yang juga Koordinator Umum La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional).

Henry menambahkan, dari tanah ulayat yang diperjuangkan masyarakat Nagari Sungai Kamuyang ini, SPI ingin menyampaikan kepada seluruh dunia, bahwa pembaruan agraria merupakan solusi untuk menyelesaikan berbagai krisis yang saat ini dihadapi.

Sukardi Bendang, Ketua Badan Pelaksana Wilayah (BPW) SPI Sumatera Barat mengungkapkan bahwa lokasi perayaan peringatan Harlah ke-14 kali ini cukup istimewa karena dilakukan di tanah ulayat, tanah perjuangan seluah 200 Ha milik warga dan petani Nagari Sungai Kamuyang.

“Dengan dilaksanakannya acara ini di atas tanah perjuangan, kami ingin menegaskan kembali kalau selama 14 tahun ini, SPI dibangun oleh para petani kecil dan petani penggarap yang sadar akan hak-haknya yang kemudian bersatu melawan kezhaliman. Oleh karena itu kami mengajak semua yang hadir disini untuk berjuang bersama SPI dan mendukung perjuangannya” papar Sukardi.

Sukardi juga menambahkan, di lokasi ini juga terletak sebuah pusdiklat pertanian agroekologis milik SPI yang berkontribusi besar dalam usaha pengolahan lahan perjuangan dengan sistem pertanian yang ramah lingkungan dan tanpa bergantung dengan input-input kimia.

Perwakilan petani La Via Campesina, Reinaldo Chingore dengan semangat menyampaikan dirinya mengucapkan terimakasih dengan sambutan segenap warga Sumatera Barat yang telah mendukung semua rangkaian acara SPI dan La Via Campesina di provinsi mereka, mulai dari seminar hingga workshop internasional.

“Saya juga salut dengan perjuangan SPI dalam mengorganisir petani di Indonesia. SPI tidak hanya aktif di Indonesia, tapi juga terlibat aktif dalam perjuangan petani di level internasional melalui La Via Campesina. Sejak bergabung di La Via Campesina kami sadar perjuangan memang harus diglobalkan. Sejak sekretrariat La Via Campesina berpusat di Indonesia, kami juga telah melihat banyak kemajuan progresif untuk memperjuangkan petani yang sejahtera, mandiri dan merdeka,” ungkap petani jagung asal Mozambik ini.

 

Sumatera Barat Apresiasi Perjuangan SPI, Masih Terdapat 231 Ribu Hektare Lahan Siap Garap

Sementara itu Alis Marajo, Bupati Kabupaten Lima Puluh Kota menyampaikan bahwa dia sangat mengapresiasi dan bangga dengan perjuangan para petani SPI di Nagari Sungai Kamuyang, yang masih mempertahankan tanah leluhur.

Hal senada juga diungkapkan oleh Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno. Dia cukup bangga Sumatera Barat telah dipilih menjadi tempat pertemuan petani internasional.

“Saya bangga Sumatera Barat dipilih SPI dan La Via Campesina sebagai tempat pertemuan petani internasional yang membahas tentang pembaruan agraria di abad 21 ini. Saya mendukung semangat SPI dan La Via Campesina yang ingin menjadikan petani mandiri, sejahtera dan merdeka,” katanya pada saat menyampaikan kata sambutan di acara ini.

Dia juga menyampaikan komitmennya mendukung kesejahteraan petani. 60 persen masyarakat provinsi ini adalah petani, PDRD terbesar juga dari sektor pertanian.

“Karena itu, kami serius membantu peningkatan kesejahteraan petani. Sebanyak 6% dari total APBD Sumbar diperuntukkan bagi sektor pertanian, ini terbesar di Indonesia. Saat ini juga terdapat 231 ribu Ha lahan kosong yang masih bisa digarap petani,” katanya.

Sedangkan terhadap pembaruan agraria dan redistribrusi lahan kepada petani yang menjadi salah satu perjuangan SPI, Gubernur menegaskan komitmenya. Bahkan, katanya, dia sudah menandatangani Peraturan Gubernur yang menegaskan Hak Guna Usaha (HGU) tanah yang sudah habis masa berlakunya dikembalikan kepada pemilik tanah ulayat.

HS Dillon, Utusan Presiden untuk Penanggulangan Kemiskinan yang turut hadir dalam kesempatan tersebut menyampaikan komitmen pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono terhadap pembaruan agraria.

“Presiden menyatakan dukungan peningkatan produktivitas pertanian melalui pembaruan agraria,” katanya.

Dillon juga mengapresiasi perjuangan SPI dalam memperjuangkan kesejahteraan petani.

“Cara-cara pertanian berkelanjutan – yang diperjuangkan SPI – untuk pertanian berkesinambungan merupakan upaya mewujudkan cita-cita trisakti para pendiri bangsa Indonesia, yakni berdaulat secara politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan,” tambahnya.

Acara ini juga ditandai dengan penandatanganan MoU antara SPI dan pihak pemerintah yang diwakili oleh HS Dillon, yang diikuti dengan penanaman pohon di atas lahan perjuangan mulai dari Utusan Khusus Presiden, Gubernur Sumatera Barat, Kakanwil BPN Sumatera Barat, Bupati Lima Puluh Kota, dan yang mewakili SPI sendiri.

Sementara itu, dalam acara ini juga diberikan penghargaan kepada empat orang petani perempuan SPI yang telah berjasa dan berkontribusi memperjuangkan hak-hak kaumnya.

Acara puncak peringatan perayaan Harlah ke-14 SPI ini juga dihadiri oleh perwakilan Badan Pertanahan Nasional (BPN), perwakilan organisasi masyarakat dan LSM pendukung pembaruan pembaruan agraria, petani anggota SPI dari berbagai provinisi di Indonesia, hingga masyarakat dan petani lokal.

ARTIKEL TERKAIT
BPW SPI Sumut menggelar diskusi pembaruan agraria
Perjuangan petani sembalun membangun kemandirian
Nilai Tukar Petani (NTP) Juli 2017 Naik, Namun Kemiskinan M...
Petani Kecil Memberi Makan Dunia, Industri Agrofuel Ciptakan Kelaparan dan Kemiskinan Petani Kecil Memberi Makan Dunia, Industri Agrofuel Ciptakan...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU