Henry Saragih buka Klimaforum 2009 di Kopenhagen

Henry Saragih, Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) dan Koordinator Umum La Via Campesina (Organisasi Petani Internasional) membuka Klimaforum 2009 yang diadakan pada 7-18 Desember ini. Klimaforum 2009 merupakan pertemuan global dari masyarakat dan gerakan-gerakan sosial di seluruh dunia yang membahas solusi perubahan iklim di dunia.

Pertemuan di Klimaforum ini cukup merepresentasikan aspirasi masyarakat dunia tanpa ada unsur politis apa pun, dengan satu tujuan yakni membuat bumi lebih hijau. Peserta Klimaforum berasal dari lebih 100 negara di seluruh dunia dengan pengunjung lebih dari 10.000 orang setiap harinya. Klimaforum 2009 ini dilaksanakan di DGI-Byen, sebuah kompleks bangunan besar di tengah kota Kopenhagen yang berjarak hanya 50 meter dari stasiun pusat.

Perubahan iklim telah menyebabkan banjir dan kekeringan diakibatkan cuaca yang tidak menentu sehingga petani kesulitan untuk mengelola dan memprediksi cuaca untuk mereka bercocok tanam.

Dalam pidato pembukaannya, Henry menekankan sektor pertanian yang diklaim sebagai salah satu penyumbang emisi tertinggi berasal dari industri pertanian dan agribisnis. Data menunjukkan aktivitas pertanian menyumbang 11 sampai 15 persen terhadap emisi; pembukaan lahan dan deforestasi menyumbang 15 hingga 18 persen; proses produksi pangan, pengepakan, dan distribusi pangan menyumbang 15 hingga 20 persen; dan proses dekomposisi dari limbah organik menyumbang 15 hingga 18 persen.

Pertanyaan yang harus segera dijawab adalah bagaimana bisa kita menghapus kemiskinan di dunia dan memberikan kepastian yang hidup lebih baik bagi petani ketika sektor pertanian memberikan kontribusi besar dari total emisi di dunia ini. Tingginya tingkat emisi pertanian ini sebenarnya merupakan kontribusi dari model pertanian industri dan agribisnis, karena model pertanian seperti ini cenderung melakukan deforestasi dan pengkonversian hutan alami menjadi perkebunan monokultur yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar.

Di saat yang sama, liberalisasi perdagangan pertanian semakin dipromosikan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dan perjanjian perdagangan bebas (FTA) oleh negara-negara maju. Hal inilah yang berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca akibat proses produksi dan transportasi pangan di seluruh dunia.

“Oleh karena itu, kami memberikan solusi dengan mewujudkan pertanian berkelanjutan yang berbasis keluarga, karena industri pertanian justru “membunuh” petani kecil di di dunia. Jutaan petani dikriminalisasi dan diusir dari lahannya, tak berlahannya petani-petani ini menyebabkan lebih dari satu milyar manusia kelaparan, bahkan karena perdagangan bebas banyak petani kecil yang bunuh diri di Asia Selatan” ungkap Henry.

Lebih lanjut Henry menyatakan pada COP 13 di Bali 2007 yang lalu, La Via Campesina telah menawarkan solusi bagi petani yang tak berlahan dan petani kecil terhadap perubahan iklim. Solusi ini adalah apa yang disebut dengan “Pertanian Skala Kecil Berkelanjutan Dapat Mendinginkan Bumi”. Pada COP 15 di Kopenhagen ini, La Via Campesina juga kembali memberikan solusi yang mampu mengurangi lebih dari setengah dampak emisi gas rumah kaca.

Solusi tersebut adalah pertama dengan pemulihan bahan organik di dalam tanah yang mampu mengurangi emisi dari 20 hingga 35 persen. Kedua adalah dengan membalikkan konsentrasi produksi di peternakan hewan dan mengintegrasikan ulang bersama produksi tanaman dan ternak akan mengurangi emisi dari lima hingga sembilan persen. Ketiga adalah dengan menempatkan pasar lokal dan bahan pangan segar sebagai pusat sistem pangan akan mengurangi emisi dari 10 hingga 12 persen. Dan yang keempat adalah menghentikan pembukaan lahan dan deforestasi akan mengurangi emisi dari 15 hingga 18 persen.

“Namun intinya adalah menjauhkan pertanian dari perusahaan agribisnis besar dan mengembalikan pertanian ke tangan para petani kecil, sehingga kita mampu mengurangi lebih dari setengah emisi global dan efek rumah kaca. Inilah yang kami tawarkan dan ini jugalah yang kami sebut dengan Kedaulatan Pangan” tegas Henry Saragih.

“Oleh karena itu, untuk mencapai itu semua, kita membutuhkan gerakan sosial untuk terus berjuang dan bekerjasama  untuk mengakhiri solusi palsu seperti REDD yang saat ini terus digaungkan dalam perundingan oleh negara-negara maju yang disponsori oleh perusahaan-perusahaaan transnasional. Ini adalah keharusan, sebagai gerakan sosial kita harus membawa agenda kita ini ke meja perundingan, karena kita (baca:petani dan rakyat kecil) adalah korban dari perubahan iklim, Jadi keadilan mengenai iklim ini berada di tangan kita sendiri” tambahnya.

Selain Henry, Klimaforum 2009 ini juga dibuka oleh Nnimmo Bassey (Friends of The Earth Internasional) dan Naomi Klein ( Journalist and Author No Logo).

ARTIKEL TERKAIT
Pemerintah SBY-JK gagal melaksanakan pembaruan agraria Pemerintah SBY-JK gagal melaksanakan pembaruan agraria
Upaya Menanggulangi Krisis Pangan
69 Tahun Merdeka, Indonesia Belum Berdaulat Pangan 69 Tahun Merdeka, Indonesia Belum Berdaulat Pangan
Rangkaian Globay Day Action WSF 2008 Rangkaian Globay Day Action WSF 2008
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU