DPC SPI Padang Lawas produksi pupuk bokhasi

PADANG LAWAS. Niatan untuk memproduksi dan memasarkan pupuk bokhasi sudah sejak lama ada di benak para pengurus Badan Pengurus Cabang (BPC) Serikat Petani Indonesia (SPI) Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara. Akhir Desember 2009 lalu, pupuk bokhasi ini rampung diselesaikan dan sudah mulai dipasarkan kepada petani-petani anggota SPI yang ada di Kabupaten Padang Lawas dan kalangan umum.

Pupuk bokhasi yang mengandung unsur NPK ini tersedia dalam bentuk cair dan bubuk. “Pupuk ini sangat baik digunakan untuk mengembalikan kesuburan tanah yang sudah terkontaminasi dengan pupuk-pupuk kimia. Selain itu juga dapat menyuburkan tanaman” ungkap Rahmat P. Harahap, Kepala Divisi Koperasi Petani Dewan Pengurus Cabang (DPC) SPI Padang Lawas.

Tujuan utama dari pembuatan dan pemasaran pupuk bokhasi ini adalah untuk menghilangkan ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang selama ini digunakan petani. Selain harga yang mahal, pupuk kimia juga dapat menghilangkan unsur-unsur hara dalam tanah yang berujung kepada berkurangnya kesuburan tanah. “Penjualan pupuk bokhasi ini juga sebagai ajang kampanye organisasi dalam hal ini DPC SPI Padang Lawas kepada masyarakat yang ada di kabupaten ini untuk meninggalkan pupuk kimia” papar Deddy WA Lubis, Ketua DPC SPI Padang Lawas.

Saat ini pupuk bokhasi ini dipasarkan dengan harga seribu rupiah per kilogram dan tersedia dalam kemasan karung berukuran 40 kg. Selama ini sistem pemasaran yang diterapkan berupa pemasaran langsung ke konsumen namun tidak menutup diri bila ada pemesanan.Untuk pemesanan dapat langsung menghubungi Rahmat P Harahap, Ketua Divisi Koperasi Petani DPC SPI Padang Lawas di nomor 081375911034.

ARTIKEL TERKAIT
HUT SPI: Petani harus berinisiatif mendorong pembaruan agraria HUT SPI: Petani harus berinisiatif mendorong pembaruan agrar...
Mendesak, Pembentukan Lembaga Otoritas Pangan yang Kuat
Pertanian organik di lahan kritis solusi perubahan iklim Pertanian organik di lahan kritis solusi perubahan iklim
Gejolak Harga Pangan Pengaruhi Nilai Tukar Petani (NTP): Pe...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU