Dialog Media: WEF Tidak Pro Rakyat

JAKARTA. Pertemuan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum-WEF) Asia Timur yang diselenggarakan di Jakarta pada 12-13 Juni 2011 tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Setidaknya hal inilah yang menjadi pokok pembicaraan utama dalam Dialog Media: “World Economic Forum (WEF), Penyelesaian Krisis Melalui Kolonialisme Baru” yang diselenggarakan di Jakarta, siang tadi (12 Juni 2011).

Diskusi ini menghadirkan Henry Saragih (Ketua Umum Serikat Petani Indonesia-SPI), Revrisond Baswir dan Ichsanuddin Noorsy (Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia-AEPI), dan Berry Nahdian Furqan (Wahana Lingkungan Hidup-WALHI) sebagai narasumbernya, dan Dani Setiawan (Koalisi Anti Utang-KAU) sebagai moderator.

Henry Saragih memaparkan bahwa sejak mati surinya rezim organisasi perdagangan Dunia (World Trade Organization-WTO), pelaku-pelaku neoliberal berupaya menghidupkannya kembali dengan menggunakan gaya baru seperti Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement-FTA) antar negara ataupun antar kawasan.

“FTA ini berkilah akan mampu mengentaskan kemiskinan, namun nyatanya angka kemiskinan makin tinggi dan 70 persen kemiskinan itu berada di wilayah Asia tempat pelaksanaan WEF kali ini,” papar Henry yang juga Koordinator Umum La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional).

Henry juga mengungkapkan bahwa FTA telah menyebabkan ketidakdilan bagi seluruh petani di dunia. Henry mencontohkan petani gula Indonesia yang sengsara akibat impor gula dari India yang didominasi oleh korporasi yang menguasai perkebunan tebu disana. Sebaliknya petani sawit India juga “terzholimi” akibat mengimpor sawit dari Indonesia yang juga didominasi oleh korporasi besar disini.

“Pemerintah semakin salah langkah dengan menyerahkan pengelolaan pertanian kepada pihak swasta, kebijakan pemerintah menyewa lahan petani untuk ditanami padi melalui konsorsium BUMN adalah salah satu contohnya,” tegas Henry.

Sementara itu, Revrisond Baswir mengungkapkan bahwa pada Forum WEF Asia Timur ini berkumpul aktor-aktor, baik negara, lembaga internasional, pelaku usaha atau apapun itu yang bekerja untuk kepentingan korporasi dan saat ini kelompok tersebut sedang  berusaha mengusung konsep baru neoglobalisasi. Neoglobalisasi adalah suatu bentuk baru imperialisme.

“Dulu mereka muncul dengan konsep globalisasi, sekarang pertanyaannnya adalah apakah globalisasi telah selesai sehingga perlu dipoles,” ungkap pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada ini.

Revrisond juga menegaskan bahwa globalisasi tidak lebih dari topeng dari kapitalisme dunia. Dia menilai keperluan untuk memoles globalisasi muncul karena dunia baru menyadari jika biaya yang harus dibayar untuk globalisasi sangat mahal dan dampak negatif itu tidak hanya dialami oleh negara-negara dunia ketiga namun juga negara maju.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ichsanuddin Noorsy. Dia menggarisbawahi bahwa saat Indonesia menjadi medan peperangan ekonomi antara korporasi besar dunia, korporasi China melawan korporasi Amerika Serikat dan Uni Eropa. Akibatnya ekonomi Indonesia menjadi berantakan.

“Ibaratnya ada dua keluarga yang berkelahi di rumah kita, rumah kita pasti berantakan tidak karuan,” kata ekonom kerakyatan ini.

Sementara itu, Berry Nahdian Furqan menilai bahwa WEF adalah akal-akalan untuk menghidupkan kembali WTO yang telah mati suri. Berry berpendapat bahwa solusi yang ditawarkan WEF tidak mampu merekonstruksi tatanan ekonomi dunia yang telah rusak akibat neoliberalisme, dan hanya menawarkan solusi-solusi semu. Dia mencontohkan kebijakan karbon offset yang tidak lain adalah bencana ekologis bagi masyarakat dunia dan Indonesia, khususnya.

“Karbon offset yang dikenal dengan istilah REDD (Reducing Emission from Deforestation and Degradation) ini memberikan kesempatan kepada penjahat lingkungan untuk “mencuci tangan” dengan cara menanam pohon di suatu tempat, namun di tempat lainnya dia malah menghancurkan lingkungan,” papar Berry.

Diskusi ini juga mengimbau agar komunitas masyarakat sipil Indonesia menolak pertemuan dengan Diren Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Pascal Lamy di sela-sela WEF Asia Timur.