Isu Petani Relevan untuk Konferensi Asia Afrika

Henry Saragih_di_Konferensi_Rakyat_Asia_Afrika

JAKARTA. Peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) akan berlangsung di Jakarta-Bandung minggu ini (19-24 April). Momen bersejarah ini akan membahas solidaritas negara-negara Asia Afrika, yang historisnya melawan penjajahan.

Momen ini pun dirayakan oleh kaum tani di Indonesia. Serikat Petani Indonesia (SPI) bersama puluhan organisasi rakyat dan LSM yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Sipil untuk Kerjasama Selatan-Selatan menggelar Konferensi Rakyat Asia Afrika (KRAA). Perhelatan ini diadakan di Galeri Nasional, Jakarta Pusat pada Sabtu (18/4).

“(Konferensi) Ini untuk membahas reaktualisasi KAA untuk situasi terkini,” ujar Henry Saragih, Ketua Umum SPI, saat memberi sambutannya tadi pagi.

“Kita juga ingin merumuskan visi rakyat untuk peringatan ke-60 KAA,” ujar dia lagi. SPI memang tercatat aktif terkait tema KAA ini, terutama sejak tahun 2005 lalu,” tuturnya lagi.

“Ya, kita berusaha agar isu-isu rakyat Asia Afrika yang kekinian bisa dibicarakan di forum antarnegara tersebut. KAA selain progresif, juga mewakili populasi rakyat yang progresif sekaligus kompleks. Perjuangan petani, buruh dan hak asasi di kawasan ini sangat masif,” tukas Henry di pidato pembukaan.

Muhammad Reza, ketua panitia KRRA menyampaikan, peringatan KAA ke-60 jangan sepenuhnya mengglorifikasi masa lalu.

Sementara itu, Makmur Keliat, akademisi dari Universitas Indonesia menyatakan agar KAA mulai melihat agenda-agenda yang praktis dan fungsional.

“Agar bisa terasa, dan dilakukan. Untuk rakyat, tentu hal-hal yang berguna. Solidaritas, misalnya,” kata dia.

Lebih jauh lagi, ia melihat ada potensi kerja sama kerakyatan yang bisa ditindaklanjuti di KAA.

“Petani, buruh, harus melihat celah tersebut. Ada tempat (space) yang harus disediakan negara untuk isu-isu petani dan buruh. Rakyat harus berusaha menjembatani isu tersebut: mulai dari nasional dulu. Lalu hubungkan dengan yang benar-benar dibutuhkan rakyat Asia Afrika,” pungkas dia.

konferensi_rakyat_asia_afrika

Sementara itu di Dewan HAM PBB, inisiatif deklarasi hak asasi petani telah memasuki tahap negosiasi selanjutnya.

“Inilah contoh konkret solidaritas rakyat dan negara Asia Afrika. Bersama Amerika Latin kita menggolkan agenda hak asasi petani agar jadi undang-undang di tingkat global,” ujar Henry lagi.

“Kita juga mafhum bahwa masih banyak masalah petani dan masyarakat pedesaan di kawasan ini. Nah, inilah yang harus dibahas lebih lanjut. Jumlah petani kecil di Asia Afrika ini juga signifikan. Juga termasuk rentan sekali akan kelaparan,” tutup Henry.

Visi rakyat inilah yang akan dikemas dalam dokumen hasil Konferensi Rakyat Asia Afrika. Isu-isu petani seperti hak atas tanah, perjuangan melawan kelaparan, hak atas pangan, serta solidaritas petani dan gerakan rakyat lain di Asia Afrika akan menjadi masukan substansial. Dokumen hasil Konferensi Rakyat Asia Afrika ini rencananya akan diberikan langsung ke Luhut Panjaitan, Kepala Staf Kepresidenan sekaligus panitia Peringatan 60 Tahun KAA.

Solidaritas KAA tak harus melulu dalam perspektif negara dengan negara, namun dapat langsung rakyat dengan rakyat–atau rakyat, pemerintah dan negara. Partisipasi langsung rakyat pun dimungkinkan dalam dinamika global saat ini.

Dari sini, petani mengharapkan agar rakyat, pemerintah serta semangat KAA semakin dekat. Di sinilah petani menjadi sangat relevan untuk berkontribusi langsung

Ada 2 komentar

  1. jumain berkata:

    Ingin gabung di SPI apa persyaratannya?