Aksi Pemuda Tani SPI Menentang Kekerasan Terhadap Petani

JAKARTA. Puluhan pemuda tani dari Serikat Petani Indonesia (SPI) berunjuk rasa di bundaran Hotel Indonesia hari ini, Jumat (26/11), menentang kekerasan terhadap petani oleh aparat keamanan dan pihak korporasi yang sering terjadi di berbagai pelosok tanah air.

Pemuda tani yang berjumlah sekitar 50 orang mulai berunjuk rasa sekitar pukul 07.30 WIB dengan membentangkan spanduk dan beberapa poster yang berisi berbagai sikap penentangan kekerasan terhadap petani.

Selain berorasi, unjuk rasa yang digelar selama dua jam lebih itu juga menampilkan aksi teatrikal oleh empat pemuda tani dengan mewarnai sekujur tubuhnya dengan cat putih.

Menurut Alfan Manah Fortunatus, Koordinator Aksi, aksi teatrikal tersebut mengilustrasikan nasib para petani yang masih selalu mengalami penindasan akibat ketidakberpihakan pemerintah terhadap kaum tani.

Alfan, yang juga Ketua Biro Pendidikan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) SPI Nusa Tenggara Timur (NTT)  itu menyebutkan, SPI mencatat sekurangnya 260 petani telah menjadi korban kekerasan dan penangkapan dari 37 kasus konflik agraria besar dalam rentang tahun 2001-2007.

Sementara data dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), lanjutnya, terdapat 2.810 kasus skala besar dimana dari kasus-kasus tersebut 40 orang petani dipastikan hilang, 76 orang ditangkap, 7.034 orang luka-luka dan mengungsi serta 11 lainnya tewas.

“Konflik terbesar terjadi di wilayah perkebunan, kehutanan produksi, bendungan atau pengairan, pertambangan, sarana militer, kehutanan konservasi atau hutan lindung, pertambakan, perairan dan transmigrasi,” jelas Alfan.

Karena itu, SPI mendesak agar pemerintah pusat segera melaksanakan reforma agraria sejati sebagai satu-satunya solusi guna menekan tindak kekerasan yang masih dialami oleh kaum tani di Indonesia sampai saat ini.

Misalnya dengan secepatnya meredistribusikan 9,6 juta hektar lahan pertanian kepada para petani sesuai dengan janji pemerintahan SBY-Beodiono serta memproteksi lahan dan hasil-hasil komoditas para petani.

Alfan juga menyerukan kepada ratusan ribu pemuda tani SPI yang tersebar di 11 provinsi di Indonesia untuk merapatkan barisan guna mengawal perjuangan hak-hak petani, khususnya di wilayah-wilayah konflik agraria.

Sementara itu, Agus Ruli Ardiansyah, Ketua Departemen Politik, Hukum dan Keamanan Dewan Pelaksana Pusat (DPP) SPI mengatakan hingga kini pemerintah belum melaksanakan pembaruan agraria sejati.

“Kebijakan-kebijakan pertanian belum menghormati, melindungi dan memenuhi hak asasi rakyatnya berupa hak atas tanah dan sumber-sumber agraria lainnya,” ujar Ruli.

Karena itu, para pemuda tani SPI, yang berasal dari berbagai daerah itu, berinisiatif berunjuk rasa di Jakarta sebagai aksi awal atas mandegnya reforma agraria yang dilakukan oleh pemerintah.

Selain menentang tindakan kekerasan yang masih sering dilakukan oleh aparat keamanan dan pihak korporasi kepada kaum tani, para pemuda tani SPI  juga melayangkan sejumlah tuntutan lainnya.

Antara lain mereka mendesak agar pemerintah melakukan pembaruan agraria sejati yang difokuskan pada redistribusi sumber agraria, terutama tanah, air dan benih kepada buruh tani dan perkebunan, petani kecil, komunitas lokal dan kaum perempuan.

Lalu mendesak segera dilakukan upaya untuk mendudukkan petani serta masyarakat lokal sebagai pengelola kekayaan alam setempat dengan menjunjung tinggi kedaulatan dan kemandirian petani.

Kemudian mendesak segera dilakukannya pembangunan perekonomian pedesaan melalui sistem koperasi yang berbasiskan kekayaan lokal dan memaksimalkan peran aktif masyarakat pedesaan.

Menuntut pemerintah menyediakan program-program pelayanan yang mendukung produksi untuk kepentingan domestik dan aktivitas pasca panen termasuk jaminan harga dengan memberikan subsidi yang layak untuk menjamin martabat hidup petani.

Menuntut pembangunan infrastruktur sebagai penunjang dalam mempercepat perbaikan kondisi sosial, ekonomi dan politik pedesaan seperti jalan-jalan utama, listrik, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, irigasi dan air bersih.

Serta mengutuk tindakan kekerasan terhadap Petani di Bengkulu, Jambi, Rengas, NTB oleh aparat yang mengatasnamakan negara.

Aksi unjuk rasa itu sendiri diikuti oleh para pemuda tani SPI yang berasal dari Sumut, Sumsel, Sumbar, Jambi, Lampung, Riau, Cirebon, Banten, Yogyakarta, Jateng, Jatim, NTB dan NTT.

Unjuk rasa ini merupakan agenda terakhir yang dilaksanakan dalam kegiatan Kemah Pemuda Tani Nasional SPI dan Youth La Via Campesina (organisasi petani dunia) se-Asia Tenggara di Situ Gunung, Sukabumi, lima hari sebelumnya.

Adapun kegiatan ini digelar untuk mengkonsolidasikan gerakan pemuda tani SPI dan telah menghasilkan ikrar pemuda tani sebagai ikatan perjuangan bersama.

Ada 1 komentar

  1. lukito berkata:

    kami relawan jokowi4p alamat ds bandung sari rt 01 rw kosong 04 tambangan mijen kota semarang pos 50215 hp081225143587 kami tan garapan hutan jati dan musiman untuk memudah petani kami membuat garapan gimana