Henry Saragih: Tindakan Petani di Ogan Ilir Itu Mulia

JAKARTA. Terkait dengan kriminalisasi petani yang sedang merayakan Maulid Nabi di Ogan Ilir  Sumatera Selatan beberapa hari lalu, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih dengan tegas mengatakan, tindakan pemukulan dan penangkapan oleh aparat polisi atas protes dan perjuangan petani untuk mendapatkan lahannya kembali merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan dan bertentangan dengan amanat konstitusi serta program pemerintah terkait pembaruan agraria (Program Pembaruan Agraria Nasional-PPAN).

“Seharusnya aparat bisa belajar dari banyak pengalaman pahit konflik agraria seperti di Mesuji, OKI-Sumatera Selatan (Sumsel), Sei Bahar Jambi, Bima NTB, Manggarai NTT, Bulukumba Sulawesi dan lainnya,” ungkap Henry di Yin Lan, Taiwan tadi siang (30/01).

Henry juga menyampaikan, dalam mengatasi konflik agraria atau pertanahan, sudah seharusnya polisi bersikap mendukung usaha-usaha petani agar bisa menggarap lahannya kembali. Selain lahan-lahan bisa subur kembali, lingkungan yang selama ini rusak oleh perkebunan tebu PTPN VII bisa kembali pulih, sungai-sungai dinormalisasi oleh petani. Kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat yang selama ini tertindas secara psikologis, fisik dan ekonomi juga akan berangsur baik.

“Anak-anak kita tak perlu ke kota atau ke daerah lain untuk mencari makan, kita bisa tanam hutan karet, ubi kayu, nanas, padi dan ketela rambat di lahan yang ada. Jadi apa yang dilakukan oleh petani yang tergabung di Serikat Petani Indonesa (SPI) di Betung, Ogan Ilir dan Serikat Petani Sriwijaya adalah tindakan mulia dan sejalan dengan amanah konstitusi dan instruksi Presiden RI,” papar Henry yang juga Koordinator Umum La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional).

Sementara itu terkait aksi “brutal” lanjutan oleh oknum aparat terhadap massa saat melakukan aksi bersama oleh SPI Sumatera Selatan (Sumsel) bersama WALHI Sumsel, Serikat Petani Sriwijaya (SPS), Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sumsel dan lainnya di Mapolda Sumsel di Palembang, kemarin (29/01), Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) SPI Sumsel Rohman Alqolami menyampaikan tindakan oknum aparat tersebut sudah di luar batas kewajaran.

“Aksi kami ke Mapolda Sumsel ini untuk menuntut keadilan akibat kriminalisasi oknum aparat kepada kami (baca:petani) pada saat sedang melaksanakan Maulid Nabi yang mengakibatkan teman-teman kami terluka dan ditangkap, belum lagi lahan dan pondok kami yang dihancurkan. Kami melakukan aksi ini juga dengan damai, namun mengapa oknum aparat justru kembali bertindak arogan. Kami ini seharusnya dilindungi, bukan dipukuli,” ungkap Rohman.

Akibat tindakan agresif oknum aparat kepada massa aksi ini, Anwar Sadat, Direktur Eksekutif WALHI Sumsel mengalami luka pecah di bagian kepala. Oknum aparat juga setidaknya menangkap 25 petani dan aktivis lainnya.

“Oleh karena itu kami meminta agar para petani dan aktivis lainnya yang saat ini masih ditangkap untuk segera dibebaskan, dan pengusutan tuntas atas kriminalisasi yang diterima petani Ogan Ilir saat melaksanakan Maulid beberapa hari lalu. Kami juga meminta agar pihak kepolisian menghentikan pendekatan penyelesaian konflik agraria dengan cara kekerasan karena hanya mengkorbankan rakyat (baca: petani) kecil,” tambah Rohman.

ARTIKEL TERKAIT
Kunjungan Petani Perempuan ke Pusdiklat dan Pusat Perbenihan Kunjungan Petani Perempuan ke Pusdiklat dan Pusat Perbenihan
Jawa Tengah Menggelar Petisi Kedaulatan Pangan Rakyat Indone...
Koperasi Kijang Mas: dari petani, oleh petani, untuk petani Koperasi Kijang Mas: dari petani, oleh petani, untuk petani
Konferensi Pers Rio Dewanto Rio Dewanto : "Saya Akan Kawal Penuh Penyelesaian Konflik Ag...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU