Henry Saragih: Green Economy Bermuka Dua

JAKARTA. “Sistem Green Economy yang saat ini banyak dianut oleh perusahaan-perusahaan swasta besar bermuka dua”. Hal ini diutarakan oleh Henry Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) dalam┬áSerial Pendidikan Publik tentang Spekulasi Pangan dan G 20, di Gedung YTKI, Jakarta, pagi tadi (24/10).

Henry menjelaskan bahwa sistem green economy ini mulai berusaha dipromosikan oleh perusahaan-perusahaan besar semenjak krisis pangan dan krisis iklim dunia semakin parah. Dengan sistem ini, perusahaan-perusahaan besar seolah-olah ikut berkontribusi dalam mengatasi krisis pangan ataupun krisis iklim seperti melakukan program CSR (Corporate Social Responsibility) ke daerah-daerah. Namun pada prakteknya, perusahaan-perusahaan ini pulalah yang merusak alam dan menyebabkan krisis pangan semakin akut.

“Krisis pangan yang saat ini terjadi sebenarnya adalah ulah spekulan dan perusahaan pangan raksasa yang memonopoli perdagangan pangan. Hal ini dibuktikan dengan masuknya pangan dalam perdagangan di bursa efek. Sedangkan dengan perubahan iklim dunia saat ini, mengakibatkan timbulnya skema perdagangan baru yakni perdagangan karbon, yang mengakibatkan banyak hutan yang tadinya milik negara, diprivatisasi oleh perusahaan-perusahaan besar, sehingga terjadilah “perdagangan” atas dalih penyelamatan alam,” tutur Henry.

Henry juga mengingatkan bahwa sistem green economy ini juga telah banyak menghasilkan solusi-solusi palsu. Saat ini cukup banyak perusahaan-perusahaan besar multinasional (Trans National Companies-TNC’s) yang membentuk dan mendanai LSM-LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang seolah-olah pro terhadap kebijakan rakyat kecil seperti petani dan nelayan, tapi justru malah melemahkan perjuangan dan melegitimasi kepentingan perusahaan-perusahaan tersebut.

“Saat ini juga sudah ada organisasi-organisasi tani tandingan ataupun LSM yang sering diorganisir oleh para preman demi kepentingan TNC’s yang seolah-olah seperjuangan dengan kita (baca: SPI), tapi nyatanya malah berjuang demi keuntungan para pemodal,” ungkap Henry yang juga Koordinator Umum La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional).

Acara ini sendiri diselenggarakan bersama oleh Serikat Petani Indonesia dan Koalisi Anti Utang (KAU) dan dihadiri oleh puluhan peserta.


 

ARTIKEL TERKAIT
Perberasan Tidak Boleh Dibuka Kepada Korporasi
Serentak di Tiga Kabupaten, Ribuan Petani SPI NTT Gelar Aksi...
Kolektifitas dalam mengelola pertanian berkelanjutan
2017: Darurat Agraria, Kedaulatan Pangan Terabaikan, Kemiski...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU